Ternyata, Ini 3 Sektor Penyelamat Indonesia dari Krisis Moneter 1998

Dalam upaya mencegah krisis moneter dan memperkuat rupiah, Sandiaga Uno menukarkan aset dolar Amerika Serikat yang ia miliki. Dilansir dari Liputan6, Sandiaga mengaku telah menukarkan US$1.000 dan 40 persen dari aset dolar lainnya ke dalam bentuk rupiah. Selain menukarkan dolar, Sandi juga mengimbau masyarakat khususnya para konglomerat Indonesia untuk melakukan hal serupa demi menguatkan nilai rupiah.

Apa yang dilakukan Sandi ini bisa dibilang bentuk nyata dari Gerakan Aku Cinta Rupiah (GACR). Mungkin kamu gak asing sama nama gerakan ini. Saat krisis moneter 1998 lalu, aksi ini diprakarsai oleh putri Presiden Soeharto, Tutut Hadiarti Rukmana.

Kala itu, Aku Cinta Rupiah bahkan dikampanyekan lewat lagu oleh penyanyi cilik Indonesia, Cindy Cenora. Sayangnya, meski lagu tersebut populer dan masih diingat banyak orang hingga saat ini GACR tak terlalu memberikan dampak berarti.

Sekalipun telah banyak pengusaha dan pejabat yang merupiahkan dolar mereka, gak sedikit pula pengusaha yang tidak bersedia menukarkan aset dolar miliknya. Rupiah bahkan sempat anjlok hingga Rp 16.650 per dolar AS.

Di samping GACR, sebenarnya ada sejumlah pihak yang lebih berperan menjadi “penyelamat” krisis ekonomi 1998 silam. Berikut ini ulasannya.

UMKM

Dilansir dari Sindonews, menurut ekonom Indef Enny Sri Hartati, UMKM menjadi salah satu dewa penyelamat krismon 1998. Kala itu, UMKM bahkan menjadi sektor usaha terbesar pada perekonomian di Indonesia.

Sektor UMKM dapat menjadi penyelamat karena tidak tergantung pada mata uang asing khususnya dolar Amerika. Menggunakan bahan baku lokal, UMKM masih bisa melakukan kegiatan produksi untuk memenuhi permintaan pasar tanpa mengandalkan impor. Di sisi lain, UMKM juga mampu menyerap banyak tenaga kerja yang terkena imbas PHK saat krismon.

Di sisi lain, UMKM dapat bertahan karena umumnya barang konsumsi dan jasa yang diproduksi dibanderol dengan harga yang masih terjangkau oleh kalangan dengan pendapatan rendah.

Koperasi

Selain UMKM, koperasi juga jadi penyelamat ekonomi bangsa saat krisis 1998. Bahkan koperasi lebih mampu bertahan dibanding perusahaan-perusahaan swasta yang berakhir gulung tikar.

Saat sektor perbankan mengalami keterpurukan akibat kenaikan suku bunga, koperasi menjadi pembantu dana utama UMKM untuk dapat tumbuh pesat. Koperasi juga menjadi solusi bagi sebagian besar masyarakat yang pengajuan pinjamannya ditolak oleh bank kala itu.

Petani

Pertanian  juga menjadi fondasi ekonomi nasional. Salah satu caranya adalah dengan mengubah strategi pembangunan pangan mandiri dari bahan-bahan yang dihasilkan petani sendiri. Dengan tidak mengimpor sejumlah produk pangan hasil tani, ekonomi nasional pun dapat terselamatkan.

Meski begitu, membandingkan krisis moneter 1998 dengan kondisi perekonomian saat ini bukanlah hal yang perlu dilakukan. Dilansir dari Detik, menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, kondisi saat ini dan waktu krisis moneter 1998 sangat jauh berbeda.

Dahulu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar terjadi ratusan persen. Rupiah yang awalnya sekitar Rp 2.800 melonjak hingga Rp 16.650. Sementara saat ini meski telah menyentuh Rp 15.000, titik awal rupiah pada pemerintahan kabinet kerja berada di angka Rp 12.000. Lagipula, nilai Rp 14.000 saat ini dengan Rp 14.000, 20 tahun yang lalu tentu jauh berbeda.

Sri Mulyani bahkan mengimbau marsyarakat untuk tak perlu merasa panik. Sebab meski rupiah sedang melemah, fundamental Indonesia dalam kondisi yang baik.

Yah, mari kita doakan saja semoga rupiah bisa segera menguat kembali.