Suka Gaya Hidup Mewah Kayak Pengacara Setnov ya Monggo, Asal…

Pengacara terkenal Fredrich Yunadi dengan bangga bilang ke Najwa Shihab bahwa dia suka gaya hidup mewah. Sekali liburan ke luar negeri, duit Rp 3-Rp 5 miliar keluar dari kantongnya. Itu minimal lho.

Beli tas Hermes yang harganya miliaran udah biasa. Bahkan, dalam wawancara yang sama, dia bilang duitnya gak habis dimakan 10 turunan. Wow!

Enak kali hidup Bang Fredrich Yunadi. Siapa sih yang gak mau hidup mewah?

Mungkin penghasilannya sebagai pengacara dan dari usaha lain bisa menopang gaya hidup mewah pengacara tersangka kasus e-KTP Setya Novanto itu. Selain itu, dia mungkin sudah punya rencana keuangan untuk menyokong kemewahan yang aduhai bikin ngiler itu.

Bakal beda urusannya kalau menerapkan gaya hidup mewah tanpa dukungan finansial. Ibarat rumah, di depan kelihatan pilar berdiri megah. Tapi ternyata begitu buka pintu, isinya furnitur karatan dan dinding yang retak-retak.

Sebelum kamu ikut-ikutan menerapkan gaya hidup mewah ala Fredrich Yunadi, cek dulu beberapa hal ini:

1. Yakin bisa nyokong?

gaya hidup mewah
Tenang, duit masih banyak buat digelontorin (youtube)

Kemewahan perlu sokongan duit yang gak sedikit. Lihat, apakah penghasilanmu sesuai dengan gaya hidup itu. Realistislah.

Ya, mungkin kartu kredit sangat menggoda untuk digunakan. Tapi saldo kartu kredit bukanlah duitmu. Kalau kamu menggunakannya, berarti harus melunasi. Yakin sanggup?

[Baca: Gak Mau Terjungkal ke Dalam Jurang Utang Kartu Kredit Kan? Simak 4 Hal Berikut!]

2. Mau sampai kapan?

Bisa jadi saat ini kamu leluasa terapkan gaya hidup mewah ala pengacara Setnov. Tapi apakah kemewahan itu bakal bertahan lama?

Rencana keuangan mesti memasukkan target jangka pendek, menengah, dan panjang. Apa gunanya kalau sekarang berfoya-foya tapi 5-10 tahun ke depan hidup dengan meminta-minta?

3. Perlu banget?

Skala prioritas adalah segalanya untuk membangun fondasi finansial yang kokoh seperti Tembok Cina. Pertanyaannya, apakah perlu banget bergaya hidup mewah itu sehingga jadi prioritas?

gaya hidup mewah
Daripada foya-foya, apa gak mending duitnya buat tambah modal berkarya? (europark.si)

Bandingkan tingkat keperluannya dengan hal lain, misalnya investasi buat masa depan anak. Kalau sekarang belum punya anak, mungkin ada prioritas lain yang lebih utama, contohnya mengumpulkan dana buat kawin atau buka usaha.

Intinya, hitung dengan cermat skala prioritas pengeluaranmu. Utamakan kebutuhan di atas keinginan.

[Baca: Hari Gini Kok Masih Bingung Perbedaan Antara Keinginan dan Kebutuhan]

4. Mewah atau bebas?

Kemewahan tampak menjadi tujuan yang menggiurkan. Tapi, di sisi lain, ada yang namanya financial freedom alias kebebasan finansial.

Saat seseorang mencapai financial freedom, dia gak lagi dipusingkan oleh perkara uang karena lebih dari tercukupi dalam soal finansial. Mau santai-santai tiap hari juga gak bakal terbelit masalah keuangan.

Nah, jangan-jangan yang hendak kita capai adalah financial freedom, bukan kemewahan. Faktanya, semua orang bisa tampil mewah karena ada banyak cara untuk itu, misalnya dengan utang.

Tapi gak demikian dengan financial freedom. Tanpa menunjukkan kemewahan pun kita sudah bisa dinilai orang bahwa duit adalah perkara kecil. Lihatlah Mark Zuckerberg atau Bill Gates sebagai contoh. Mereka sering terlihat biasa saja, tapi pasti gak ada yang meragukan harta mereka.

5. Siap dengan konsekuensi?

gaya hidup mewah
Bergaya hidup mewah boleh, tapi….ehm….duitnya dari mana? (twitter @genilenggo)

Menunjukkan gaya hidup mewah artinya siap menanggung segala konsekuensi yang datang karenanya. Setelah Fredrich Yunadi mengungkap betapa amboinya gaya hidup yang ia terapkan, langsung netizen mention akun Twitter Direktorat Jenderal Pajak.

Selanjutnya, dia menjadi perhatian Ditjen Pajak untuk ditelusuri soal kewajiban pajaknya. Bila ditemukan pelanggaran, pasti kena sanksi.

Hal serupa juga pernah terjadi pada artis Raffi Ahmad, yang ketahuan belum bayar pajak atas mobil mewahnya. Sebelumnya, foto mobil super-mahal Raffi tersebar di medsos dan juga jadi perhatian Ditjen Pajak.

Konsekuensi lainnya adalah jadi incaran pencoleng. Melihat kemewahan yang digembar-gemborkan begitu, tidak mustahil perampok ngiler dan ingin menguasainya. Beruntung kalau jago beladiri, kalau gak? Wassalam

[Baca: Ini 5 Alasan Belajar Bela Diri Agar Dompet Terlindungi]

Pengacara Setnov boleh saja suka kemewahan. Mungkin memang dia punya dasar yang kuat untuk menyokong gaya hidupnya itu itu.

Kita mau mengikuti jejak Bang Fredrich? Silakan saja. Mau bergaya hidup apa pun gak ada yang melarang, kecuali bergaya hidup kriminal.

Yang penting, kita paham dan sadar mengenai gaya hidup tersebut. Jangan sampai gengsi membutakan hati.