Tiap Tahun, Dana Asing Mengucur Rp 35 Triliun di Startup Unicorn Indonesia

Aliran dana masuk ke perusahaan rintisan alias startup hingga unicorn Indonesia mencapai US$ 2,5 miliar atau setara Rp 35 triliun per tahun.  

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengungkapkan, dana itu masuk melalui Foreign Direct Investment (FDI). 

“Pada dasarnya yang namanya FDI itu, kisarannya US$ 9 miliar – US$ 12 miliar per tahun. Perkiraan kami porsi yang masuk ke startup, termasuk ke unicorn antara 15-20 persen dari angka itu. Jadi sekitar US$ 2 miliar sampai US$ 2,5 miliar per tahun,” ujar Lembong.

Dia memprediksi, pada tahun ini hingga tahun-tahun mendatang, Investasi pada ekonomi digital di Indonesia akan terus meningkat. Hal ini seiring dengan keyakinan investor akan perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

“Sejauh ini tidak ada indikasi investor mulai kapok, gelisah, atau kehilangan antusiasmenya atas potensi ekonomi digital Indonesia. Yang saya lihat tahun ini malah makin kencang ke sektor ekonomi digital dan e-commerce,” paparnya.

Lembong menegaskan, investasi di sektor ekonomi digital dan industri smelter menjadi penyelamat jumlah investasi yang masuk ke Indonesia. “Tanpa dua sektor ini, investasi internasional Indonesia akan turun,” paparnya.

Investasi Asing Untungkan Indonesia

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara mengatakan, derasnya arus modal masuk kepada unicorn dan startup di Indonesia adalah hal yang menguntungkan bagi masyarakat Indonesia.

“Jadi kalau ditanyakan unicorn untuk siapa, maka yang jelas adalah untuk masyarakat kita. Baik itu yang memudahkan aktivitas sehari-hari, menciptakan lapangan pekerjaan, serta memanfaatkan teknologi digital,” kata Rudiantara.

Untuk itu, Rudiantara meminta, semua pihak untuk tidak khawatir akan investasi asing yang masuk kepada perusahaan unicorn asal Indonesia.

Menurutnya, pemerintah juga terus melakukan pengawasan dan waspada akan investasi yang masuk. Sebab dalam hal investasi ini, yang paling diuntungkan adalah masyarakat Indonesia itu sendiri.

“Kalau ada investor masuk ke dalam negeri melalui unicorn tadi katanya ini bakar uang. Bakar uangnya buat siapa? Yang menikmati subsidi ya konsumen Indonesia. Yang paling beruntung adalah masyarakat Indonesia karena aplikasi-aplikasinya menyelesaikan masalah di masyarakat. Memang, kita penting juga senantiasa alert, senantiasa waspada, tapi jangan sampai membuat kita paranoid,” paparnya.

Sementara itu, untuk perusahaan rintisan teknologi atau startup sendiri, Indonesia telah memiliki empat startup teknologi yang telah masuk jajaran elit startup internasional atau dikenal dengan startup unicorn.

Perusahaan rintisan teknologi lokal yang telah memiliki valuasi bisnis yang besar yakni, Gojek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia.

Istilah “Unicorn” sendiri merujuk pada startup dengan valuasi mencapai US$ 1 miliar atau setara Rp 14,2 triliun.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah