Utang KTA untuk Liburan, Bijakkah?

Liburan bisa disebut kegiatan konsumtif. Jelas banget karena liburan membutuhkan uang untuk ‘dihamburkan’. Coba berapa duit yang mesti disiapkan untuk kebutuhan tersier ini. Mulai dari transportasi, akomodasi, kuliner, jajanan oleh-oleh, dan tetek bengek lainnya.

Artinya, niat buat liburan sama saja mesti merancang keuangan. Mesti ada proses hitung-hitungan dulu berapa besaran dana yang disiapkan untuk berlibur. Perencanaan keuangan penting di sini agar jangan sampai kejadian kantong jadi kering kerontang gara-gara habis dipakai liburan.

Coba sekarang hitung berapa yang dibutuhkan untuk liburan. Oke, dijabarkan saja satu per satu.

1. Tiket pulang pergi

2. Biaya transpor selama di lokasi tujuan liburan

3.. Akomodasi

4. Tiket masuk ke lokasi wisata

5. Shopping

6. Biaya tak terduga

Semua rincian biaya itu mesti dikalkulasi dulu sebelum liburan. Lantaran niatnya mau ‘senang-senang’, jangan sampai kejadian malah jadi sengsara karena salah perhitungan biayanya.

Kalau sudah ketemu budget buat liburan, lalu dari mana dananya?

utang atau tabungan
Pilih yang fiksi atau yang nyata?

Pilihannya menabung atau cari utangan. Jika pakai opsi pertama alias menabung, maka liburan baru bisa terlaksana kalau jumlah duit di tabungan sesuai dengan budget untuk liburan.

Beda kalau pakai dana utangan misalnya lewat skema kredit tanpa agunan (KTA), liburan langsung terlaksana tapi sepulangnya liburan siap-siap mendapat tagihan.

Kadang kepikiran pakai KTA lebih praktis karena bisa langsung cas cus liburan tanpa menunggu tabungan menggunung dulu. Apalagi beberapa bank siap membiayai liburan dengan skema KTA atau fasilitas kartu kredit. Tawaran ini bisa membuat rencana liburan langsung terkabul tanpa harus susah payah menabung.

Wajar dong kalau tawaran itu menggoda banget, apalagi bagi yang hobi travelling. Terlebih mengajukan KTA terbilang gampang. Selama punya pendapatan tetap, identitas diri, lalu cairlah uang yang nilainya disesuaikan dengan budget liburan.

Bijakkah gunakan produk KTA untuk liburan?

Cukup banyak perencana keuangan yang mengingatkan agar menghindari utang untuk membiayai liburan. Sudah sering mereka mengungkapkan pernyataan,’jangan berutang untuk liburan!’

Kuncinya adalah dana untuk keperluan berlibur ini harus dianggarkan di depan, bukan dibayar belakang. 

Kenapa mesti memaksakan diri berutang demi merealisasikan kebutuhan tersier ini. Cara berpikirnya sederhana kok. Apakah kalau tak liburan bakal bikin sakit? Apakah hidup bakal langsung mati jika tak melancong ke Bali, misalnya?

Kemudian ada sebagian yang berargumentasi kalau liburan bakal menaikkan produktivitas. Tapi pernyataan ini bisa disanggah:

“Apakah liburan sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan produktivitas?”

“Apakah peningkatan produktivitas seusai liburan harus membebani hidup dengan utang?”

Memanfaatkan pinjaman bank untuk membiayai liburan baru terasa seusai liburan! Tiap bulan mesti menyisihkan dana untuk membayar angsuran. Belum lagi angsuran itu ditambah dengan beban bunga.

Perlu diingat, bank tak beri fasilitas utangan ini dengan gratis. Artinya, relakah kita berkorban tiap bulan membayar cicilan untuk kenikmatan sesaat yang kalau ditotal justru nilainya melebihi dari budget liburan?

Kecantikan Raja Ampat diakui penduduk seantero dunia.
Kecantikan Raja Ampat diakui penduduk seantero dunia.

Umpamanya pinjam Rp 50 juta lewat fasilitas KTA untuk liburan sepekan di Raja Ampat. Bila beban bunganya 1,5 persen dari pinjaman, maka nilai bunganya saja sudah Rp 750 ribu. Tinggal kalikan saja setahun yang berarti mencapai Rp 9 juta.

Relakah kehilangan Rp 9 juta untuk sekadar bisa nikmati liburan di Raja Ampat? Tentunya bagi yang rasional, bakal sayang menghamburkan Rp 9 juta untuk membayar bunga KTA.

Beda kasus kalau liburannya termasuk ‘kepepet’. Misalnya saja hendak menghadiri pesta pernikahan sahabat lama di Raja Ampat. Lantaran kepepet, bisa saja ambil opsi KTA.

Katakanlah terpaksa kekurangan dananya 30 persen dari budget yang tersedia. Kalau budget ke Raja Ampat Rp 50 juta, tapi dana yang tersedia hanya Rp 30 juta, sehingga kurang Rp 20 juta. Kekurangan ini bisa ditambal dengan utang ke KTA.

Tapi ingat, sebisa mungkin utang KTA itu hanya untuk menutupi kekurangan dana, bukan seluruhnya! Dan usahakan KTA itu jadi opsi terakhir setelah gagal mendapat utangan dari teman, orangtua, atau cash bon kantor.

Solusi?

Liburan kadang memang perlu. Liburan adalah momen untuk memanjakan diri. Tapi bagi yang merencanakan keuangan dengan baik, dia bakal menunda rencana itu ketimbang harus kehilangan uang yang tak perlu.

Kalau uangnya tak ada? Ya harus tunggu. Yup, tunggu sampai uangnya benar-benar ada. Jangan sampai memaksakan liburan tapi sepulangnya malah bikin kere. Lebih parah lagi hidup bakal lebih suram sehabis liburan yang hanya seminggu tapi bayar utangnya berbulan-bulan.

Bagaimana dengan kartu kredit? Kan banyak itu tawaran diskon hotel, kortingan tiket pesawat, dan lain-lain?

Boleh saja, tapi syaratnya harus dilunasi di depan alias bayar tunai. Tagihan kartu kredit yang digunakan untuk liburan mesti dilunasi seluruhnya. Kalau pun ada fasilitas cicilan nol persen, ada baiknya dilunasi sebelum hari H liburan tiba!

Lebih baik undur dulu keinginan liburan kalau memang belum ada dananya.

So, sebaiknya hindari menggunakan fasilitas KTA untuk liburan. Kalau nekat, siap-siap saja sepulang dari liburan malah stres karena memikirkan cara menyisihkan dana tiap bulan untuk menutupi tagihan.

Kalau memang berniat liburan, jadwalkan jauh-jauh hari dan menabunglah. Kalau mau cepat, bisa memikirkan untuk berinvestasi.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Kamu Boleh Ngajuin KTA Kalau…]

[Baca: Bijakkah Ambil KTA Buat Keperluan Konsumtif?]

[Baca: Bujet Pas-Pasan Bukan Berarti Gak Bisa Liburan. Coba 4 Destinasi Ini]