Simulasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) oleh Rizal yang Bergaji Rp 3 – 5 Juta

Dua tahun berlalu sejak Rizal memutuskan menabung untuk membeli rumah. Rizal sempat ingin membeli rumah seharga Rp 300 juta ke atas. Tetapi, buat dia, membayar cicilan selama 20 tahun itu terlalu lama. [Baca Artikel Sebelumnya: Rizal, Bergaji Rp 3-5 juta, Ingin Kredit Rumah]

 

Jadi Rizal memutuskan membeli rumah seharga Rp 150 juta agar bisa mencicil selama 10-15 tahun. Tentunya dengan modal Rp 30 juta yang sudah ditabung selama dua tahun.

 

Mengingat rumah di daerah kerja Rizal di tengah Jakarta gak mungkin murah, maka Rizal mencari di tempat lain. Akhirnya Rizal memilih mengambil rumah di daerah Tangerang Selatan yang berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan.

 

[Baca: Beli Rumah Murah Di Jakarta Masih Bisa Kok! Begini Caranya]

 

Ke bank harus berpakaian rapi, biar lebih meyakinkan. Pakai sepatu juga, jangan sandal jepit. Pakai peniti lagi.

 

 

Dengan kondisi seperti itu, tentunya ada prosedur yang harus ditaati oleh Rizal sebelum mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Tiap bank memiliki KPR dengan persyaratan yang berbeda-beda.

 

Selain harga rumah dan besaran uang muka, ada beberapa hal yang musti diperhatikan Rizal:

 

  1. Biaya tanda jadi
  2. Biaya administrasi
  3. Biaya appraisal
  4. Biaya provisi
  5. Asuransi
  6. Biaya notaris

 

Rizal pun mengerti bahwa tidak hanya uang muka yang harus dipersiapkan. Maka ia memutuskan untuk mengajukan aplikasi KPR ke bank XYZ yang memberi fasilitas DP minimal 10 persen.

 

Inilah simulasi kredit pemilikan rumah  oleh Rizal:

 

Dari Rp 30 juta tabungannya, Rizal hanya akan menggunakan Rp 15 juta untuk uang muka rumah yang seharga Rp 150 juta. Sisa Rp 15 juta lainnya akan dipakai untuk membayar biaya-biaya lainnya yang dijabarkan di atas.

 

Dengan begitu, utang pokok Rizal adalah :

 

Harga rumah : Rp 150 juta

DP : Rp 15 juta

Utang pokok : Rp 150 juta – Rp 15 juta = Rp 135 juta (plafon kredit)

 

Biaya rumah kalau gak dihitung-hitung bisa bikin surprise, olahraga jantung.

 

 

Seperti banyak bank lain, bank yang dipakai Rizal menerapkan bunga tetap (flat) pada cicilan 2 tahun pertama, dalam hal ini sebesar 5 persen. Kebanyakan bank memang punya kebijakan memberikan bunga KPR tetap 1-2 tahun pertama buat menarik masyarakat.

 

[Baca: Pahami Jenis-Jenis Bunga Kredit Bank]

 

Setelah 2 tahun, bunga yang dipakai berjenis mengambang (floating) alias berubah bergantung pada pasar. Untuk kasus Rizal, dengan asumsi tenor 12 tahun (144 bulan) serta bunga flat 5 persen pada 2 tahun pertama, maka besar cicilan didapat dengan rumus:

 

Rumus cicilan 2 tahun pertama:

 

Cicilan pokok : Utang pokok/tenor= Rp 135 juta/144 bulan = Rp 937.500

Bunga :Saldo pokok sebelumnya x 5%/12 bulan

 

*Saldo pokok adalah sisa utang pokok yang belum terbayar. Dengan bunga efektif, besarnya selalu berkurang dari cicilan bulan pertama sampai terakhir. Pada cicilan pertama, besar saldo pokok sama dengan utang pokok

 

Jadi, cicilan pada 2 tahun pertama yang harus ditanggung Rizal adalah:

 

Cicilan pokok = Rp 937.500

Bunga = (Rp 135 juta x 5%) / 12 bulan = Rp 562.500

Jumlah cicilan = cicilan pokok + bunga = Rp 1.500.000

 

Jadi selama 2 tahun Rizal harus membayar Rp 1,5 juta tiap bulan untuk cicilan dengan bunga flat 5 persen. Itu artinya Rizal akan membayar total Rp 1,5 juta x 24 bulan= Rp 36 juta. Dengan demikian, utang pokoknya tersisa Rp 135 juta- Rp 36 juta= Rp 99 juta.

 

Setelah 2 tahun, tibalah saatnya bagi Rizal untuk membayar cicilan dengan bunga floating. Rumusnya sama dengan cicilan 2 tahun pertama. Tapi, perhitungan dimulai dengan utang pokok Rp 99 juta.

 

Cicilan setelah 2 tahun:

Utang pokok = Rp 99 juta

Cicilan pokok= Rp 937.500

Bunga = (Rp 99 juta x 10%) / 12 bulan = Rp 825.000

 

Jumlah cicilan pertama setelah 2 tahun = cicilan pokok + bunga = Rp 1.762.500

 

Dengan mekanisme bunga efektif, jumlah cicilan Rizal akan berkurang dari bulan ke bulan. Sebab bunga dihitung dari saldo pokok-cicilan sebelumnya. Jadi besar cicilannya pada bulan kedua:

 

Bunga efektif = {(saldo pokok-cicilan sebelumnya) x 10%} / 12 bulan

= {(Rp 99 juta – Rp 1.762.500) x 10%} / 12 bulan = Rp 810.312

 

Jumlah cicilan kedua setelah 2 tahun = cicilan pokok + bunga = Rp 1.747.812

 

Mekanisme tersebut berlanjut sampai cicilan lunas. Sekali lagi, karena KPR yang diambil Rizal menerapkan bunga floating seelah 2 tahun, berarti bunga itu bisa berubah. Bila misalnya bulan ini bunga 10%, bisa saja bulan depan naik jadi 12% atau malah turun jadi 9% atau bisa juga tetap 10 persen seperti simulasi di atas.

 

Akad kredit ditandatangani ya, jangan dicap jempol.

 

 

Dengan perhitungan tadi, setidaknya Rizal harus menyisihkan 1,5 juta per bulan selama 2 tahun, kemudian Rp 1,7 jutaan pada cicilan berikutnya sehingga cicilan KPR lunas 12 tahun kemudian.

 

Rangkuman cicilan KPR Rizal :

  • 2 tahun pertama = Rp 1,5 juta per bulan (bunga flat)
  • Tahun ketiga sampai lunas = Rp 1,7 jutaan (bunga floating)

 

Dengan kebiasaan Rizal yang tidak pernah absen touring bersama klub motornya, belum lagi kebiasaan nongkrong hampir tiap malam, Rizal harus pandai-pandai mengatur keuangannya. Sebab bisa-bisa Rizal malah harus ngutang lagi untuk bertahan hidup.

 

Rizal harus bisa berhemat untuk mendapatkan rumah yang dia inginkan, caranya antara lain:

 

Gak ada yang lebih melegakan daripada senyum bahagia punya rumah sendiri. Makanya, hemat!

1. Turunkan Intensitas Menuruti Hobi

Dalam kasus Rizal, touring setiap minggu adalah pengeluaran yang cukup besar. Sekali touring bisa habis 200 ribuan. Kalau dikali empat? Duh…

 

Karena itu, Rizal memutuskan vakum dari dunia touring dulu, kecuali ada touring yang besar dan menarik. Untuk menjaga silaturahmi dengan klub motornya, dia tetap nongkrong, tapi lebih membatasi waktu dan pengeluaran saat nonkrong.

 

2. Kontrol Pengeluaran Rutin

Tentunya Rizal susah diminta ngurangin frekuensi makan seperti ngurangin intensitas hobi. Tapi ada yang bisa dia lakukan untuk mengurangi biaya makan. Seperti mengurangi makan di luar dan masak sendiri.

 

Untungnya Rizal punya rice cooker hasil door prize acara di tempat kerjanya. Benda kecil itu membantu banget buat ngurangin pengeluaran makan Rizal.

 

Bayangkan, sekali makan di luar, satu porsi nasi putih umumnya dipatok Rp 4 ribu. Kalikan Rp 4 ribu tersebut dengan 3 kali sehari, lalu kalikan 30 hari untuk hitungan sebulan.

 

Rp 4 ribu x 3 x 30 hari = Rp 360 ribu. Lumayan banget kan duit yang bisa dihemat.

 

3. Hapus Sepenuhnya Pengeluaran Tidak Perlu

Untuk beberapa orang, justru bagian ini yang akan terasa berat. Sebab suatu pengeluaran ini bisa jadi dianggap gak perlu oleh orang lain, tapi perlu banget buat diri sendiri.

 

Contohnya rokok. Rizal dulu kalau ngerokok sudah kayak corong pembuangan pabrik, gak berhenti ngepulin asap. Tapi sejak dia tahu banyaknya duit yang bisa dihemat dari rokok, dia stop ngerokok sampai sekarang. [Baca: Cara Menambah Duit dari Rokok. Iya, Serius, Rokok!]

 

 

Kalau kamu punya situasi dan kondisi yang serupa dengan Rizal, simulasi kredit pemilikan rumah di atas bisa dijadikan panduan buat beli rumah lewat KPR. Kalau kondisimu berbeda, tinggal utak-atik angka cicilan di atas agar sesuai.

 

Yang pasti, hanya ada satu anjuran global yang berlaku untuk siapa pun yang ingin membeli sesuatu dengan cara kredit agar cicilan lunas tapa hambatan: berhemat!

 

 

 

Image credit:

  • http://kreditur.net/wp-content/uploads/2013/10/mandiri1.jpg
  • https://putroperdana.files.wordpress.com/2012/09/legaldocumentsignatureline1.jpg
  • http://admin.metrobrokers.com/files/2014/09/Young-Asian-family-with-one-child-kid-sitting-on-blanket-in-front-of-home-smiling_0.jpeg
  • http://www.adnetindo.com/wp-content/uploads/2015/05/biaya.jpg