Siasat Mengatur Pengeluaran di Bulan Puasa Biar Kantong Aman

Pekan ini sudah masuk bulan puasa. Logika awal yang muncul dari bulan puasa adalah budget belanja bakalan berkurang.

 

Harusnya begitu karena ketika berpuasa pastinya jatah makan siang ditiadakan. Sedangkan sarapan waktunya hanya digeser saat sahur dan makan malam saat berbuka.

 

Faktanya tidaklah demikian. Pengeluaran malah membengkak karena banyak orang malah lebih konsumtif di saat bulan puasa. Anehnya, pengeluaran jadi lebih besar dua sampai tiga kali lipatnya.

 

Rata-rata pengeluaran habis untuk ‘mengunyah’ sebagai motif balas dendam setelah seharian berpuasa. Kadang ada pengeluaran tak terduga saat ikut buka bersama.

 

Sulit rasanya mengelak undangan buka bersama dari kolega maupun teman-teman sekolah dulu di sebuah restoran. Parahnya, undangan itu datang hampir setiap hari.

 

Belum lagi mesti mempersiapkan budget khusus jelang lebaran. Budget untuk belanja baju baru, panganan, sampai menganggarkan dana untuk mudik yang jumlahnya tentu tak sedikit.

 

Situasi ini menegaskan betapa sulitnya membenarkan logika kalau bulan puasa bakal lebih hemat lantaran tak makan minum selama 14 jam lamanya. Biar enggak kejadian, perlu dong strategi ‘penyelamatan’ dan pentingnya mengatur pengeluaran di bulan puasa.

 

Rencanakan daftar detail pengeluaran

Yuk luangkan waktu hitung-hitungan pengeluaran
Yuk luangkan waktu hitung-hitungan pengeluaran

 

 

Mumpung baru permulaan bulan puasa, buruan bikin anggaran yang detail kebutuhan apa saja di bulan puasa. Misalnya saja makanan bergizi, buah-buahan, maupun makanan suplemen tambahan agar tubuh tetap fit selama puasa.

 

[Baca: Ketahui Menu Sahur yang Sehat sekaligus Full Energi]

 

Biar lebih afdol, baiknya susun menu tiap hari biar jadi gambaran berapa besar pengeluaran yang diperlukan. Kalau perlu simulasikan saja pengeluaran itu biar terlihat secara nyata.

 

Tentunya usahakan pengeluaran belanja menu harian ini tetap sama dengan di bulan-bulan lainnya. Contohnya sebagai berikut:

 

Pengeluaran bulanan di bulan biasa

 

Alokasi pengeluaran menu 30 hari : Rp 4.500.000

Asumsinya satu hari : Rp 150.000

 

Pengeluaran di bulan puasa ada baiknya tetap dipertahankan  di kisaran Rp 4.500.000.

 

Cuma dengan catatan kuantitas masak masakan lebih sedikit karena ketiadaan makan siang maka asumsikan satu hari hanya Rp 100 ribu saja (sekali makan besarannya Rp 50 ribu). Artinya ada surplus Rp 50 ribu per hari.  Bila konsisten, maka di bulan puasa ada surplus Rp 1.500.000.

 

Ayo jujur, puasa malah bikin konsumtif kan
Ayo jujur, puasa malah bikin konsumtif kan

 

 

Surplus inilah yang bisa jadi batas pengeluaran ‘tak terduga’ selama bulan puasa seperti undangan buka puasa bersama maupun membeli suplemen makanan agar tubuh tetap fit selama berpuasa.

 

Tetapkan anggaran tiap buka bersama di kisaran Rp 100 ribu. Tapi jangan terlalu ketat juga mematok di angka segitu. Apabila makan di restoran dengan harga di bawah itu, maka sisanya dapat disimpan.

 

Hanya akan lebih bijak jika membatasi pengeluaran untuk buka puasa bersama di angka Rp 1 juta. Budget itu bisa jadi pedoman berapa frekuensi buka bersama yang bisa dilakukan dengan budget Rp 1 juta.

 

Masih ada sisa Rp 500 ribu. Gunakan untuk budget suplemen makanan tambahan agar tubuh tetap fit selama menjalankan bulan puasa.

 

Tapi membeli suplemen makanan sifatnya tak wajib. Kalau perlu jangan habiskan duit itu untuk suplemen makanan yang harganya memang tak murah. Upayakan disisakan di kisaran Rp 100-200 ribu.

 

Kelebihan dari anggaran ini bisa dimanfaatkan untuk investasi. Misalnya saja mencoba produk reksa dana. Kan berinvestasi di produk tersebut bisa mulai di nilai Rp 100 ribu. [Baca: 8 Tempa Beli Reksa Dana Mulai Rp 100 Ribuan]

 

Bikin batasan dong budget buka puasa bersama biar irit
Bikin batasan dong budget buka puasa bersama biar irit

 

 

Jadi bisa disimpulkan, anggaran pengeluaran menu di bulan puasa tetap sama dengan bulan-bulan lainnya. Tapi dengan sedikit siasat, anggaran bisa ditekan karena kita membuat batasan-batasan dalam rencana anggaran tersebut.

 

Hal penting lainnya, ada baiknya mulai lakukan tertib administrasi dalam pengeluaran alias catat! Tulis semuanya sehingga bisa terdeteksi kemana larinya uang tersebut.


Jangan sampai pada gilirannya hanya bergumam,”ini duit pada kemana ya? Perasaan enggak belanja apa-apa?”

 

 

 

Image credit:

  • http://www.metrojambi.com/v1/images/stories/foto/ilustrasi/K-L-M-N-O/keuangan.jpg
  • http://majalahkesehatan.com/wp-content/uploads/2010/08/berpuasa-bagi-maag.jpg
  • http://cdn.klimg.com/kapanlagi.com/p/bunga_citra_lestari_42.jpg