Sosialisasikan 5 Hal Ini demi Kemajuan Angkutan Nasional Kita

Hayo, siapa di sini yang suka ngeluh soal sarana transportasi di Indonesia. Pemerintah sepertinya sudah mulai mendengar keluhan kita, guys!

 

Ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah demi kemajuan angkutan nasional kita. Kebijakan ini sekarang sedang giat disosialisasikan.

 

Tugas kita sekarang adalah melaksanakan kebijakan tersebut serta ikut melakukan sosialisasi agar semakin banyak masyarakat yang tahu. Apa saja kebijakan tersebut? Simak daftarnya di bawah ini:

 

1. Tak ada lagi airport tax

Ga ada lagi bayar airport tax di bandara. Kalau ada yang nagih, aduin langsung ke petugas ya!
Ga ada lagi bayar airport tax di bandara. Kalau ada yang nagih, aduin langsung ke petugas ya!

Harga tiket pesawat kini sudah termasuk airport tax alias pajak bandara atau Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U). Jadi kita gak perlu repot-repot nyiapin duit lagi pas mau check in di bandara. [Baca: Konter Tiket di Bandara Dihapus, Ini Solusi Jitunya..]

 

Dulu kan pas beli tiket online harga yang ditampilkan hanya harga tiket, belum termasuk airport tax, sehingga lebih murah. Jadinya kita cenderung langsung beli karena menganggap harganya murah. Tapi begitu di bandara baru kerasa ada duit ekstra yang harus dikeluarkan.

 

Sekarang gak perlu ribet lagi mikirin duit airport tax. Harga tiket Rp 500 ribu ya Rp 500 ribu, gak ada embel-embel lain. Pokoknya harga itu wajib sudah termasuk airport tax.

 

Di tiket pesawat, airport tax disebut Passenger Service Charge (PSC). Di setiap bandara tarif ini berbeda-beda. Biasanya pas beli tiket online sudah ada keterangan berapa besar PSC di bandara keberangkatan pesawat yang akan kita tumpangi. Daftarnya bisa dilihat di sini.

 

Kalau mau bepergian bareng temen lewat agen perjalanan dan agen itu bilang biaya tiket pesawat belum termasuk airport tax, sodorin aja Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No 12 Tahun 2015.

 

Kalau perlu, print itu peraturan terus tempel di jidat, eh, pintu travel agent tersebut. Jadi, biar gak sembarangan narik tarif tambahan.

 

2. Larangan merokok

Enak ya pak supir? Yang ga enak kita penumpangnya!
Enak ya pak supir? Yang ga enak kita penumpangnya!

Sebenarnya larangan ini sudah ada sejak zaman Indonesia masih dijajah Belanda. Gak ding, bercanda.

Larangan merokok di tempat umum diatur dalam Pergub DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok sebagaimana telah diubah dengan Pergub DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010.

 

Jadi kalau kita lihat sopir-sopir angkot enak nglepus sambil nyetir atau pas mangkal di terminal bisa kita peringatkan, kalau berani. Tapi berani sajalah, demi kemajuan angkutan nasional kita. Kalau ngalah terus sama sopir angkot yang suka seenaknya sendiri, kapan majunya Indonesia?

 

Kalau sopir angkot tertib kan kita sebagai masyarakat juga enak kalau mau pakai angkutan umum. Sudah angkotnya nyaman, kita juga bisa mengirit duit. Nah, hasil pengiritan itu bisa untuk kebutuhan lain, misalnya beli rumah buat calon istri, kalau punya. [Baca: Prosedur Beli Rumah dari Orang Supaya Enggak Nyesel Belakangan]

 

Untuk awal-awal, gak perlu negur langsung deh. Lapor saja ke telepon 0213457471 atau SMS center 085774552731 yang khusus menampung aduan soal larangan merokok di tempat umum.

 

Aturan larangan merokok gak main-main, lho. Pelanggarnya bisa dihukum maksimal 6 bulan penjara atau denda maksimal Rp 50 juta! Dyaarrr…

 

3. Harus ada rakit penolong

Sekoci memang wajib ada. Cuma kesadaran penumpang juga mustinya diwajibkan juga, ga kayak yang maksa naik kapal tapi duduk di sekocinya ini!
Sekoci memang wajib ada. Cuma kesadaran penumpang juga mustinya diwajibkan juga, ga kayak yang maksa naik kapal tapi malah duduk di sekocinya ini.

Indonesia adalah negara kepulauan, tapi sepertinya angkutan laut gak begitu menarik masyarakatnya. Padahal tarifnya termasuk murah dibanding tiket pesawat, misalnya.

 

Salah satunya, angkutan kapal laut harus memiliki rakit penolong atau sekoci jika terjadi kecelakaan sewaktu-waktu. Kebijakan ini diangkat dalam konvensi internasional tentang kapal feri yang ditandatangani Indonesia (SOLAS Convention Ferry Ro – Ro).

 

Di situ diputuskan bahwa setiap kapal harus punya sekoci yang mampu menampung minimal 50 persen dari kapasitas penumpang. Tapi kalau kapasitasnya cuma 200 orang, sekoci harus muat seluruhnya.

 

Misalnya kapal A kapasitasnya 500 orang, berarti sekocinya harus muat setidaknya 250 orang. Sebagai tambahan, rakit itu harus ada di setiap sisi kapal dan ada gambar yang menerangkan cara penggunaannya.

 

Keberadaan sekoci ini penting banget. Gak mau kan, udah bayar tiket tapi fasilitas yang wajib diberikan malah gak ada? Kayak beli motor kredit tapi gak didaftarkan ke fidusia. Kita yang rugi, Bro…[Baca: Ini Aturan Kredit Kendaraan Bermotor yang Jarang Diketahui]

 

Jadi kalau gak ada sekoci di kapal yang akan kamu tumpangi, tegur petugas kapalnya. Kalau mereka ngeyel, laporkan ke otoritas terkait, seperti Kementerian Perhubungan. Kalau tahu bahwa sekoci gak ada atau kurang pas sudah di kapal, ya udah, habis laporan terus berdoa saja di sepanjang perjalanan.

 

4. Usia bus jarak jauh

Jadi ingat dulu ketipu sama calo terminal antarkota. Pas bus-nya datang, ga taunya reyot, yot, yot.. Ga jadi pulang kampung deh, asal selamat.
Jadi ingat dulu ketipu sama calo terminal antarkota. Pas bus-nya datang, ga taunya reyot, yot, yot.. Ga jadi pulang kampung deh, asal selamat.

Menurut Peraturan Menteri Perhubungan No. 98/2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor dalam Trayek maksimal usia kendaraan adalah 25 tahun untuk layanan jarak jauh.

Tapi bukan Indonesia namanya kalau busnya gak reyot. Di situlah kadang kita merasa sedih.

 

Banyak bus jarak jauh yang usianya sudah tua tapi masih dijalankan operator. Alasannya apa lagi selain demi pengiritan.

 

Tapi pengiritan ya gak gitu-gitu amat lah yaow harusnya. Masak, keselamatan penumpang diabaikan demi menambah tebel dompet operator bus?

 

Karena itu, jika melihat bus yang kita tumpangi berusia tua dan tampak tak laik jalan, boleh kok kita menegur kondektur atau sopirnya langsung. Kalau perlu, ajak seluruh penumpang negur bareng-bareng. Tapi gak perlu sampai demo mogok makan atau bakar-bakaran, yak.

 

5. Aturan tarif progresif KRL

Sarana PT KAI Commuter Jabodetabek
Sarana PT KAI Commuter Jabodetabek

 

 

Bagi pengguna setia kereta rel listrik atau KRL Jabodetabek (Commuter Line), ada aturan tarif baru berupa sistem progresif berdasarkan kilometer yang diterapkan mulai 1 April 2015. Apa pula ini tarif progresif?

 

Jadi begini. Dulu kan tarif dihitung berdasarkan jumlah stasiun, yaitu Rp 2000 lima stasiun pertama terus Rp 500 per tiga stasiun berikutnya. Nah, tarif dihitung berdasarkan jarak tempuh.

 

Sehingga kini tarif yang dikenakan adalah Rp 2000 untuk 25 kilometer pertama dan Rp 1000 untuk per 10 kilometer berikutnya. Walau tarif berubah, pengguna KRL tetap dapat subsidi sebesar Rp 3.000 kok.

 

 

Itu lima kebijakan soal angkutan nasional yang wajib kita sosialisasikan biar dunia transportasi kita semakin maju. Kini saatnya kita berani bersuara demi kepentingan bersama. Yuuuk!

 

 

 

Image credit:

  • http://images.delcampe.com/img_large/auction/000/073/366/373_001.jpg?v=1
  • http://img.hipwee.com/cdn/wp-content/uploads/2015/03/3.11-rokokmu-membunuhku.jpg
  • http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/36672/big/lebakbulus-130802b.jpg
  • http://terasmedan.com/wp-content/themes/goodnews/framework/scripts/timthumb.php?src=http://terasmedan.com/wp-content/uploads/2013/05/km-lambelu2.jpg&h=400&w=600&zc=1
  • http://berita-taruhan.com/wp-content/uploads/2015/03/102.jpg