Pinjaman Renovasi Rumah sebagai Strategi Atasi Kocek Pas-pasan

‘Wah, sepertinya perlu renovasi rumah ini.’ Mendengar kalimat ini otomatis akan memikirkan gepokan uang yang mesti disiapkan. Jumlahnya pasti tak sedikit. Padahal, kadang renovasi rumah jadi tak bisa diabaikan atas nama kenyamanan. Bisa juga atas nama memperluas ruang dengan menjadikan rumah bertingkat.

 

Khusus bagi penduduk DKI Jakarta, merenovasi rumah saat ini makin leluasa. Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 72 Tahun 2013 pada Juli lalu membolehkan warganya membangun rumah tinggal hingga tiga lantai. (*Ref 1)

 

Rencana sudah ada, lalu bagaimana soal dananya?  Jika kocek tak memadai, tak perlu khawatir.

 

Banyak jalan menuju Roma. Ingat pepatah itu. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk membiayai renovasi rumah meski isi kocek terbatas.

 

Apalagi kalau bukan mencari pinjaman renovasi rumah. Bahasa simplenya sih melirik opsi utang dengan kredit bank!

 

Saat ini, cukup banyak perbankan yang menawarkan produk kredit multiguna. Kredit ini ditujukan bagi nasabah yang membutuhkan pembiayaan renovasi rumah. [Baca: Cari Pinjaman dengan Jaminan? Perhatikan Dulu Hal Ini]

 

Plafonnya mulai dari belasan juta hingga miliaran rupiah. Ada yang mensyaratkan kredit dengan agunan atau sebaliknya.

 

Perlu yang menjadi catatan, yang namanya utang di bank pasti ada bunga kredit. [Baca: Cari Utang ke Bank, Kenalan Dulu dengan Suku Bunga Dasar Kredit]

 

Hitunglah dulu kebutuhan biaya renovasi rumah. Perlu dipahami, pos-pos pengeluaran renovasi rumah itu tak sekadar biaya jasa tukang bangunan, bahan material, maupun desainer. Tapi juga pos perizinan IMB alias Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Ini penting agar terhindar dari denda.

 

Setelah hitung-hitungan kelar, sekarang saatnya memelototi produk kredit renovasi rumah yang masih sanggup dicicil. Pendek kata, utang renovasi rumah itu tetap termasuk kredit konsumtif.

 

Jangan sampai sembarangan memilih kredit yang pada akhirnya nanti bakal tercekik bunga pinjaman bank. Tetap gunakan asas dalam kamus pakar perencanaan keuangan di mana cicilan kredit konsumtif sebisa mungkin di bawah 30 persen dari penghasilan bulanan. Di sinilah pentingnya memanfaatkan kalkulator kpr (kredit kepemilikan rumah) biar ada gambaran.

 

Juga, jangan alpa  memenuhi syarat kredit yang diminta bank, karena memang Anda yang butuh pinjaman uang. Pastinya, yang standar itu termasuk kelengkapan identitas diri, slip gaji, sampai dokumen bangunan yang menjadi agunan kredit seperti Sertifikat Hak Milik.

 

Satu lagi, siapkan juga uang muka maupun dana lain yang mengikuti proses ini. Sebut saja biaya appraisal dan notaris. Jika semua lengkap, tinggal tunggu saja kabar baik dari bank.

 

Selamat merenovasi rumah dan ikuti terus artikel-artikel dari Blog DuitPintar!

 

 

*Ref 1: http://www.jakarta.go.id/web/produkhukum/category/8/75