Surat Terbuka untuk Temanku yang Punya Utang Sama Aku

‘Hai Ni, apakabar? Gimana ayah lo udah sehat kan?.’ Mira mengirim pesan bbm ke temannya Nia. ‘Eh Ra, sori ya gue belum bisa bayar utang gue ke elo, secepatnya deh, udah dulu ya Ra!!’ Jleb…

Dapet balasan yang gak nyambung kayak gitu bikin Mira ngerasa sedih loh. Karena maksud Mira emang mau tanya keadaan ayah Nia, kebetulan Mira dan Nia udah temenan dari jaman SD.

Kamu pernah ngalamin yang kayak gini gak? Di mana teman yang ngutang sama kamu berubah jadi super sensi ala drama queen sinetron gitu setiap kamu berusaha berkomunikasi sama mereka.

Hubungan pertemanan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun berubah seketika itu juga semenjak teman meminjam uangmu. Kehadiran kita lewat media ataupun langsung berubah jadi bak dementor di film Harry Potter.

Lebih parahnya mereka kadang juga bikin kita merasa kayak debt collector!

So, buat temanku yang punya utang sama aku, tolong simak baik-baik ya curahan hatiku untukmu…

1. Kenapa kamu selalu mencurigai perhatian-perhatianku

Semenjak kamu ngutang, semenjak itu pula kamu berubah. Setiap aku menanyakan kabarmu, kamu selalu mencurigai perhatianku hanya modus untuk menagih utang. Saat aku kangen pengin ngerumpi atau sekedar ngopi-ngopi cantik, kamu selalu menolak dengan alasan sibuk.

Aku memang kangen kamu, dan perduli dengan keadaan kamu. Bukan modus untuk menagih utang kok, ciyusan deh. Bukankah kita sudah berteman lama? Kenapa kamu gak percaya lagi denganku?

2. Tiba-tiba aku bagai dementor buatmu

temanku yang punya utang

Hiiiy…atut ada Dementor…! (Dementor / Pining) 

Setiap kita tanpa sengaja berpapasan di lorong gedung kantor, kamu kaget sampai seperti mau pingsan. Apakah aku sudah bagaikan dementor bagimu?

Padahal aku sendiri kadang lupa kalau kamu masih ngutang sejumlah uang sama aku loh. Bisa-bisanya kamu yang tadinya lagi bercanda bareng teman-teman satu tim, langsung manyun pas aku lewat.

3. Salahkah aku kalau menagih

Saat pertama kali kamu datang padaku dengan wajah lesu dan memelas, kamu janji akan mengembalikan uang yang kamu pinjam dalam waktu dua bulan. Sekarang sudah 4 bulan berlalu, jadi aku mencoba menagih janjimu baik-baik.

Tapi, apa yang kudapat? Kamu terus berkelit bahwa kebutuhanmu masih banyak, jadi belum bisa mengembalikan uang yang kamu pinjam dariku.

Bahkan kamu jadi kasar, marah-marah dan menuduhku sebagai teman yang gak pengertian. Aku cuma menagih janji, ingat ya, utang adalah janji dan janji harus ditepati. Kan kamu sendiri yang berjanji padaku, bukan aku yang menetapkan waktu pengembalian utangmu.

temanku yang punya utang

Bayarin dulu bro, nanti gue ganti (kapan-kapan), modus ah! (Animasi / Tinypic) 

4. Kenapa kamu egois

Suatu ketika aku melihat instagrammu dipenuhi dengan foto-foto liburan yang sangat menyenangkan. Lalu gak lama kemudian kau tampak asyik ber-selfie ria dengan baju-baju dan sepatu baru. Aku pikir kamu sudah memiliki dana lebih, jadi aku pikir aku menagih utang sah-sah aja dong.

Tapi kamu tetap berkelit dan menghindar dengan memberi seribu satu macam alasan. Kamu bilang kalau liburan itu hadiah menang kuis atau apalah aku gak ngerti. Lalu baju dan sepatu baru itu juga pemberian teman. Sekali lagi aku cuma bisa pulang dengan tangan hampa.

Kamu gak tahu ya kalau aku juga lagi butuh uang sejumlah yang kamu pinjam untuk tambahan biaya sekolah adikku. Kenapa kamu bisa seegois itu sahabat kecilku? Ya sudahlah, mungkin kamu lebih membutuhkannya.

5. Kamu bagai orang asing

Semenjak kamu meminjam uang ke aku, sejak saat itu pula kamu berubah. Makin jauh dan kita bagai orang yang gak kenal. Pernah beberapa kali kita bertemu di mall dekat kantor, mata kita saling beradu pandang, aku tersenyum tapi kamu gak. Kamu malah melengos dan asyik berbincang sama teman-teman kamu yang lain.

Apakah kamu lupa kita sudah berteman belasan tahun? Sueeer deh, setiap kita ketemu aku gak pengin nagih utang kok. Tapi kalau kamu punya kesadaran sendiri sih ya bagus. Apakah di wajahku ini sudah terlihat tulisan ‘PENAGIH UTANG’ ya di matamu?

temanku yang punya utang

Setiap papasan udah kayak debt collector, duh…sakitnya tuh di sini sis… (Tangan Meminta / Malesbanget) 

6. Akhirnya aku ikhlaskan

Setelah lelah selama berbulan-bulan menghadapi penolakan, perlakuan kamu yang jadi lebih kasar, akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengikhlaskan uang yang kamu pinjam.

Sepertinya persahabatan kita bakalan hancur kalau aku terus-menerus menagih dan mengingatkan utang itu.

Anggap saja itu bukan utang, tapi sedikit bentuk perhatianku buatmu wahai sahabat kecilku. Aku bisa mengerti mungkin permasalahan keuanganmu lebih pelik dariku. Mungkin banyak kebutuhan yang harus kau penuhi. Jadi, please, bisakah kita kembali berteman seperti dulu?

7. Kamu ulangi lagi

Suatu hari, kamu akhirnya datang menghampiriku, aku seneng deh. Wajahmu ramah dan penuh senyum, gak seperti kemarin-kemarin. Aku pun menyambut dengan terbuka.

Ketika kita selesai berpelukan dan duduk, kalimat itu terlontar dari bibirmu, ‘Say, gue boleh pinjem duit lagi gak, bener-bener butuh banget nih, gak tahu harus minjem ke siapa kalau bukan elu sahabat terbaik gue.’

Bagai kilat menyambar di siang hari aku hanya terpana menatap wajahmu yang tanpa dosa. Tapi, maaf ya kawan, aku sudah kapok dengan kejadian yang lalu.

temanku yang punya utang

Manis di bibir, mengurai kata, abis itu utang lagi deh hehehe (Berpelukan / WordPress) 

Aku sayang padamu sobat, tapi aku gak punya uang lagi untuk dipinjamkan, apalagi buat kamu.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Kalau 5 Hal Ini Ada Berarti Kamu Tipe Orang yang Suka Menumpuk Utang]

[Baca: Ini 5 Bukti Bahaya Memiliki Utang]

[Baca: Hei Atur Gaji Karyawan Baru Kalau Gak Mau Masuk Lubang Utang]