Utang Negara Indonesia Capai Rp 4.000 Triliun, Kok Bisa?

Utang negara Indonesia diberitakan membengkak hingga Rp 4.907 triliun per Februari 2018. Wow banget ya?

Melihat angka tersebut, pernah gak sih kamu bertanya kenapa negara harus punya utang? Kenapa juga gak cepet-cepet lunasin utang itu?

Sama kayak kalau kita sendiri yang ngutang, pastilah kita penginnya utang tersebut lunas kan, ya? Gimanapun, punya banyak utang itu gak baik. Punya banyak utang biasanya pertanda bahwa kondisi finansial kita gak bagus.

Eits tunggu dulu, coba bedakan antara utang negara dengan utang personal. Kedua utang tersebut beda banget. Nah, di artikel ini, kita bakal belajar buat apa sih negara berutang dan apa dampaknya ke kita.

Utang negara Indonesia dari tahun ke tahun

Perlu diakui bahwa utang negara Indonesia terakhir ini jadi salah satu angka paling fantastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Mulai dari presiden pertama Soekarno hingga di tahun 2018 ini ada Presiden Joko Widodo, utang Indonesia terus bertambah.

Awalnya utang Indonesia berjumlah sekitar Rp 21,25 triliun di tahun 1960. Kemudian, di tahun 1998 pada akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto, utang Indonesia jadi Rp 551,4 triliun. Nah, di tahun 2018 ini, jumlah utang negara mencapai lebih dari Rp 4.000 Triliun.

Angka yang gila-gilaan ya?

[Baca: Ini Nih 6 Fakta Bank Dunia yang Jarang Diketahui Orang]

Berikut infografik dari Detikcom yang memaparkan perjalanan utang negara berdasarkan urutan pergantian presiden.

hutang negara indonesia
Utang Indonesia dari masa ke masa (detik)

Dari angka tersebut, kita sebenarnya gak bisa cuma lihat dari kacamata awam. Kita perlu lihat faktor-faktor pendukung lainnya, seperti perubahan nilai kurs, inflasi, dan terutama rasio utang terhadap PDB negara (produk domestik bruto).

Sebagai informasi, PDB adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi negara dalam rentang waktu tertentu.

Nah, dari infografik tersebut, kita bisa lihat rasio utang negara dari tahun ke tahun. Di situ dijelaskan bahwa meski utang negara bertambah, namun rasionya menurun.

Terus, kalau rasio menurun apa dampaknya? Yuk, lanjut lagi.

Apa yang dimaksud dengan rasio utang?

Jumlah utang tentu penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah rasio atau perbandingan jumlah utang tersebut terhadap pendapatanmu

Perbandingannya seperti ini.

Si A punya utang Rp 24 juta dengan pendapatan Rp 2 juta per bulan. Buat melunasi dalam setahun ke depan, si A mesti menggelontorkan Rp 2 juta per bulan. Artinya, perbandingan utang si A dengan pendapatannya adalah 100 persen. Ini karena jumlah pendapatan si A ternyata sama dengan jumlah cicilannya per bulan.

Sementara itu, si B memiliki utang Rp 48 juta. Namun, pendapatan si B adalah Rp 10 juta per bulan. Setiap bulan selama 12 bulan, B harus bayar Rp 4 juta per bulan buat lunasi utang tersebut.

Yuk, lihat hitung-hitungannya.

Rumus rasio utang adalah total utang dibagikan total pendapatan (aset). Jadi, dalam kasus B, rasio utangnya adalah 4 juta : 10 juta = 40 persen.

Dari nominal utang tersebut, jelas si B punya utang lebih banyak daripada si A. Namun, melihat dari kapasitas buat menyelesaikan utang tersebut, tentu si B lebih unggul dari si A. Sebab, si B lebih mampu buat bayar utang karena perbandingan pendapatannya masih lebih tinggi daripada utang.

Nah, gitu juga dengan utang negara. Meski utang Indonesia makin tinggi tetapi rasionya makin kecil. Ini karena pendapatan negara yang disebut PDB alias Produk Domestik Bruto yang makin meningkat.

Terus, kenapa gak dilunasin aja sih kalau emang rasionya mengecil?

utang negara indonesia
Buat bangun infrastruktur di berbagai daerah (republika)

Masih berkaca dari perbandingan utang si A dan si B, negara masih berutang karena pertimbangan kemampuan melunasi utang tersebut.

Seenggaknya ada dua pertimbangan kenapa negara masih berutang. Pertama, kemampuan negara buat lunasi utang. Kedua, pembangunan yang dilakukan di berbagai sektor.

Nah, pembangunan yang dilakukan di berbagai sektor itu sendiri berpengaruh banget buat kemampuan negara melunasi utang di masa mendatang.

Kenapa? Kalau pemerintah pilih buat prioritasin lunasi utang, maka pembangunan di berbagai sektor bakal melambat. Kalau melambat, kita sebagai masyarakat gak bisa merasakan infrastruktur lengkap dan kemajuan ekonomi secara pesat.

Jadi, pilih mana?

Dengan catatan, yang penting utang tersebut emang benar-benar digunakan buat pembangunan beragam sektor di negara ini. Kalau ternyata uang tersebut dikorupsi buat kemakmuran beberapa pihak aja ya podo ae alias sama aja bohong.

[Baca: Rupiah Melemah? Liburan ke 5 Negara Ini Pasti Gak Tekor]

Sebagai perbandingan lagi, sebenarnya rasio utang negara Indonesia masih dalam batas wajar. Batas maksimal rasio utang yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara adalah gak boleh lebih dari 60 persen. Jadi, bila melebihi angka tersebut, maka udah masuk dalam tahap bahaya.

Oh ya, dibandingkan dengan negara-negara lain, ternyata cukup banyak negara yang rasio utangnya melebihi Indonesia, lho.

Dilansir dari situs Detikcom, rasio utang negeri tetangga seperti Vietnam mencapai 66,3 persen. Bahkan, dibandingkan Jepang di tahun 2012 lalu, Jepang punya rasio utang lebih dari 100 persen, lho!

Sekarang, kamu udah tahu kan kenapa utang negara Indonesia masih banyak? Negara kita masih butuh banyak pembangunan. Oleh karena itu, mau gak mau, utang adalah salah satu opsi buat mewujudkan pembangunan tersebut.

Selain itu, banyak utang bukan berarti keuangan buruk. Selama masih dalam batas rasio utang yang aman, keberadaan utang justru bisa menyehatkan ekonomi. Dan pastinya, kesejahteraan rakyat juga bisa makin meningkat.