Tarif Ojek Online Turun, Ini Beberapa Dampak Ekonominya!

Ojek online atau daring telah menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia utamanya di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Kehadiran ojek online seakan menjadi solusi ditengah sekelumit kisah klasik layanan transportasi umum di Indonesia.

Persoalan tarif, keamanan, kenyamanan, hingga ketepatan waktu menjadi pertimbangan kuat bagis pengguna ojek online. Dampaknya, tarif angkutan primadona masyarkat ini sangat mempengaruhi perilaku penggunanya.

Karena berkaitan dengan biaya transportasi harian, hingga pertumbuhan ekonomi. Sebab, saat ini keberadaan mereka bukan lagi sekedar transportasi berbasis aplikasi. Tapi juga telah menjelma menjadi ekosistem ekonomi digital.

Didalamnya terdapat layanan pesan antar makanan dan minuman, logistik, belanja online, hingga industri. “Ini tidak hanya bicara transportasi, tapi juga logistik, transportasi, dan industri, baik yang terkait langsung maupun tidak,” ujar Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal.

Setidaknya bisnis seperti Gojek atau Grab ini berdampak terhadap 10 sektor usaha, mulai dar, pariwisata, restoran, hotel, hingga pakaian jadi.

Dengan demikian, persoalan tarif Gojek dan kawan-kawan harus dilihat secara hati-hati, sebab jika tarif ojek online mengalami kenaikan bisa mengubah perilaku konsumen. Hingga nantinya menekan daya beli konsumen itu sendiri karena pengeluaran biaya transportasi akan meningkat.

Pendapatan Driver Turun Drastis

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) Rumayya Batubara mengungkapkan, kenaikan tarif ojek online juga akan berdampak pada permintaan konsumen.

“Naiknya tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen sampai 71,12 persen,” kata Rumayya.

Selain itu, Fithra memperkirakan, jumlah pengemudi ojek online di Indonesia mencapai lebih dari 2 juta orang. Mereka juga telah mendapatkan penghasilan yang lebih besar setelah menjadi driver mereka.

Dampaknya, jika tarif mengalami naik, maka potensi penurunan orderan akan tinggi dan berdampak pada kehidupan para driver. Selain juga perilaku konsumen yang akan kembali menggunakan kendaraan pribadi. Seperti halnya meninggalkan transportasi umum seperti bus, Transjakarta, Commuterline.

“Pendapatan mereka naik dua kali lipat setelah bergabung. Bayangkan kalau tarif naik dan pendapatan mereka turun,” paparnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah