Setelah Baca Ini, Yakin Kerja dari Rumah Itu Enak?

Ada anggapan umum bahwa lebih enak kerja dari rumah, karena bisa lebih santai. Tapi ternyata pekerjaan yang digarap di rumah punya kendala tersendiri.

Ada hal-hal yang harus diperhatikan agar kerjaan lancar. Tanggung jawab dan disiplin diri adalah kata kuncinya.

Tanpa kedua hal tersebut, dijamin kerja dari rumah susah. Itu belum termasuk urusan teknis, seperti koneksi Internet.

Bila sudah bertanggung jawab dan berdisiplin tapi koneksi Internet lemot ya sama juga bohong. Berikut ini hal-hal yang bisa menghambat kelancaran kerja dari rumah:

1. Suasana santai

Di satu sisi, suasana santai seperti di pantai sangatlah mendukung buat suatu pekerjaan. Namun semua pada akhirnya kembali ke individu masing-masing.

Buat beberapa orang, suasana yang terlalu santai malah bisa menghanyutkan. Misalnya saat kerja dari rumah ingin sambil nonton televisi.

Awalnya 99 persen konsentrasi bisa tertuju ke kerjaan. Tapi seiring dengan waktu, mata jadi lebih sering melihat ke layar TV ketimbang kerjaan, terutama jika ada acara yang menarik seperti pertandingan sepak bola atau drama Korea.

2. Jaringan Internet

kerja-dari-rumah
Internet error bikin pening, meski kadang masalahnya hanyalah lupa nyolokin kabel (pinterest)

Khusus buat yang sangat menggantungkn kerjaan pada jaringan Internet, pasti kebayang bagaimana frustrasinya ketika koneksi lambat dan bahkan matot alias mati total.

Lebih-lebih saat dikejar deadline. Misalnya kerja jadi content writer. Saat seharusnya mengirim kerjaan pada hari itu, eh ternyata jaringan sedang main tenis alias maintenance atau dalam perawatan.

Walhasil, kerjaan tak bisa tuntas. Parahnya, deadline terlewati, yang akhirnya siap kena teguran.

Bisa sih pergi ke restoran fastfood atau kafe yang ngasih fasilitas free Wi-Fi. Tapi malah jadi keluar modal tambahan buat sekadar beli minuman untuk nongkrong sambil kerja di sana.

Bisa juga pakai tethering dari smartphone. Namun hal ini pun butuh biaya ekstra lantaran data smartphone tersedot buat kerjaan.

3. Komunikasi susah

Dalam beberapa hal, komunikasi lebih enak dilakukan secara langsung ketemu muka ketimbang via online. Termasuk saat kerja dari rumah.

Contohnya hendak menanyakan suatu kerjaan yang berhubungan dengan gambar. Bakal rumit kalau menjelaskannya via e-mail atau WhatsApp. Bisa-bisa terjadi salah paham.

Alternatifnya adalah menggunakan video call. Namun mesti dipastikan koneksi Internet mumpuni. Kalau tidak,gambar tak akan jelas dan suara bakal putus-putus.

Serangkaian kejadian di atas sudah jelas output-nya, yakni kerjaan jadi gak beres. Sebab, komunikasi adalah hal utama dalam suatu hubungan kerja.

4. Muncul biaya-biaya

kerja-dari-rumah
Penghasilan yang meningkat jadi tak terasa ketika biaya-biaya juga naik, termasuk tagihan listrik (malesbanget.com)

Ketika kerja di kantor, kita tak perlu memikirkan biaya listrik, konsumsi, hingga air selama periode kerja tersebut. Lain halnya saat kerja dari rumah.

Bisa dipastikan biaya listrik bakal naik karena kerjaan menuntut penggunaan listrik, misalnya buat power komputer/laptop dan sekadar nge-charge handphone. Sehari-dua hari sih mungkin tarifnya tak terlalu terpengarih.

Tapi ketika sudah satu bulan full, tagihan sudah pasti beda. Biaya lain yang muncul saa kerja dari rumah adalah konsumsi.

Saat kerja dari rumah dan banyak snack atau kudapan, keinginan untuk kerja sambil ngemil bakal lebih besar. Tinggal nyomor saja. Tapi konsekuensinya adalah stok makanan jadi lebih cepat habis.

Artinya, pos belanja berpotensi terpengaruh. Bahkan gak cuma snack, air galon juga lebih lekas habis diminum. Beda dengan kerja di kantor, bisa minum sepuasnya tanpa bayar dan minta cemilan teman kalau ada yang punya.

5. Bayaran seret

Risiko ini gak selalu ada, tergantung bagaimana kebijakan pemberi kerja. Namun yang pasti risiko ini bisa bikin pusing ketika terjadi.

Apalagi buat yang punya kewajiban bayar cicilan. Misalnya harus bayar kredit kendaraan sebelum tanggal 2 setiap bulan.

Eh, bayaran kerjaan belum juga turun. Akhirnya, malah kena denda lantaran telat bayar.

Kebutuhan belanja juga bakal terganggu. Seharusnya sudah beli beras, tapi urung karena bayaran tak kunjung cair.

Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah ketika sudah punya anak yang bersekolah. Saat tiba saatnya bayar iuran sekolah, eh dana belum tersedia.

kerja-dari-rumah
Malas adalah penyakit kebanyakan orang ketika terbawa suasana santai (yukepo.com)

Semua hal itu bisa lebih diminimalkan ketika kerja di kantor, karena bisa langsung ditanyakan ke HRD atau siapa pun yang bertanggung jawab dalam penggajian. Buat yang kerja dari rumah, bisa juga tanya langsung.

Tapi tak jarang jawabannya tak memuaskan, misalnya hanya disuruh menunggu. Mungkin karena tak bertemu muka, jadi mereka merasa bisa menggantungkan kewajiban yang seharusnya segera dilaksanakan.

Di Indonesia, belum ada tren kerja dari rumah buat kerjaan full time. Kebanyakan atau malah hampir semuanya menuntut pekerjanya datang ke kantor.

Mungkin hanya pekerja part time yang bisa menikmati suka-duka kerja dari rumah. Kerja dari rumah lebih ngetren di mancanegara, bahkan diusulkan jadi praktik standar kantor-kantor secara umum.

Alasannya, kerja dari rumah bisa bikin lebih produktif. Bisa jadi hal itu benar di sana karena tingginya tingkat kedisiplinan dan tanggung jawab. Tapi apakah individu di Indonesia bisa demikian? Hanya kita yang bisa menjawabnya.