Saat Mengatur Keuangan Rumah Tangga, Ini 5 Tantangan Terbesar

Merasa susah mengatur keuangan rumah tangga? Bingung mau memulai dari mana? Sayangnya, gak ada klinik ajaib ala iklan di TV yang bisa membantu.

Satu-satunya orang yang dapat memberi pertolongan ya kamu sendiri. Demi keluarga lho. Harus tahu cara mengatasinya.

Anggaran adalah tulang punggung kesehatan finansial. Apalagi buat keluarga. Anggaran yang matang artinya keuangan yang matang pula.

Buat yang merasa susah bikin bujet keuangan rumah tangga, mungkin lima hal di bawah ini menjadi tantangan terbesar. Bila iya, tenang. Ada kok cara mengatasinya.

1. Mengumpulkan semua anggota keluarga

Tantangan ini terutama ada pada keluarga yang super-sibuk. Ayah dan ibu pergi kerja pagi, pulang malam. Anak pagi sekolah, sore les, malam capek, tidur. Coba tetapkan waktu luang pada satu hari libur, misalnya Minggu pagi.

Namun gak hanya soal mengumpulkan keluarga, tapi juga membuat semuanya berkontribusi dalam pembuatan anggaran. Misalnya setiap anggota keluarga mesti memberikan daftar pengeluaran. Untuk memastikannya, mintalah mereka memberikan daftar dulu sehari sebelum pertemuan.

keuangan rumah tangga
Semua harus dilibatkan agar ada kerja sama sesama anggota keluarga (pinterest)

Kita bisa saja bikin anggaran keuangan sendiri tanpa masukan dari anggota keluarga. Tapi ingat, ini anggaran keluarga. Kontribusi tiap anggotanya amat diperlukan agar tepat sasaran.

2. Khawatir bikin yang lain kecewa

Salah satu hal yang kadang perlu dilakukan saat bikin bujet keuangan rumah tangga adalah memotong bujet untuk pos tertentu. Langkah ini juga memberikan tantangan tersendiri.

Sebab, ada kekhawatiran anggota keluarga yang bakal kecewa karena bujetnya terpotong. Kamu mengalaminya? Gampang.

Inilah sebabnya pertemuan keluarga penting untuk bikin anggaran keuangan. Dalam pertemuan itu, mesti dijelaskan sedetailnya alasan pemotongan bujet. Jika memungkinkan, janjikan bahwa bujet akan dikembalikan atau bahkan diperbesar saat situasi sudah lebih baik.

[Baca: Buat Bini Jaman Now, Ini Rekomendasi Bujet untuk Hobi Suami]

3. Takut gak bisa senang-senang

Dalam setiap anggaran keuangan keluarga, harus ada bujet untuk senang-senang. Jadi, jangan takut gak bisa senang-senang ketika hendak bikin anggaran keluarga.

keuangan rumah tangga
Kadang hadiah terbaik buat anak bukanlah yang mahal, melainkan yang diberikan dengan hati tulus (kaskus)

Buat yang kondisi keuangannya lagi cekak, senang-senang gak selalu harus keluar duit banyak kok. Bisa saja berekreasi di tempat yang gratis seperti taman. Atau memberikan hadiah kepada anak yang dibuat sendiri alias DIY.

Intinya adalah melepaskan rasa penat dan syukur-syukur bisa dilakukan bersama-sama dengan seluruh keluarga. Hidup tanpa senang-senang bakal seperti sayur tanpa garam.

4. Harus masak sendiri

Ini terutama jadi tantangan terbesar buat ibu-ibu ya. Acap kali untuk bisa menekan keuangan rumah tangga, para ibu jadi masak sendiri ketimbang jajan demi penghematan.

Nah, mereka yang merasa bakal dibebani tanggung jawab masak buat keluarga mungkin bakal galau. Well, seyogyanya setiap anggota mau berkorban buat keluarga, juga saling membantu.

Artinya, aktivitas masak di dapur juga seharusnya bisa dikerjakan bersama-sama menurut porsi dan kemampuan masing-masing. Tujuannya hanya satu: agar fondasi finansial keluarga kokoh. Emang mau fondasinya gampang roboh?

keuangan rumah tangga
Godaan jajan memang menggiurkan, tapi harus diatasi. Terutama buat anak di rumah (tirto.id)

[Baca: Kalau Gak Mau Keuangan Berantakan, Wajib Install Aplikasi Fintech Ini di Ponselmu]

5. Bikin pos dana darurat

Hidup adalah misteri. Kita gak tahu apa yang bakal terjadi sebelum sesuatu itu benar-benar terjadi. Maka, masalah darurat yang mewajibkan pengeluaran darurat bisa saja muncul kapan saja.

Karena itulah pos dana darurat disarankan ada dalam setiap anggaran keuangan keluarga. Lha wong dana darurat buat lajang saja penting.

Bila susah bikin anggaran keuangan karena gak tahu alokasi dana darurat, rumusnya simpel kok. Disarankan tersedia dana darurat 8-10 kali gaji buat keluarga dengan dua anak.

Bila penghasilan Rp 10 juta, misalnya, berarti dana daruratnya Rp 80-100 juta. Dana ini bisa dipenuhi dari menyisihkan setidaknya 5 persen dari penghasilan per bulan. Saat ada rezeki nomplok seperti bonus atau THR, bisa juga dimasukkan ke sana.

Agar gak ada godaan mengutak-atik dana itu, masukkan ke tabungan rencana yang menerapkan penalti kalau diambil sebelum perjanjian berakhir. Atau deposito, yang bunganya secara umum lebih gede dari tabungan biasa.

Semestinya setiap keluarga punya bujet keuangan rumah tangga yang dijadikan pegangan finansial. Keterlibatan semua anggota sangat penting dalam hal ini, meski sudah ada “Menteri Keuangan” yang mengurusi soal finansial dalam keluarga, misalnya ibu.

Dari penjelasan di atas, semoga ada manfaat yang bisa dipetik untuk memupuk niat bikin anggaran keluarga. Jangan lupa anggaran dibikin untuk ditaati ya. Tanamkan prinsip ini ke semua anggota keluarga.

[Baca: Ternyata Ini Nih 5 Kesalahan Kaum Milenial dalam Mengatur Keuangan]