Pusing Dengan Bunga Mengambang KPR, Coba Pengajuan KPR Syariah Aja

Galau mau pilih KPR syariah atau bank konvensional? Tenang, kamu enggak sendirian. Galau menentukan KPR syariah atau bank konvensional itu sudah jadi milik umum. Jelas galau karena menyangkut kalkulasi utang di masa depan.

 

[Baca: Tahapan Ajukan KPR Komplet dari Mulai Ajukan sampai Akad]

 

 

Yup, ini soal duit yang keluar dari kantong dalam jangka waktu yang panjang sampai belasan tahun. Intinya, dari dua opsi itu mana yang menguntungkan? Benarkah KPR syariah lebih unggul?

KPR Syariah vs KPR Konvensional

Oke, pertama-tama mesti kenal dulu KPR syariah. Ini merupakan produk pembiayaan yang dikeluarkan bank syariah kepada perorangan dengan mengadopsi prinsip jual beli (murabahah) di mana dibayar dengan model angsuran dengan jumlah yang telah ditetapkan sejak awal.

 

Singkatnya, bank membeli dulu rumah tersebut dari developer atau pemilik, lalu menjualnya kepada calon nasabah. Harga jualnya sendiri sudah ditambah dengan margin keuntungan yang disetujui oleh nasabah sejak awal. Pendek kata, calon nasabah ‘ridho’ dengan harga yang ditentukan bank.

 

Setelah itu, calon nasabah ‘membeli’ rumah tersebut dengan cara mengangsur tiap bulan dalam jangka waktu yang sudah disepakati pula. Jumlah angsuran dari awal sampai jatuh tempo tetap sama alias flat. Dengan begitu, calon nasabah mendapatkan ‘kepastian’ jumlah angsuran yang dibayarkan dan tak perlu galau angsuran bakal membengkak gara-gara fluktuasi suku bunga.

 

pengajuan kpr syariah

Biar memperoleh informasi yang lebih jelas dan akurat, konsultasikan lagi ke bank-bank yang menyediakan KPR syariah 

 

Prinsip jual beli (murabahah) ini yang jadi perbedaan pokok dengan KPR bank konvensional. Pada bank konvensional, menekankan prinsip pinjam meminjam dengan bunga sebagai imbalannya. Lantaran memungut bunga yang besarannya cenderung fluktuatif, maka besaran utang bisa meningkat seiring lamanya jangka waktu.

 

[Baca: Ini Dia Macam-macam Bunga dan Cara Menghitungnya]

 

 

Yang perlu diperhatikan lagi, pada KPR bank konvensional, bank bertindak sebagai ‘peminjam uang’ dan tak memiliki rumah secara riil. Meski ke depannya bank berhak menyita rumah itu jika calon nasabah gagal membayar kewajiban angsuran.

 

Bandingkan dengan KPR syariah di mana bank bertindak pedagang karena bank membeli rumah itu dulu secara penuh dan dimiliki pula sepenuhnya. Kemudian calon nasabah membeli rumah tersebut dari bank tapi dengan cara mengangsur.

Margin keuntungan vs bunga

Pada KPR syariah, bank mendapatkan keuntungan dari selisih harga rumah yang dibeli yang kemudian dijual kepada calon nasabah. Sedangkan KPR konvensional, bank mendapat imbalan dari suku bunga yang ditetapkan dari besaran pinjaman.

 

Lantaran KPR syariah tak mengenal bunga, maka secara otomatis terhindar dari risiko besaran angsuran yang membengkak seiring kenaikan suku bunga. Meski begitu, secara matematis besaran angsuran KPR syariah tak jauh beda dengan cicilan KPR konvensional walau kadang sedikit lebih mahal.

 

pengajuan kpr syariah

Bandingkan dulu cicilan antara KPR bank konvensional dan KPR syariah 

 

 

Tapi benefitnya baru terasa saat suku bunga bergejolak. Nasabah KPR syariah bakal adem-ayem saja lantaran angsurannya tak bakal terpengaruh.

 

Lalu dari mana bank syariah menentukan besaran margin keuntungan? Nah, bank syariah kadang menjadikan besaran suku bunga KPR yang berlaku sebagai perbandingan menentukan margin profit. Tujuannya sebatas menetapkan margin profit yang kompetitif di mana kalau terlalu tinggi calon nasabah bakal kabar dan kalau terlalu rendah bank bisa merugi.

 

Sebagai contoh, harga rumah sebesar Rp 300 juta. Selama jangka waktu 5 tahun, bank syariah mengambil margin profit Rp 75 juta. Dengan begitu,  harga jual ke calon nasabah menjadi Rp 375 juta yang diangsur selama 60 bulan atau Rp 6,260 juta per bulan.

Benefit KPR Syariah

Pertimbangan memilih KPR syariah pastinya karena benefitnya dong. Nah, berikut ini benefitnya ketika memilih opsi KPR syariah.

 

– Calon nasabah cukup sediakan uang muka

– Cicilan sifatnya tetap sampai berakhirnya jangka waktu yang disepakati

– Lantaran cicilan tetap akan berasa ringan bila diikuti peningkatan pendapatan

– Nasabah mendapatkan kepastian besaran utang karena skemanya jual beli di mana sejak awal nasabah dan bank    sepakati harga rumah

– Tidak ada unsur spekulatif di masa depan karena cicilan tetap sampai jangka waktu berakhir

– Bebas pinalti bila dilunasi sebelum jatuh tempo


pengajuan kpr syariah

KPR syariah cocok buat mereka yang menggunakan dasar agama

 

 

Akhirnya pilih mana? Lagi-lagi keputusan tergantung pada kebutuhan. Pengajuan KPR syariah cocok bagi yang enggan terkena gejolak fluktuasi suku bunga dan didasari pada pertimbangan agama karena sistem bunga sama dengan riba.

 

 

 

Image Credit :

  • http://photo.kontan.co.id/photo/2011/12/09/2125311532p.jpg
  • http://www.duwitmu.com/wp-content/uploads/2014/01/KPR-syariah_4.png
  • http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/529879/big/sukuk-syariah-131216c.jpg