Sori, Ikut Buka Usaha Kekinian Gak Otomatis Bakal Ikut Sukses

Beberapa tahun belakangan banyak usaha kekinian yang populer diikuti banyak orang. Seperti cappuccino cincau, tahu bulat, sampai ayam geprek. Yang terbaru adalah es kepal Milo.

Tapi kepopuleran berbeda dengan kesuksesan. Usaha yang populer belum tentu sukses.

Lihat saja di sekeliling kita saat ini. Sekitar tiga-empat tahun silam, gerai cappuccino cincau seperti jamur di musim hujan. Ada di mana-mana. Tapi sekarang?

Atau tak usah terlalu jauh. Tahu bulat selama tahun lalu menjadi hit. Dari mobil pikap sampai gerobak dorongan menjual tahu yang digoreng dadakan dan gurih-gurih anyoi ini.

Bahkan ada game tahu bulat buat pengguna smartphone. Kebayang kan betapa ngetopnya bisnis ini?  Namun, sayangnya, usaha ini mulai redup. Suara abang-abang yang menawarkan tahu bulat tak lagi ramai terdengar.

[Baca: Murmer! Ini 7 Waralaba Makanan Bermodal Kurang dari Rp 9 Juta]

Fenomena ini banyak dialami usaha kekinian dengan sistem franchise alias waralaba. Awalnya, sebuah usaha mendadak populer dan kesuksesannya gencar diberitakan media.

Omzetnya sekian puluh juta rupiah. Pelanggannya dari A sampai Z. Dan gampang kalau mau kerja sama dengan sistem franchise.

Akhirnya, banyak orang yang ngiler mengetahui keterangan itu. Mereka pun berduyun-duyun mengeluarkan duit agar bisa ikut menjalankan usaha yang sukses itu. Harapannya, mereka bisa ikut sukses.

Namun namanya juga bisnis. Tak ada yang pasti. Keliru kalau menganggap mengekor kesuksesan orang lain dalam usaha itu pasti bernasib sama dengan yang diikuti.

Ada beberapa alasan yang dianggap memicu senjakala bisnis franchise tersebut, baik buat pemilik maupun pembeli merek waralaba. Berikut ini di antaranya seperti dihimpun dari berbagai sumber:

1. Modal dan fee tak terjangkau

usaha-kekinian
Sempat gak dijadikan franchise, Markobar kini bisa dibeli namanya sebagai mitra. Siapkan Rp 300 juta tapi ya (infowanacita.com)

Makin besar nama franchise, makin besar pula modal serta royalti yang mesti disetorkan. Markobar, misalnya, mensyaratkan biaya Rp 300 juta untuk kerja sama waralaba.

Itu belum termasuk fee yang mesti dibayarkan rutin tiap bulan sebagai bagian dari keuntungan bisnis. Masalahnya, tak sedikit yang memaksa membeli bisnis waralaba meski harganya sebenarnya tak terjangkau.

Mereka rela meminjam duit dengan harapan cepat balik modal karena nama besar merek tersebut. Namun ya itu tadi. Harapan kadang tak sesuai dengan kenyataan.

Besarnya modal dan fee justru bisa menjadi bumerang buat pemilik maupun pembeli merek franchise. Dari sisi pembeli, utang bisa menjerat ketika profit bisnis tak sebesar yang diharapkan. Pelunasan jadi seret dan akhirnya macet. Walhasil, bisnis tutup lantaran tak ada lagi dana.

Adapun buat pemilik franchise usaha kekinian, tutupnya satu mitra bisa mencoreng nama baik. Akan ada anggapan bahwa bisnis itu mulai redup atau hal-hal negatif lain yang bakal berpengaruh ke mitra lain, dan akhirnya si pemilik nama sendiri.

2. Bahan baku susah atau mahal

usaha-kekinian
Konsep waralaba sebenarnya simpel. Yang susah adalah mempertahankan usaha itu (pinterest)

Dalam sistem franchise, ada kewajiban mitra membeli bahan baku dari pemilik merek. Hal ini bisa jadi keuntungan, tapi bisa juga merugikan.

Bila harga bahan baku sama dengan harga pasaran, tentunya mitra bakal senang. Tapi kalau di atas harga pasaran, justru akan menjadi beban baru. Terlebih bila ada embel-embel bahan baku susah didapatkan.

Tingginya harga bahan baku membuat mitra kerepotan memenuhi kewajibannya. Apalagi saat usaha belum begitu ramai. Beban pengeluaran bertambah, sementara pemasukan belum naik signifikan. Kalau tak segera ditangani, usaha bisa limbung dan risikonya adalah layu sebelum berkembang.

[Baca: Mau Usaha Es Kepal Milo? 4 Waralaba Ini Bisa Jadi Pilihanmu]

3. Sistem kontrol tak berjalan

Pemilik nama waralaba wajib menjalankan sistem kontrol terhadap mitra. Tapi, di lapangan, gak jarang sistem tersebut tak berjalan.

Ada yang beli bahan baku di luar, pengemasan ala kadarnya, kebersihan tak terjaga, dan lain-lain. Hal itu jelas bakal mempengaruhi bisnis waralaba secara keseluruhan.

Mitra waralaba yang berharap sukses adalah yang pertama terkena dampak. Pelanggan bakal menilai negatif mitra tersebut. Harapan untuk sukses semestinya diikuti dengan kepatuhan pada aturan, meski kontrol minim.

Adapun akibatnya buat pemilik waralaba sama seperti poin pertama, yakni jatuhnya nama yang dalam jangka waktu tertentu bisa menggoyang bisnis secara keseluruhan. Sebaiknya, jika ingin ikut sukses, mitra mengingatkan si pemilik nama agar melakukan kontrol agar berdampak baik buat kedua belah pihak.

4. Minim inovasi

usaha-kekinian
ni nih usaha kekinian yang baru populer. Tapi apakah bisa tahan lama? (twitter)

Dalam poin ini, kesalahan utama terletak di sisi pemilik waralaba. Saat sukses dengan satu produk, mestinya tetap harus ada inovasi agar kesuksesan itu bertahan dan menular ke produk lain.

Sayangnya, gak sedikit yang cepat puas dengan kondisi usaha kekinian saat itu. Inovasi pun tak dilakukan. Dampaknya adalah pelanggan jadi bosan karena ditawari produk yang itu-itu saja.

Mitra yang kena getahnya. Karena tak boleh mengutak-atik produk waralaba, mereka hanya bisa terima-terima saja ketika tak ada inovasi. Maka, pilihannya hanya satu: putus mitra dan bikin usaha sendiri dengan bekal pengalaman usaha waralaba sebelumnya.

Empat poin di atas hanyalah contoh. Tak semua waralaba punya masa depan yang sama. Tapi, jika kamu berniat buka usaha kekinian dengan konsep franchise, mesti pintar-pintar menyiapkan strategi.

Meski sudah ada panduan dari pemilik nama franchise, tak ada salahnya kamu juga menjalankan strategi sendiri selama gak menyimpang dari kontrak kerja sama. Toh, tak ada jaminan 100 persen pasti dari pemilik franchise bahwa usaha tersebut bakal sukses. Kesuksesan itu direbut sendiri, bukan dibeli.

[Baca: Mau Jadi Pengusaha, Pilih Waralaba atau Produk Sendiri ya?]