Pindah Kerja dan Menekuni Bidang Baru, Kenapa Gak? Asalkan…

Malas berangkat kerja? Selalu gagal memenuhi target? Mungkin inilah saatnya untuk pindah kerja dan menekuni bidang baru.

Sebagai karyawan, pindah kerja ke perusahaan baru pasti menjadi tantangan yang menarik sekaligus menegangkan. Tantangan itu makin besar ketika memutuskan pindah ke bidang baru. Dari awalnya di bidang periklanan, terus terjun ke industri perbankan, misalnya.

Sudah rekan kerja baru, garapan yang mesti diselesaikan pun lain dibanding sebelumnya. Makanya, keputusan pindah kerja dan menekuni bidang baru sering kali sulit diambil.

Meski begitu, terkadang jalan inilah yang mesti ditempuh demi menyelamatkan karier. Ibaratnya kayak mau menikah, bila kamu berniat merintis jalan baru ini, mesti siap lahir dan batin.

Beberapa tips berikut ini mungkin bisa diterapkan ketika hendak pindah kerja ke industri baru:

1. Ketahui basic knowledge bidang baru

Gak perlu jadi pakar di bidang baru yang akan ditekuni. Cukup ketahui pengetahuan dasar alias basic knowledge di industri tersebut.

menekuni bidang baru
Jangan malas buat browsing, baca buku, apa aja deh yang intinya belajar lagi hehehe (Belajar / vemale)

Perbanyak baca-baca buku tentang bidang yang akan digeluti. Browsing Internet juga buat cari informasi sebanyak-banyaknya.

Yang gak kalah penting, banyak bergaul dengan orang-orang di industri itu agar lebih dekat dengan lingkungan kerja yang baru. Misalnya sebelumnya jadi sales asuransi, kemudian pindah jadi sales eksekutif perusahaan media massa. Selain teknik marketing, harus diketahui kode etik jurnalistik agar pemasaran yang dilakukan tetap berjalan di koridor yang benar.

2. Bener-bener berkomitmen

Kalau pindah kerja ke bidang baru, jangan setengah-setengah. Mesti berkomitmen sepenuhnya sehingga pengorbanan gak sia-sia.

Coba karier di bidang sebelumnya dijadikan bahan evaluasi. Dari situ, tingkatkan level kemampuan diri agar lebih berhasil di dunia kerja yang baru.

3. Siap mulai dari nol

Berhubungan dengan poin nomor dua, komitmen itu diwujudkan dengan kemauan memulai karier dari nol lagi. Misalnya sebelumnya jadi supervisor, sekarang mungkin jadi staf dulu. Sambil bekerja, teruslah belajar agar karier gak terhambat.

menekuni bidang baru
Hadapi semua dengan senyuman kayak mbak ini deh, biar semangat meniti karier hehehe (Perempuan Tersenyum / job-like)

Karena merangkak dari bawah lagi, ada kemungkinan gaji pun lebih rendah daripada sebelumnya. Kita mesti siap bila memang itulah yang terjadi. Kalau benar-benar berkomitmen, gaji pasti bertambah seiring dengan prestasi kerja.

4. Mau nerima kritik

Sebagai bagian dari pembelajaran, kritik pasti datang. Tugas kita adalah menerima kritik tersebut dan menjadikannya motivasi perbaikan diri.

Namun bukan mustahil kritik itu berupa celaan dari orang tertentu. Gak perlu baper, biarkan omongan itu masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Kita hanya perlu memilah mana kritik yang kira-kira memang penting dan mana yang cuma bully.

5. Gak piara gengsi

Kemampuan untuk beradaptasi diperlukan ketika bergelut dengan lingkungan kerja yang baru. Biar adaptasi lancar, buang jauh-jauh rasa gengsi.

Kalau perlu, lihat film Warkop DKI zaman dulu yang berjudul “Gengsi Dong” biar tahu bagaimana rasa gengsi itu bikin buntung. Gengsi kok dipiara. Kambing itu dipiara, biar gemuk.

menekuni bidang baru
Nonton film Warkop DKI yang ini nih, biar gak kemakan gengsi kamu ya! (Gengsi Dong / gentlemancode)

Jaim alias jaga image juga gak perlu dilakukan. Terbuka saja, sebisa mungkin cari kenalan baru sebanyak-banyaknya. Tapi jangan sampai kelewat supel juga. Bisa-bisa dianggap SKSD atau sok kenal sok dekat, dan nanti malah dijauhi.

Yang wajar saja, berikan salam perkenalan, jabat tangan, dan ucapkan nama. Saat jam makan siang, bergabunglah dalam obrolan. Jangan menyendiri terus kayak orang baru putus cinta.

Sejatinya, setiap lingkungan kerja memberikan peluang bagi kita untuk berkembang dan mencerahkan masa depan. Namun kadang peluang itu tertutup oleh pihak lain atau gak kelihatan karena faktor tertentu.

Dalam kondisi seperti itu, pindah kerja dan menekuni bidang kerja lainnya bisa jadi solusi. Namun bukan berarti setelah pindah kerja terus karier jadi moncer. Semuanya kembali kepada kita, mampu gak mengasah diri untuk memberikan kinerja yang super dan melapangkan karier.

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Jika Karir Mentok Jangan Buru-buru Resign, Jawab Dulu 3 Pertanyaan Ini]

[Baca: Karir Itu Pencapaian Diri, Bukan Tentang Siapa yang Paling Tinggi]

[Baca: Ternyata Ini 7 Ketakutan dalam Karir yang Sering Dirasakan Para Pekerja]