Suku Bunga Acuan Naik, Terus Ngaruhnya Apa Buat Kita?

Suku bunga acuan merupakan suku bunga kebijakan yang ditetapkan Bank Indonesia sebagai cerminan kebijakan moneter. Suku bunga acuan juga dikenal sebagai BI Rate.

Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan BI Rate sebesar 0,25 persen menjadi 4,75 persen. Keputusan ini telah berlaku efektif sejak 31 Mei lalu.

Ini menjadi kenaikan kedua dalam periode bulan yang sama. Sebelumnya, BI juga telah menaikan BI Rate dari 4,25 persen jadi 4,5 persen pada pertengahan Mei 2018.

Dana Moneter Internasional (IMF) menilai langkah kenaikan BI Rate ini sebagai keputusan yang tepat. Pasalnya, tindakan ini dianggap dapat mengantisipasi risiko terjadinya kenaikan inflasi dari penguatan dolar AS terhadap rupiah. Tapi di sisi lain, gak sedikit juga pihak yang merasa terancam dengan keputusan ini.

Memang apa sih dampak kenaikan suku bunga acuan? Apakah ada pengaruhnya buat kita?

Jelas ada dong. Kebijakan ini punya dampak bagi kita juga, baik positif maupun negatif. Mau tahu apa aja dampaknya? Yuk simak ulasannya berikut ini.

1. Rupiah jadi lebih stabil

suku bunga acuan
(image: okezone)

Kamu mungkin masih ingat kalau beberapa bulan lalu nilai dolar menguat jauh di atas rupiah hingga menembus Rp 14.200. Peningkatan suku bunga acuan dianggap dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah terhadap kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi.

Terbukti, per awal juni lalu, rupiah mulai menguat menjadi Rp 13.896 per dolar AS. Langkah ini juga sebagai antisipasi rencana Bank Sentral Amerika Serikat yang akan menaikkan suku bunganya di bulan Juni 2018. Penguatan nilai tukar rupiah juga dapat mengamankan cadangan devisa yang banyak tergerus jika rupiah melemah.

2. Investasi deposito dan surat utang jadi lebih untung

suku bunga acuan
(image: bca)

Peningkatan BI Rate memicu sejumlah perbankan untuk mengevaluasi bunga simpanan atau bunga deposito. Walau kenaikan BI Rate tak mesti diikuti kenaikan bunga simpanan, tapi tak sedikit bank yang sudah mengambil langkah terkait kebijakan ini.

Salah satu contohnya adalah Bank Central Asia (BCA) yang sudah menaikkan bunga depositonya sebesar 0,25 persen. Bukan gak mungkin jika langkah BCA disusul oleh sejumlah bank lain di Indonesia.

Selain deposito, pasar obligasi juga berpotensi merasakan dampak positif. Walau begitu, dampak ini baru akan terwujud kala kurs rupiah telah terbukti semakin menguat pasca BI rate.

Jadi, siap-siap nih alihkan dana investasimu ke deposito dan obligasi. Apalagi, kenaikan suku bunga BI ini diprediksi bakal bikin investasi di pasar modal jadi lesu. Waktu yang tepat deh buat hijrah ke deposito dan obligasi!

3. Bunga kredit naik

suku bunga acuan
(image: gobankingrate)

Kenaikan suku bunga acuan hampir pasti bakal diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit perbankan. Jadi jangan heran nih kalau lihat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor, sampai KTA (kredit tanpa agunan) pada naik beberapa bulan ke depan.

Buat yang punya kredit dengan bunga mengambang atau floating, seperti KPR perlu siap-siap nih. Ada kemungkinan cicilan KPR-mu bulan depan bakal naik.

Adapun yang pengin ngambil kredit dalam waktu dekat, coba pikir-pikir lagi deh. Bisa dibilang saat ini bukanlah waktu yang menguntungkan buat ambil kredit. Karena ya tadi itu, perbankan kemungkinan besar bakal naikkin bunga untuk produk-produk pinjaman selama beberapa waktu ke depan.

Jadi kalau kebutuhannya gak terlalu mendesak atau bisa ditunda, mending jangan ambil kredit dulu ya. Siapkan dulu keuanganmu sebelum memutuskan ambil kredit. Daripada nanti pusing sendiri bayar cicilannya kan.

4. Harga barang berpotensi naik

Saat ini masih banyak UKM maupun perusahaan besar yang mengandalkan pinjaman perbankan sebagai modal operasionalnya. Jika suku bunga kredit meningkat, mereka harus menyediakan bujet lebih tinggi.

Mau gak mau, mereka pun harus mengatur strategi agar usahanya tak berujung rugi. Salah satunya bisa dengan mengurangi produksi atau justru menaikkan harga produk yang dijual. Jadi, siap-siap harga barang jadi sedikit lebih mahal.

5. Harga properti berpotensi naik

Kerugian yang diakibatkan oleh naiknya suku bunga juga mungkin akan dialami oleh kamu yang berniat memiliki properti.

Kenaikan suku bunga akan memicu pengembang menaikkan harga propertinya. Hal ini disebabkan karena adanya kemungkinan peningkatan biaya produksi, terutama bahan pokok seperti besi dan semen.

Untuk tetap mendapatkan keuntungan, Toto Sasetyo, Direktur PT Pudjiadi Prestige Tbk bahkan merasa perlu menaikkan harga jual unit 10 persen hingga 15 persen dari harga semula.  

Okky, analis Erdhika Elit Sekuritas bahkan tak merekomendasikan untuk berinvestasi di sektor properti, mengingat kondisi ekonomi yang masih melambat.

Beragam dampak di atas adalah kemungkinan yang dapat terjadi dalam waktu dekat maupun jangka panjang. Terlepas dari dampak negatif yang mungkin terjadi, tetap ada potensi keuntungan bagi kamu yang jeli memilih instrumen investasi.

Misalnya, alih-alih berinvestasi di pasar saham, kamu bisa pilih produk-produk obligasi dan deposito. Kenaikan suku bunga biasanya akan membuat perdagangan dua instrumen investasi tersebut jadi lebih bergairah. Yuk dicoba!