Wow, Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga Paling Tergiur Bitcoin

Investasi mata uang virtual atau Virtual Currency, yakni Bitcoin menarik perhatian kalangan, temasuk para mahasiswa dan Ibu rumah tangga. Hal ini terjadi ketika melihat nilai tukar bitcoin yang sangat tinggi dan membuat banyak orang tergiur. 

Kalangan mahasiswa dan Ibu rumah tangga belum mengetahui instrumen investasi yang aman dan diawasi. Mereka hanya melihat imbal hasil yang tinggi, dan berbagai kemudahan yang ditawarkan.

Padahal, Bank Indonesia (BI) dengan tegas melarang penggunaan bitcoin untuk investasi maupun transaksi. Sebab, penggunaan bitcoin akan memberikan gangguan terhadap stabilitas ekonomi, termasuk moneter dan sistem pembayaran di Indonesia.

“Mahasiswa dan ibu ibu rumah tangga mereka paling tertarik ke bitcoin. Padahal mereka belum pernah masuk ke reksa dana, saham, dan ini nggak boleh terjadi. Karena jenis-jenis investasi yang relatif tidak punya underline asetnya dan tidak didukung oleh regulator. Tapi mereka justru masuk,” kata Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sardjito.

Menurutnya, ini menjadi tugas dan tanggung jawab bersama OJK dan Pelaku Jasa Keuangan (PUJK). Mereka harus terus mengedukasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait investasi yang aman, terdaftar, dan diawasi oleh negara.

“OJK dan jasa keuangan harus lebih agresif untuk melakukan penetrasi ke daerah-daerah. Seperti di Sulawesi Selatan, pertumbuhan ekonominya lebih tinggi dari pada nasional, dan disana banyak orang punya duit dan nggak ngerti harus investasi dimana. Nah tugasnya regulator negara dan PUJK memberitahu mereka bagaimana supaya mereka ngerti,” ujarnya.

Dari sisi industri jasa keuangan, bukan hanya mengeluarkan berbagai macam produk investasi, tetapi juga harus agresif meluaskan pasarnya melalui edukasi kepada masyarakat.

“Intinya pelajari produk investasi dengan baik. Inilah tujuannya untuk orang paham yaitu literate, dan baru masuk, sehingga dipelajari dengan baik,” jelasnya.

Literasi Keuangan Indonesia Rendah

Kerjaan Udah Selesai
(mulai pikirin investasi/ DesignbyFriday)

Sebab, di Indonesia sendiri angka literasi terhadap jasa keuangan lebih rendah dibandingkan tingkat inklusi atau tingkat kemudahan akses masyarakat mendapatkan atau memperoleh jasa keuangan.

“2016 surveinya 29 persen itu literasi, inklusinya sudah 68 persen. Itu tidak terjadi hanya di Indonesia di semua negara di dunia. Dimana inklusi lebih tinggi dari pada literasi harusnya kan paham dulu baru beli, ini nggak paham tapi masuk, itu fakta,” kata Sardjito.

Sementara itu, pihaknya menargetkan, pada tahun 2018 ini, tingkat inklusi keuangan di Indonesia bisa mencapai 75 persen dari total populasi penduduk.

“Literasi dan inklusi memang seharusnya sama, tetapi kan tidak ada yang seharusnya. Contohnya seperti saya sudah memahami betul soal mobil Lamborghini, tetapi harganya tinggi, jadi sudah paham tapi nggak beli-beli tuh. Tetapi kalau orang kaya, nggak paham juga di beli,” jelasnya.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan lnklusi Keuangan yang dilakukan oleh OJK pada tahun 2016 tercatat indeks literasi keuangan meningkat menjadi 29,7 persen dari angka 21,8 persen pada tahun 2013, begitu pula dengan indeks inkIusi keuangan dari sisi tingkat penggunaan produk dan atau layanan jasa keuangan tahun 2016 yang meningkat menjadi 67,8 persen dari angka 59,7 persen di tahun 2013.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah