Ternyata Ini Dampak Buruk Jadi Workaholic Buat Keuangan

Sudah bukan rahasia umum kalau yang namanya manusia itu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jelas dong. Kalau gak bekerja, mau dapat duit dari mana buat beli makan?

Gaya bekerja itu sendiri berbeda-beda, ada yang santai, ada yang kelewat santai, dan ada yang gila kerja alias workaholic.

Kurang jangan, tapi lebih juga gak bagus lho! Kelewat santai kerja bisa bikin karier amburadul. Sedangkan jadi workaholic bisa bikin hidup gak seimbang. Kerja itu untuk hidup ya, bukan hidup untuk kerja.

Memang sih kalau mau dilihat dari sisi positifnya, seorang workaholic bisa jadi contoh pekerja yang berdedikasi tinggi dan pekerja keras. Kariernya pun bisa jadi cepat menanjak. Tapi, tahu gak kalau jadi workaholic itu juga bisa bikin kantong gak aman?

Gak percaya? Simak dulu nih kerugian jadi seorang gila kerja dan bagaimana menyikapinya:

1. Boros biaya obat dan rumah sakit

Seorang workaholic sudah pasti gak peduli soal berapa lama waktu yang dihabiskan buat bekerja. Yang ada di benaknya hanya kerja, kerja, dan kerja. Padahal manusia kan bukan robot, jadi stamina tubuhnya punya batasan.

workaholic buat keuangan
Kalau sudah sakit pasti jadi gak bisa ngapa-ngapain dong! (Sakit / okezone)

Dengan kebiasaan kerja yang di atas rata-rata jam kerja normal, kesehatan seorang workaholic pasti lebih rentan terganggu. Masih ingat kan beberapa berita tragis mengenai para pekerja yang nyawanya terenggut karena sebagian besar waktunya dihabiskan hanya untuk bekerja? Nah, gak mau dong mengalami hal seperti itu?

Kalau sudah sakit, pasti harus diobati. Beban pengeluaran karena pengobatan inilah yang bisa menggerogoti keuangan si workaholic. Apalagi kalau gaya bekerja yang tak kenal waktu itu terus diterapkan. Siap-siap tagihan obat dan rumah sakit membengkak deh!

2. Keluar uang terus buat jajan dan delivery makanan

Betah berkutat lama-lama dengan pekerjaan, juga bikin para workaholic gak mau buang-buang waktu buat hal lain. Saat lapar atau pengin beli sesuatu, pasti lebih memilih jasa pesan antar atau delivery. Tahu sendiri, beli makan dengan jasa delivery pastinya lebih mahal dibandingkan beli sendiri, kan? Soalnya ada ongkos buat pihak resto mengantarkan makanan juga.

Gak hanya itu, pekerja workaholic juga identik dengan kebiasaan begadang. Dan kalau begadang, otomatis perut jadi lapar terus kan? Nah, ini yang akhirnya juga memicu aktivitas ngemil. Kalau udah begini, bujet beli camilan juga jadi besar dong.

Bayangin kalau sehari bisa mengeluarkan uang minimal Rp 50 ribu khusus buat kebiasaan ini. Dikalikan 22 hari kerja sudah Rp 1,1 juta. Bagaimana kalau sehari lebih dari Rp 50 ribu?

workaholic buat keuangan
Tinggal klik, klik, klik, makanan ada di depan mata deh! (Delivery Makanan / kfcku)

Padahal kalau mau menyempatkan diri belanja bahan makanan lalu masak makanan sederhana atau jalan keluar sebentar ke warteg, pasti pengeluaran buat makan atau jajan jadi lebih ringan. Selain bagus biar gak stres dan badan gak kaku, jalan ke luar buat cari makan juga bikin kita bisa punya interaksi lebih baik sama orang lain.

3. Boros kuota internet

Kembali lagi soal fokus dan prioritas untuk bekerja, seorang workaholic jarang tuh yang namanya pergi liburan atau hangout. Si workaholic biasanya lebih memilih buat memaksimalkan waktu untuk bekerja di depan laptop.

Kalau weekend juga masih sibuk kerja, udah pasti mereka mengandalkan kuota internet di rumah. Akibatnya, tagihan internet rumah jadi lebih besar dibandingkan orang kebanyakan. Coba aja deh.

Segala sesuatu yang berlebihan itu emang gak bagus. Bekerja hingga jadi workaholic adalah salah satunya. Apalagi kalau sampai bikin pengeluaran malah makin besar. Makanya, gak perlu kerja teralu keras, yang penting itu kerja cerdas.

Daripada menghabiskan waktu terlalu banyak hanya buat kerja dan mengorbankan hal lain, lebih baik mulai deh ubah pola kerjamu mulai sekarang. Begini caranya:

1. Efektif memaksimalkan waktu 8 jam sehari

Menurut UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, setiap perusahaan hanya boleh mewajibkan karyawan untuk bekerja selama delapan jam sehari untuk lima hari kerja dan tujuh jam sehari bagi yang bekerja enam hari dalam seminggu. Aturan ini ditetapkan bukan tanpa alasan lho!

Manusia punya batasan, bisa merasa lelah dan juga punya emosi yang bisa datang dan pergi tiba-tiba. Semua elemen inilah yang memengaruhi kinerja kita. Bekerja di atas delapan jam sehari bukan gak mungkin bisa membuat seseorang stres bahkan depresi.

workaholic buat keuangan
Manusia kan bukan robot yang gak kenal rasa lelah lho! (Kelelahan / hellosehat)

Emang sih realitanya banyak pekerja yang bekerja lebih dari 8 jam per hari alias lembur. Mereka terpaksa lembur saat ada pekerjaan yang harus segera selesai. Kalau begini, coba evaluasi lagi, mungkin cara bekerja kita yang masih kurang efektif sehingga bikin harus lembur demi menyelesaikan tugas.

Atur pola kerjamu supaya bisa kerja gak lebih dari delapan jam sehari. Coba buat daftar prioritas pekerjaan, lebih komit, dan fokus saat bekerja agar semua target pekerjaan bisa selesai tepat waktu.

2. Disiplin

Disiplin di sini adalah bisa membedakan, mana saat bekerja dan mana saatnya bersenang-senang. Saat jam kerja, ya optimalkan buat menyelesaikan semua pekerjaan terlebih dahulu. Jangan malah diselingi dengan hal-hal seperti main games, ngegosip atau browsing online shop.

Sebenarnya boleh-boleh saja kalau hanya sejenak biar gak terlalu jenuh, tapi kalau memakan waktu kerja, ya jangan dong! Kalau sudah begini, bukan gak mungkin weekend juga jadi terpaksa kerja deh demi menyelesaikan deadline.

3. Sadari bahwa kita karyawan

Kalau kerja keras demi membesarkan bisnis sendiri sih gak apa-apa ya. Tapi kalau kita masih jadi karyawan dan gak ada reward yang jelas akan kerja keras kita, ngapain juga ngoyo pulang sampai tengah malam atau mengorbankan waktu bareng keluarga?

Perlu disadari, selama kita masih jadi karyawan, kita gak akan naik kelas jadi pemilik perusahaan kalau masih bekerja untuk orang lain. Status kita bakal tetap jadi karyawan walaupun bekerja sekeras apa pun. Memang karier kita mungkin bisa menanjak lebih cepat, tapi status gak berubah.

Jadi daripada bekerja terlalu keras buat perusahaan orang, lebih baik alihkan fokusmu untuk merintis bisnis sendiri. Ini bisa dimulai sebagai bisnis sampingan. Nanti setelah bisnismu berkembang, baru deh kamu resign dan fokus mengelola bisnismu.

workaholic buat keuangan
Walau cuma angkringan yang penting kan milik sendiri (Usaha Sendiri / blogspot)

Kalau emang gak ada lemburan ngapain sih kerja melampaui jam kerja sampai overdosis dan mengorbankan waktu berkualitas buat bareng teman dan keluarga? Jangan habiskan hidup dengan kerja terus-menerus ya. Hidup ini bukan hanya tentang bekerja, walau setiap manusia butuh bekerja buat penghidupan.

Intinya sih bagaimana kita bisa memiliki time management yang baik agar gak berat sebelah. Hidup ini indah, banyak hal lain yang bisa kita lakukan seperti traveling, diskusi bareng keluarga atau teman, dan masih banyak lagi.

Lakukan segala sesuatunya sesuai porsi saja ya, biar hidup kita juga lebih berkualitas. Interaksi dengan sekitar itu gak kalah pentingnya sama pencapaian karier atau besarnya gaji. So, mulai sekarang coba kerja cerdas ya, bukan kerja keras semata!

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Ini 7 Tanda Kalau Pekerjaan Telah Mengambil Alih Hidupmu]

[Baca: Hari Gini Gak Memiliki Sikap Kompetitif Bisa Kegilas Loh]

[Baca: Mumpung Masih Muda Komit Lakuin Lima Hal Ini Buat Masa Depan Gilang Gemilang]