Tips Mengatur Keuangan: Kubur 5 Mitos Soal Utang Ini

Utang emang masih sering menuai sikap pro-kontra. Apalagi utangnya utang negara. Kalau bicara dari sudut pandang tips mengatur keuangan sih, ada yang bilang jangan utang. Soalnya bakal susah nanti karena harus nyicil tiap bulan.

Tapi kalau gak berutang, mungkin ada kebutuhan yang gak bakal bisa dipenuhi sampai kapan juga. Pengin beli rumah, misalnya, sepertinya makin susah deh kalau langsung cash. Gimana lagi, harganya sekarang paling murah aja Rp300 juta.

Kalau nunggu duit terkumpul, pengin sampai berapa puluh tahun? Kalau duit udah ada, yang ada harga rumah udah jauh di atasnya.

Intinya, buat kamu yang pengin tahu tips mengatur keuangan yang jitu, mulai ubah pola pikir deh soal utang. Gak selamanya utang itu buruk.

Sayangnya, masih banyak yang percaya kalau utang selalu negatif. Terus apa lagi nih mitos lainnya tentang utang yang sebaiknya gak kamu percaya? Disimak yuk.

1. Utang bikin bangkrut

tips-mengatur-keuangan
Utang juga bisa bikin negara bangkrut, contohnya Yunani (larepubliquedespyrenees.fr)

Gak betul kalau bilang utang selalu bikin bangkrut. Selama ada rencana pelunasan yang matang, utang sah-sah aja diambil. Syaratnya ya jangan asal berutang.

Rencanakan dulu pakai apa bayarnya dan mampu berapa lama nyicilnya. Orang bangkrut itu karena utang sembarangan.

Di tengah zaman yang kian maju seperti sekarang, dapat orang yang bisa ngasih utang itu gampang banget. Di pinggir jalan pasti pernah nemuin brosur penawaran utang dengan jaminan KTP aja, atau dengan BPKB, kan?

Yang gini harus kamu hindari. Mending cari yang pasti-pasti aja. Toh sekarang udah banyak pinjaman KTA online langsung cair.

Atau kalau mau yang langsung aman, ya ke bank.

[Baca: Pinjaman Online Langsung Cair Tanpa Jaminan, Ini 8 Pilihannya]

2. Bayar utang pakai utang lain gak baik

Gak selamanya gitu. Mungkin ini cara terakhir yang mesti ditempuh karena dipaksa oleh situasi dan kondisi.

Misalnya, menjelang jatuh tempo dan bener-bener gak punya duit dengan ancaman aset disita. Salah satu solusinya adalah dengan refinancing.

Refinancing adalah menutup suatu utang dengan berutang ke pihak lain. Pihak itu bakal memberikan uang buat melunasi utang yang satu.

Sebagai ganti, uang yang diberikan itu harus kita bayar ke pihak tersebut. Biasanya, bunga dari pihak kedua itu bisa dicari yang lebih kecil biar beban lebih ringan.

Tapi, sama kayak poin di atas, gak boleh sembarangan ambil keputusan ini. Mungkin bisa coba diskusi dulu ke pemberi utang buat perpanjangan kredit, misalnya.

3. Boleh utang selama cicilannya di bawah penghasilan

tips-mengatur-keuangan
Bank minta data pengeluaran dan penghasilan antara lain buat melihat kemampuan bayar cicilan (tribunnews)

Gak sesimpel itu. Ada formula yang direkomendasikan, yakni besar cicilan maksimal 30 persen dari penghasilan per bulan.

Misalnya penghasilanmu Rp 10 juta. Berarti besar cicilan tiap bulan yang disarankan adalah Rp 3 juta. Formula ini juga dianut bank dalam memberikan kredit lho.

Umpamanya kamu udah punya cicilan Rp 2 juta dan mau ambil cicilan lagi Rp 2 juta. Besar kemungkinan permohonannmu gak disetujui. Sebab, ada risiko kredit macet bagi bank.

Ketika terjadi kredit macet, arus cash flow bank bakal terganggu. Bank gak bakal pengin ambil risiko ini.

Di sisi kita, risiko kredit macet bisa berujung kebangkrutan. Makanya ada formula 30 persen yang disarankan.

[Baca: Yakin Pengin Pinjaman Online Langsung Cair? Udah Tau Risiko Ini Belum?]

4. Kabur adalah cara menyelesaikan utang

Keliru total. Kalau merasa gak sanggup melunasi, ya sebaiknya terus terang.

Kabur malah malah nambah masalah. Utang jadi numpuk karena kena bunga dan denda. Ujungnya bisa dipenjara jika masuk ranah pidana.

Gitu masuk penjara, udah deh, abis. Ancaman kebangkrutan makin nyata. Saat di penjara, gak bisa lagi bekerja buat menabung. Jangankan menabung. Buat sesuap nasi aja sulit. Terlebih bila punya keluarga. Beban bakal makin berat.

5. Utang gak bisa dikompromikan

tips-mengatur-keuangan
Petugas bank akan menerima kalau mau diskusi soal kredit seret (hipwee)

Gak sepenuhnya betul. Selalu ada jalan diskusi ketika gak sanggup bayar utang. Coba bilang ke pemberi utang, apakah ada solusi atas keadaan itu.

Umumnya, pemberi pinjaman yang profesional seperti bank bisa diajak berkompromi. Misalnya punya utang kartu kredit.

Mungkin bisa mengusulkan buat membayar pokoknya aja. Atau bayar pokok dan sebagian bunga. Intinya adalah mendiskusikan penyelesaian utang itu.

Mitos ini mungkin benar kalau kita berutang ke bank plecit alias rentenir. Ketika gak sanggup bayar, langsung rumah disita.

Karena itu disarankan banget buat menghindari berutang ke rentenir. Berutangnya sih gampang, tapi risikonya itu yang bikin pusing kepala.

[Baca: Cara Mengelola Utang yang Baik, Eh, Memangnya Ada Utang yang Buruk?]

Utang bukan satu-satunya penentu kesuksesan. Tapi salah satu faktor yang bisa bikin orang sukses adalah utang, jika diambil dengan bertanggung jawab.

“Buat jadi orang sukses, kita mesti menemukan sesuatu buat dipegang, sesuatu yang memotivasi, sesuatu yang menginspirasi kita,” gitu kata pemain American football legendaris, Tony Dorsett.

Dari perspektif lain, utang bisa dianggap sebagai motivasi buat meraih kesuksesan. Terutama dalam hal bisnis.

Utang itu bisa dijadikan bensin buat memompa kinerja usaha biar makin maju. Seperti yang dilakukan Indonesia dan banyak negara lainnya, berutang biar bisa lebih maju. Nah gimana, setuju gak sama tips mengatur keuangan ini?