Simak Nih Strategi Puaskan Hobi dengan Menumpuk Rezeki

Hampir setiap orang punya aktivitas yang sangat disukai alias hobi. Makanya, sebisa mungkin mereka mencocokkan pekerjaan dengan hobi itu.

strategi puaskan hobi
hobi orang memang beda-beda salah satunya hobi ngadu domba! (adu domba / bisniswisata)

Namun mencari pekerjaan semacam itu bisa sangat susah. Bahkan sama susahnya dengan mencari jodoh.

Salah satunya adalah hobi yang berhubungan dengan kerajinan. Suka jahit-menjahit, misalnya. Kalau kerja di pabrik jadi buruh jahit, penghasilannya tentu bakal berbeda dengan pegawai bank.

Jadi, kerjaan yang berkaitan dengan hobi itu kurang memadai dari segi penghasilan. Kasus kayak gini sering dijumpai orang.

Tapi selalu ada jalan. Kalau memang mau memuaskan hobi sambil menumpuk rezeki, kenapa gak buka usaha sendiri saja?

Bisnis kerajinan punya potensi yang menggiurkan. Dari satu bidang, bahkan bisa dikembangkan ke bidang lainnya.

Dan yang lebih menarik, modalnya gak perlu besar. Cukup dengan Rp 5 juta saja bisa langsung jalan.

Berikut ini kita ambil contoh rencana usaha bisnis kerajinan suvenir gantungan kunci dari kain flanel. Pasar bisnis ini terutama mereka yang hendak menggelar pernikahan.

Pasar ini selalu ramai. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah rumah tangga di Indonesia meningkat tiap tahun.

Tiap tahun ada ratusan pasangan yang menikah. Artinya, keutuhan akan suvenir pernikahan juga terus ada. Tinggal bagaimana kita mengolah usaha agar dilirik banyak calon pasutri baru.

Modal

1. Kain flanel : Rp 25 ribu per meter (100 x 92 cm) x 16  = Rp 400.000

2. Gunting zigzag: Rp 80.000 x 2 = Rp 160.000

3. Gunting biasa: Rp 50.000 x 2 = Rp 100.000

4. Mesin jahit : 2 x Rp 1 juta = Rp 2 juta

5. Benang aneka warna : 1 pak (24 item) = Rp 50.000

6. Lem UHU : 4 x Rp 10.000 = Rp 40.000

7. Dakron : 1 kilo x Rp 50.000 = Rp 50.000

8. Gantungan kunci ring: 350 x Rp 700 = Rp 245.000

9. Mata boneka : 4 x 1 pak (300 pieces) x Rp 10.000 = Rp 40.0000

10. Karyawan: 2 x Rp 750.000 (disesuaikan) = Rp 1.500.000

Total: Rp 4.585.000

Angka itu cukup untuk mengawali bisnis kerajinan suvenir pernikahan dengan jumlah tamu 300 undangan. Jika harga per suvenir dihitung Rp 5.000, pemasukannya 300 x Rp 5.000 = Rp 1.500.000 per order.

Andai bisa menerima setidaknya 1 order per minggu, omzet per bulan mencapai Rp 1.500.000 x 4 = Rp 6.000.000.

Jumlah yang sangat menggiurkan bukan? Bahkan angka itu bisa diperbesar jika kita bisa memperlebar sayap usaha, gak cuma bisnis kerajinan.

strategi puaskan hobi
kerajinan tangan rajut kulit menjadi tas cantik dan mewah (tas rajut / rutinacorner)

kerajinan tangan rajut kulit menjadi tas cantik dan mewah (tas rajut / rutinacorner)

Saat akan menikah, umumnya orang gak mau cari ribet. Kita bisa menawarkan suvenir sekaligus undangan, misalnya. Kalau tamu ada 300 dan harga undangan per lembar Rp 5.000, sudah ada tambahan pemasukan Rp 1.500.000 per order.

Meski begitu, akan lebih baik jika berfokus pada satu bidang usaha dulu untuk awal-awal. Soalnya, bukan gak mungkin konsentrasi terpecah karena mengurusi banyak hal sekaligus.

Kunci untuk menjalankan bisnis yang sukses adalah kepercayaan pelanggan. Sekali mereka percaya, sudah. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah mempertahankan kualitas.

Dalam bisnis kerajinan suvenir pernikahan, salah satu cara untuk menggaet kepercayaan pelanggan adalah merampungkan order tepat waktu.

Selain itu, harus bersikap ramah dan responsif. Wajar kalau calon pengantin baru agak cerewet. Kita hanya bisa memberikan saran. Jika mereka gak mau, ya sudah ikuti saja.

Menjalankan bisnis sendiri berbeda dengan menjadi karyawan. Kalau jadi karyawan tinggal tunggu tugas saja.

Sedangkan berbisnis harus menguasai banyak bidang sekaligus, terutama marketing. Kita mesti cari job, negosiasi, mengerjakan pesanan, sampai menerima keluhan.

strategi puaskan hobi
Harus bisa multitasking (multitask man / thegraduatecoachingpartnership)

Untuk itu, menjadi pengusaha gak hanya diperlukan modal. Modal bisa dicari kok. Banyak pinjaman di luar sana, dari yang konvensional sampai syariah.

Yang juga dibutuhkan adalah rencana bisnis yang matang. Kalau prinsipnya “yang penting usaha jalan dulu”, jangan heran kalau nanti harus kembali jadi karyawan karena usaha gulung tikar.

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Pahami Jenis Kredit UKM yang Bisa Jadi Pilihan Sumber Modal]

[Baca: 5 Hal Soal Keuangan yang Patut Ditanyakan ke Pasangan Sebelum Menikah]

[Baca: Kisah Inspiratif 5 Pengusaha Muda Usia 20 Tahun yang Bisa Kamu Tiru]