Sekali Traveling Tapi Berkualitas atau Sering Tapi Seadanya?

“Hobi gue traveling, dong,” begitu Rani berucap bangga ketika ditanya apa hobinya. Dengan panjang-lebar dia menceritakan pengalamannya liburan ke Kupang sampai Jepang.

Tapi giliran ditanya berapa tabungannya, no comment. Soalnya, banyak dari gajinya yang langsung tersalurkan ke hobinya itu.

Dia hampir gak pernah bisa mengalokasikan gajinya untuk ditabung. Terlebih dia hobi belanja pakai kartu kredit tanpa rencana. Tagihan demi tagihan mesti dia lunasi, plus bunganya kalau pas dia hanya mampu bayar minimum bulan sebelumnya.

Hampir tiap bulan Rani traveling, minim ke luar kota. Tapi, paling mentok dia cuma 2 hari bepergian. Bisa 3 hari kalau pas long weekend. Namun itu pun selalu seadanya karena kepentok bujet.

Sekali Traveling tapi Berkualitas
Traveling tergolong hobi yang mahal, kalau kita gak tahu cara mengakalinya (Pesawat/Hercampus)

Datang ke hotel, istirahat, pergi makan, ke 1 tempat wisata foto-foto, pulang ke hotel lalu tidur. Besoknya bangun, ke 2-3 tempat wisata, check out hotel lalu ciao pulang.

Intensitas traveling memang sering, tapi jauh dari kualitas. Itu karena Rani gak merencanakan liburannya dengan masak-masak.

Liburan akan lebih berkesan kalau pakai rencana sejak jauh hari. Selain bisa menjadwalkan mau pergi ke mana saja, kita pun bisa mengatur bujet yang mau digunakan untuk liburan itu.

Artinya, gak ada cerita bokek atau bahkan utang karena banyak-banyak traveling. Justru traveling akan lebih berkualitas dan memberikan manfaat lebih nyata.

Untung Secara Finansial

Traveling sekali-dua kali dalam setahun jelas lebih bermanfaat secara finansial. Misalnya gaji Rp 5 juta per bulan.

Kalau refreshing sebulan sekali biayanya Rp 1 juta, setahun udah habis Rp 12 juta. Itu kalau sebulan sekali, lho. Sedangkan bujet Rp 12 juta lebih dari cukup buat backpacking-an seminggu di Eropa.

Adapun dari sisa gaji Rp 4 juta, Rp 3 juta habis buat memenuhi kebutuhan belanja bulanan. Sisanya, Rp 1 juta buat bayar tagihan.

Kapan bisa nabung? Kapan bisa beli rumah sendiri?

Dengan merencanakan liburan sejak jauh hari, bisa diatur deh anggaran untuk bermacam-macam pos pengeluaran. Gak ada keluhan pusing banyak tagihan atau tabungan gak gemuk-gemuk.

Kita bisa hunting tiket murah, termasuk promo. Biasanya harga tiket pesawat akan lebih mahal jika membelinya mendekati hari-H.

Begitu juga soal pilihan hotel. Kita jadi punya lebih banyak waktu untuk membandingkan fasilitas antara satu hotel dan hotel lainnya.

Liburan Malah Stres

Inti liburan adalah menghilangkan stres. Tapi kalau keluar banyak biaya untuk membiayai kegiatan itu terlalu sering, malah stres yang datang.

Selain itu, di tempat yang dikunjungi gak bisa bebas karena mikirin waktu terus. Waktu liburan yang singkat jelas gak akan mendatangkan kepuasan.

Terlebih jika terjadi sesuatu yang gak diinginkan. Contohnya seharian hujan, sehingga gak bisa ke mana-mana.

Atau, yang lebih apes, kecurian waktu di bandara atau stasiun. Udah waktu liburan mepet, masih harus ngurus dompet yang hilang seisinya. Bisa-bisa malah liburan di kantor polisi.

Sekali Traveling Tapi Berkualitas
Penginnya liburan singkat di akhir pekan, malah kecopetan. Bisa-bisa liburan di kantor polisi karena harus bikin laporan (copet di Thailand/The Phuket News)

Makanya, mending atur jadwal traveling secara matang walau hanya sekali-dua kali dalam setahun. Kepuasan batin haruslah dikejar dalam kunjungan wisata. Sebisa mungkin berlama-lama bertualang dari satu lokasi ke lokasi lainnya saat liburan.

Jika batin terpuaskan, raga akan merespons dengan hal sama. Walhasil, saat kembali ke dunia kerja, pikiran bisa lebih terfokus lagi untuk merengkuh rupiah demi rupiah guna kepentingan masa depan.

Ini yang gak didapatkan dari terlalu banyak liburan dengan kunjungan seadanya. Malah mungkin cuma dapat capeknya.

Sekali Traveling Tapi Berkualitas
Kenangan liburan itu seharusnya abadi, kayak usaha cowok yang kena friendzone cewek yang ia taksir (payung di tengah pantai/travelingyuk)

Meski begitu, mesti diingat bahwa merencanakan liburan sejak jauh hari berpotensi gagal berangkat. Kalau sudah beli tiket lalu terlibat kecelakaan, misalnya. Gak jadi berangkat.

Tiap pilihan memang mengandung risiko. Namun risiko traveling sering tapi seadanya lebih menonjol, terutama dari sisi keuangan.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Pilihan Kota di Luar Jakarta Habiskan Liburan Akhir Tahun, Berbudget Rp 2 Juta]

[Baca: Yang Suka Backpacking Hitung Dulu Mana yang Lebih Hemat, Sendirian atau Ikut Open Trip]

[Baca: Pengin Traveling ke Luar Negeri Gratis? Optimalkan Dong Kartu Kredit Kamu. Jangan Cuma Buat Belanja]