Yuk Contek Strategi Snack Taro Sampai Bisa Laris di Pasaran!

Dalam dunia bisnis makanan ringan, kamu tentu familiar dong sama snack bernama Taro? Merek ini berada di bawah PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPS Food).

Sayangnya, dua tahun terakhir perusahaan ini performanya buruk. Mereka lagi berupaya keras buat bayar utang. Juli lalu dikabarkan kalau mereka gak mampu membayar bunga obligasi dan sukuk. Kas perusahaan itu juga kabarnya belum stabil.

Belum lagi kesialan anak perusahaan mereka PT Indo Beras Unggul yang sempat dituding melakukan pengoplosan beras subsidi. Hal itu tentu aja berimbas pada bisnis perusahaan induk.

Kendati demikian, perusahaan ini sempat bersinar pada 2016 lalu. Pendapatan yang mereka cetak di tahun itu mencapai Rp 6,88 triliun. Rp 2,6 triliunnya berasal dari makanan. Ya, apalagi kalau bukan dari Taro, Bihunku, dan Mie Kremes.

Walaupun sekarang terpuruk, tapi keberhasilan mereka pada masa lalu tentu bisa dijadikan pelajaran.

Penasaran dengan cara TPS Food mengembangkan bisnis makanan ringan ini? Berikut ulasannya.

1. Taro diakuisisi TPS Food dari Unilever

Asal kamu tahu, snack taro sebetulnya bukan merupakan produk asli dari TPS Food. TPS Food mengakuisisi merek itu dengan nilai Rp 240 miliar dari PT Unilever Indonesia. Akuisisi itu gak cuma merek doang lho, melainkan juga semua fasilitas hingga alat-alat produksi snack.  

Bos TPS Food, Joko Mogoginta, pernah mengatakan bahwa Taro langsung jadi produk andalan mereka di segmen camilan. Nama Taro emang lagi kuat-kuatnya pada saat itu.

Gak cuma jadi yang paling terkenal, snack itu juga jadi produk ekspor andalan TPS Food. Pada kuartal pertama 2015, penjualan Taro bisa tumbuh dua digit. Padahal saat itu sektor consumer goods lagi loyo-loyonya.

Sedangkan di tahun 2014, omzet snack Taro per bulan juga dikabarkan mencapai Rp 38 miliar.

Intinya, Taro emang benar-benar makanan ringan yang menjanjikan. Gak rugi deh waktu itu TPS Food mengakuisisinya.

2. Kapasitas produksi dinaikkan

Buat bikin Taro semakin laris, TPS Food juga melakukan peningkatan kapasitas produksi.

Cara TPS Food menggenjot produksi juga gak tanggung-tanggung lho. Mereka rela mengeluarkan biaya ratusan miliar Rupiah buat memperluas pabrik dan menambah mesin baru. TPS Food juga dikabarkan sempat membidik pasar luar negeri, lebih tepatnya Malaysia dan China pada saat itu.

Bayangin aja, kalau brand ini bisa diproduksi di pabrik luar negeri, tentu cuan yang mereka dapat bisa makin besar.

3. Memperluas jaringan ritel

Demi bikin bisnis makanan ringan yang bisa merajai Indonesia, TPS Food gak pernah lupa buat memperluas jaringan bisnis dengan menjalin kerja sama dengan Alfamart dan Indomaret.

Bayangin aja, outlet Indomaret atau Alfamart kan banyak banget tuh. Apalagi outlet-outlet mereka juga diwaralabakan. Penyebaran snack Taro pun jadi makin luas tentunya.

Bukan cuma penyebarannya yang jadi luas, merek snack itu tentu jadi makin ngetop karena setiap kali orang belanja di Alfamart atau Indomaret, mereka pasti melihatnya. Ibaratnya, Taro bakal terus nempel di kepala orang-orang.

4. Pasang iklan di televisi

Namanya juga bisnis consumer goods. Tentu aja iklan jadi faktor yang penting banget dalam strategi pemasaran.

Pada tahun 2013, Kompas memberitakan kalau bujet iklan TPS Food mencapai Rp 100 miliar. Dengan uang sebanyak itu pasti gak sedikit slot iklan yang dibeli. Bisa jadi anggarannya juga meningkat di tahun-tahun berikutnya.

5. Taro Rangers

Mengingat pangsa pasar produk ini adalah anak-anak, maka TPS Food menggelar sebuah program kampanye brand activation yang juga ditargetkan ke anak-anak. Kampanye itu bernama Gerakan Anak Tangguh Indonesia.

Gak tanggung-tanggung, program ini diadakan secara on air dan off air juga. Pasti bujetnya juga miliaran Rupiah.

Dalam program yang disiarkan di televisi ini, anak-anak yang berpartisipasi akan diminta berkompetisi di arena yang penuh dengan halang rintang. Mereka juga mengikuti kegiatan kemping dan outbond. Jika udah lulus, mereka bakal dapat penghargaan.

Kabarnya, buat mensukseskan program ini Taro harus mencari 90 ribu anak dengan cara blusukan ke 900 sekolah. Program itu bernama Rangers go to School.

Kira-kira berapa ya modal yang digelontorkan TPS Food buat program brand activation ini? Belum lagi mereka juga harus memikirkan uang dinas karyawan-karyawan yang ikut survei di kegiatan itu. Pokoknya, banyak banget deh.

Membesarkan bisnis makanan ringan itu gak murah

Demikian cerita TPS Food dalam mengembangkan brand Taro. Terbukti kan kalau butuh biaya gak sedikit buat bisa mengembangkan bisnis makanan ringan.

Perjuangan bagi perusahaan pemilik merek makanan ringan tentu berat banget, apalagi kalau merek produknya baru alias belum dikenal masyarakat. Tanpa ada promosi besar-besaran tentu bakal sulit buat sebuah brand dikenal masyarakat.

Tapi promosi juga gak boleh sembarangan. Ketika dilakukan asal-asalan, yang ada kas perusahaan berantakan. Bukannya untung malah buntung deh. Ibaratnya, cuma bakar duit.

Promosi pun harus didukung dengan kapasitas produksi yang mumpuni. Gak boleh ada ketimpangan antara produksi dan pemasaran. Masa iya iklannya beredar di mana-mana tapi stoknya di pasaran cuma sedikit?

Tertarik punya bisnis makanan ringan? Mulai dari yang kecil dulu aja guys. Gak sedikit kok pengusaha makanan ringan yang sukses dan punya omzet miliaran yang berawal dari usaha kecil. Makaroni Ngehe contohnya.  

Selamat mencoba!