Warung Kopi Sudah Biasa, Begini Cara Usaha Warung Teh

Entah kenapa, usaha warung kopi kayaknya nge-hit banget. Dari yang berkonsep kafe plus bakery hingga micro-roastery, usaha warung kopi seperti jamur di musim hujan: bertebaran di mana-mana.

Di satu sisi, hal ini pertanda baik karena tren kewirausahaan meningkat. Orang mau jadi wirausaha, bukan sekadar pekerja.

Tapi, di sisi lain, timbul persaingan yang amat ketat. Selain harus bersaing dengan warung kopi baru, usaha-usaha itu sudah ditunggu lawan yang lebih tangguh: kedai kopi yang sudah lama berdiri bertahun-tahun sebelumnya.

Walhasil, gak jarang dijumpai warung kopi yang tutup meski baru beroperasi dalam hitungan bulan. Buat yang berada di Jakarta dan tiap hari rutin melewati jalan di pinggir Kanal Banjir Timur dari kawasan Cipinang hingga Pondok Kopi, mungkin tahu bahwa ada beberapa warkop yang timbul-tenggelam dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini mesti menjadi catatan tersendiri jika kamu juga berniat nyemplung ke industri kopi. Yakin bisa bertahan menghadapi gempuran persaingan? Siap strateginya? Belum lagi faktor eksternal seperti daya beli konsumen yang menurun.

[Baca: Peluang Usaha Buat Anak Muda Terbuka Lebar di 10 Daerah Ini]

Gimana kalau cari peluang bisnis baru, yaitu warung teh. Usahanya sedikit-banyak mirip dengan warung kopi, tapi lebih simpel dan bisa jadi lebih hemat karena peralatannya gak terlalu banyak dan rumit. Berikut ini akan kita ulik bagaimana cara usaha warung teh sekaligus peluang cuan yang bisa diraup.

warung kopi
Teh plus camilan ala warkop (makanjogja.com)

Peralatan yang dibutuhkan

– Teko keramik 100 ml x 40 unit = Rp 50.000 x 40 = Rp 2.000.000
– Teko leher angsa 600 ml x 2 unit = Rp 200.000 x 2 = Rp 400.000
– Cangkir dan tatakan 100 set = Rp 20.000 x 100 = Rp 2.000.000
– Kompor gas = Rp 500.000
– Dispenser = Rp 300.000
– Galon air mineral 4 unit = Rp 30.000 x 4 = Rp 120.000
– Wadah daun teh 10 unit = Rp 10.000 x 10 = Rp 100.000
– Sendok teh 5 lusin = Rp 10.000 x 5 = Rp 50.000

Perlengkapan yang dibutuhkan

– Meja dan kursi kayu 5 set = Rp 1.000.000 x 5 = Rp 5.000.000
– Taplak 5 unit = Rp 5.000 x 5 = Rp 25.000
– Seragam karyawan 4 x Rp 30.000 = Rp 120.000
– Meja server dan perlengkapan = Rp 500.000
– Alat kebersihan (sapu, pel, ember, dll) = Rp 500.000

Bahan yang dibutuhkan

– Teh 4 jenis @1 kilogram = Rp 50.000 x 4 = Rp 200.000
– Gula 4 kilogram = Rp 12.000 x 4 = Rp 48.000
– Biaya lain-lain
– Retribusi, perizinan, dan lain-lain = Rp 500.000

Total biaya = Rp 12.363.000

warung kopi
Teh pun banyak jenis dan manfaatnya, kayak kopi (salamancartvaldiaes)

[Baca: Mau Bisnis Sukses? Ini Tips ‘Memata-matai’ Usaha Pesaing]

Biaya modal buka warung teh di atas hanyalah ilustrasi. Bisa jadi biaya yang dibutuhkan lebih tinggi karena tambahan komponen lain seperti hiasan dan pajangan. Biaya itu juga belum termasuk buat pemasaran.

Selain itu, gak ada biaya tempat dengan asumsi sudah punya lokasi usaha sendiri. Besaran biaya sewa lokasi tergantung wilayah masing-masing. Sebagai ilustrasi, sewa ruko di kawasan biasa (bukan daerah ramai seperti pusat bisnis/komersial) di Jakarta Rp 20-30 juta per tahun.

Proyeksi Omzet dan Profit

Sekarang, dengan asumsi biaya modal segitu, berapakah peluang pendapatan yang bisa didapatkan? Misalnya per cangkir dihargai Rp 10.000 dengan asumsi laku minimal 50 cangkir sehari.

Berarti dalam 30 hari atau sebulan bisa mendapat omzet (Rp 10.000 x 50) x 30 = Rp 15.000.000

Dengan karyawan 4 orang dan gaji Rp 1.500.000 per orang, ada pengeluaran Rp 6.000.000. Ditambah misalnya biaya tagihan listrik dan air Rp 2.000.000, berarti setidaknya ada pengeluaran Rp 8.000.000 dari omzet.

warung kopi
Gak perlu keluar modal banyak buat peralatan kopi (barangtronik.blogspot)

Artinya, ada potensi pendapatan hingga Rp 7.000.000 per bulan. Namun sekali lagi perlu digarisbawahi, semua hitungan itu bersifat kasar alias hanya asumsi.

Intinya adalah hitungan di atas bisa dijadikan salah satu referensi jika hendak buka warung teh. Namun teh yang dijual haruslah yang berkelas. Bukan teh kelas komersial yang biasa ditemukan di supermarket dan minimarket.

Cari supplier teh berkualitas unggulan di sentra teh seperti Puncak, Kerinci, Malang, atau Wonosobo. Jika perlu, impor teh tertentu, misalnya teh hijau asli Jepang. Sebagai pendamping, bisa sekalian menjual kue-kue atau camilan teman teh.

Yang penting, bikin skema bisnis yang matang sesuai dengan kemampuan. Untuk memulai usaha, pinjaman kadang diperlukan. Hal itu wajar saja, asal sudah diperhitungkan bagaimana melunasinya.

Jadi anggota komunitas penggemar teh atau pebisnis teh bisa menjadi strategi jitu untuk belajar berbisnis warung teh. Dari komunitas itu bisa digali informasi seputar teh dan bagaimana menjalankan bisnis warung teh yang prospektif. Bisa dicoba nih, daripada bersaing ketat sama warung kopi yang udah menjamur. Siapa berani?

[Baca: Inspirasi Bisnis dari Dian Sastro Ini Wajib Ditiru Kalau Mau Sukses]