Wahyu Sakti Trenggono, Raja Menara BTS Pemilik Gurita Bisnis Telekomunikasi

Dua perusahaan milik Wahyu Sakti Trenggono, bendahara Tim Jokowi-Ma’ruf Amin ikut disebut Tim Kuasa Hukum BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat mengemukakan bukti-bukti sidang perdana sengketa hasil pemilu pilpres di MK, hari ini.

Saat itu, tim Kuasa Hukum BPN yang diketuai Bambang Widjojanto membeberkan kecurangan pasangan nomor urut 01.

Salah satunya, mengenai sumbangan asli dana kampanye paslon yang diusung 9 parpol itu.

Bambang mengungkapkan, ada ketidaksesuaian antara total harta kekayaan pribadi Jokowi dengan besaran dana kampanye yang disumbangkan.

Dia menjelaskan, berdasarkan LHKPN, total harta kekayaan Jokowi yang diumumkan KPU pada 12 April 2019 mencapai Rp 50 miliar dengan kas dan setara kas sebanyak Rp 6 miliar.

Dalam Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye 25 April 2019 menunjukkan, sumbangan pribadi Jokowi berbentuk uang Rp 19,5 miliar dan berupa barang sebesar Rp 25 juta.

“Menjadi janggal ketika kas dan setara kas di dalam Harta Kekayaan pribadi Jokowi berdasarkan LHKPN hanya berjumlah Rp 6 Miliar, tertanggal 12 April 2019,” ujar Bambang.

“Mampu menyumbang ke rekening kampanye Rp 19 Miliar pada 25 April 2019. Dalam waktu 13 hari bertambah Rp 13 Miliar,” sambungnya.

Bambang juga menyoroti sumbangan perkumpulan Golfer TRG sebesar Rp 18.197.500.000 dan perkumpulan Golfer TBIG sebesar Rp 19.724.404.138.

Dia mengutip hasil temuan ICW, 9 Januari 2019 yang menduga perkumpulan Golfer TRG dan perkumpulan Golfer TBIG ialah dua perusahaan Wahyu Sakti Trenggono, PT Tower Bersama Infrastructure dan Teknologi Riset Global Investama.

Dalam analisis ICW, menurut Bambang, patut diduga sumbangan dua perkumpulan itu bertujuan mengakomodasi penyumbang yang tidak ingin diketahui identitasnya.

Selain itu, penyumbang perseorangan yang melebihi batas dana kampanye Rp 2,5 miliar.

Lantas, siapa sih Wahyu Sakti Trenggono? Untuk mengetahui lebih jauhnya, yuk simak pemaparan lengkapnya yang dilansir MoneySmart dari Kontan.co.id:

Taipan bisnis telekomunikasi

Wahyu Sakti Trenggono
Wahyu Sakti Trenggono taipan bisnis telekomunikasi (Shutterstock_

Wahyu ternyata bukan sembarangan orang. Bisnisnya menggurita dan dimulai dari nol. Lelaki yang akrab disapa ‘Mas Treng’ itu merupakan taipan dalam bisnis telekomunikasi.

Pendiri PT Teknologi Riset Global (TRG) Investama pada tahun 2007 ini dikenal sebagai raja tower BTS Nusantara.

Jebolan ITB dan Universitas Binus ini memiliki gurita bisnis dalam bidang telekomunikasi, teknologi, properti, media, dan e-commerce.

Baca juga: Mengenal Sosok Saldi Isra, Hakim MK dengan Kekayaan Rp 6 M dan Cuma Punya Satu Mobil

Namun, jauh sebelum itu, lelaki kelahiran Semarang tersebut telah merintis bisnis dengan bendera PT Solusindo Kreasi Pratama (SKP) dan membangun PT Tower Bersama Infrastruktur.

Perusahaan yang disebut terakhir saat ini dikenal sebagai penyedia infrastruktur menara telekomunikasi terbesar di Indonesia dengan kepemilikan lebih dari 14.000 menara.

Bukan terlahir dari keluarga mapan

Wahyu Sakti Trenggono
Wahyu Sakti Trenggono (Facebook/saktiwahyutrenggono)

Mas Treng mengaku, sejak kecil hanya ingin bekerja dengan baik di sebuah perusahaan dan merintis karier menjadi profesional sukses dan bermanfaat bagi banyak orang.

Bukan tak beralasan, pria berkumis ini memiliki cita-cita yang dinilai sangat sederhana karena bukan terlahir dari keluarga yang mapan secara ekonomi.

Dia mengaku, terbiasa hidup prihatin sejak kecil. Mas Treng mengungkapkan, dia harus hidup prihatin ketika kuliah di ITB. Bahkan, untuk membayar uang kuliah saja, keluarganya harus menjual tujuh ekor kambing.

“Saya dulu bayar kuliah Rp 22.000 harus jual tujuh ekor kambing dan dikirim sama nenek saya Rp 35.000,” ungkap ‘Mas Treng’ mengenang masa-masa sulit dalam hidupnya.

Bergabung di Astra membuka pintu kesuksesannya

Wahyu Sakti Trenggono
Wahyu Sakti Trenggono bekerja di Astra awal kesuksesannya (Wikipedia)

Trenggono bukanlah orang yang pesimis, dia sangat yakin bisa maju. Karena itu, saat perusahaan besar sekaliber PT Astra International Tbk datang ke ITB untuk mencari karyawan potensial, pria yang hobi minum kopi itu langsung mendaftar.

Di perusahaan tersebut, Trenggono diterima dalam program Astra Basic Training atau saat ini lazim disebut management trainee.

“Saya disekolahkan selama enam bulan sebelum dilepas ke unit bisnis Astra dan saya kebagian dalam bisnis IT,” paparnya yang resmi bergabung dengan Astra tahun 1988 dengan status mahasiswa semester akhir ITB.

Bergabung di Astra membuka pintu kesuksesan Trenggono. Banyak hal yang dipelajarinya, mulai dari membangun infrastruktur IT, sampai membangun budaya perusahaan hingga mengembangkan pabrik.

Dia pun memetik ilmu berharga selama berkarier di Astra. Di mana saat itu banyak berelasi dengan  lembaga konsultan dunia, seperti Boston Consulting Group (BCG) untuk pembenahan perusahaan di lingkungan Astra.

“Di situ sebenarnya banyak sekali belajar tentang perubahan manajemen,” jelas Trenggono yang berkarier 11 tahun di Astra.

Dengan jabatan akhir Senior General Manager atau setingkat direktur di anak usaha Astra, Trenggono akhirnya memutuskan untuk mundur dari Astra.

Namun, para petinggi Astra yang mengetahui Trenggono akan membangun bisnis baru menjamin, jika bisnis yang dijalaninya gagal, dia diizinkan kembali ke Astra.

Bangun perusahaan infrastruktur telekomunikasi

Wahyu Sakti Trenggono
Wahyu Sakti Trenggono bangun perusahaan infrastrutur telekomunikasi (Shutterstock)

Trenggono mundur dari Astra karena membangun bisnis sendiri. Yaitu, bisnis penyedia infrastruktur telekomunikasi menara yang ketika itu belum berkembang.

Trenggono sebelumnya pernah merintis bisnis dibidang kayu tahun 1995, namun gagal lantaran Indonesia dihantam krisis tahun 1998 sehingga usahanya gulung tikar.

Meski begitu, momentum krisis ekonomi dan reformasi pemerintahan justru dianggap peluang baginya.

Dia melihat tahun 1998 banyak korporasi miliik konglomerat yang hancur, sedangkan di sisi lain, dia melihat ada potensi yang bisa dikembangkan dan belum banyak dipikirkan orang banyak.

Membangun tower BTS

Wahyu Sakti Trenggono
Wahyu Sakti Trenggono membangun tower BTS (shutterstock)

Di awal tahun 2000-an, Mas Treng melihat Indonesia sedang memasuki era teknologi mobile telekomunikasi dengan munculnya sejumlah operator seluler dan pengguna ponsel yang terus tumbuh.

Dia pun berkesimpulan, kebutuhan telekomunikasi mobile akan makin besar di masa mendatang sehingga perlu ditangkap peluang membangun infrastrukturnya yaitu menara alias tower BTS.

Itulah fakta menarik mengenai Wahyu Sakti Trenggono, bendahara tim Jokowi-Ma’ruf Amin sang raja tower BTS.