Pilih Gaji atau Passion untuk Travelling? Ini 7 Hal yang Bisa Jawab Pertanyaanmu

Salah satu alasan seseorang memilih sebuah pekerjaan adalah dia punya passion di profesi itu. Misalnya orang yang punya passion di dunia seni lukis, memilih bekerja sebagai desainer grafis. Atau orang yang hobi membaca menjadi editor buku.

 

Tapi gak semua orang seberuntung itu. Banyak juga yang pekerjaannya gak berhubungan dengan passionnya. Contohnya orang yang punya hobi jalan-jalan, kerjanya malah duduk di balik meja menghitung pajak perusahaan.

 

Namun tentu ada solusi buat mereka yang gak beruntung ini, yaitu mengambil cuti. Tapi ada masalah lain yang muncul: biaya memuaskan passion tersebut.

 

Khusus bagi mereka yang punya passion travelling, pastinya membutuhkan biaya yang tak sedikit. Saat inilah akan timbul dilema: pilih gaji atau passion?

 

Untuk menjawab pertanyaan itu, yang paling tahu adalah diri kita sendiri. Sebab kitalah yang mengetahui situasi kondisi yang sedang kita alami.

 

Sebagai pertimbangan, simak 7 hal berikut ini untuk menemukan jawaban atas pertanyaan pilih gaji atau passion?

 

1. Gajinya cukup kan?

hitung uang
Traveling, apalagi keluar negeri, bukan prioritas kalau gajinya bikin termehek-mehek

 

 

Di poin 1 ini, gaji cukup artinya penghasilan bisa dikelola dengan baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan masa depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) punya rumus jitu untuk mengelola keuangan.

 

Rumus tersebut adalah penghasilan–investasi dan kebutuhan masa depan= konsumsi. Rinciannya:

 

  • Dari total gaji, sisihkan 10-20% untuk tabungan masa depan,
  • Kemudian maksimal 10% untuk asuransi,
  • Pendidikan anak hingga 15%,
  • Bayar cicilan maksimal 30%,
  • Kebutuhan keluarga maksimal 60%,
  • Sisanya, untuk rekreasi maksimal 5%.

 

Misalnya gaji Rp 5 juta.

 

  • 10% tabungan = Rp 500 ribu
  • 10% asuransi = Rp 500 ribu
  • 10 % pendidikan anak = Rp 500 ribu
  • 20% bayar cicilan = Rp 1 juta
  • 30 % kebutuhan = Rp 1,5 juta
  • 5% rekreasi = Rp 250 ribu

 

Kalau gak ada cicilan, berarti masih bisa nyisihin Rp 1 juta. Kalau udah kebelet travelling, gak jadi masalah kok Rp 1 juta itu disisihin buat rekreasi.  Kalau kurang, boleh deh nambahin pakaai kartu kredit.

 

Tapi, artinya bulan depan harus sisihin Rp 1 juta sebagai konsekuensi. Terus rekreasi ya hanya Rp 250 ribu karena buat bayar cicilan sesuai rumus itu.

 

Persentase itu bisa dimodifikasi sendiri, yang penting kondisi keuangan tetap terjaga. Rumus itu hanya rekomendasi dari OJK yang gak wajib dipatuhi.

 

Kalau ternyata memang benar mencukupi setelah dihitung pakai formula di atas, kenapa ragu memuaskan passion? Yang penting kita konsisten mematuhi batas pengeluaran untuk masing-masing pos.

 

2. Uang bisa dicari

Two businessmen jumping and celebrating on the beach
Seperti cinta, duit bisa dicari. Kalau jodoh gak bakal ke mana

 

 

Money can’t buy happiness. Duit gak bisa membeli kebahagiaan. Lihat saja banyak milyuner yang hidupnya malah gak bahagia meski bergelimang uang. [Baca:  Kekayaan Bukan Jaminan Kebahagiaan, Percaya Enggak?]

Kepuasan batin kadang memang gak memandang materi. Jadi gak perlu takut kehabisan uang untuk menjalankan hobi travelling karena uang bisa dicari.

 

Yang penting kita sudah merencanakan segala sesuatunya dengan baik, sehingga uang yang dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan batin tidak menggerogoti tabungan.

 

3. Darah masih muda

Usia yang masih produktif adalah salah satu faktor kuat untuk memenuhi passion. Sebab, masih ada waktu banyak untuk kembali mengumpulkan rupiah demi rupiah dibanding mereka yang sudah tua.

 

Lagi pula, dalam soal travelling, jika kita terus menunda-nunda, siapa yang tahu kalau tiba-tiba kita dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa sebelum menjalankan keinginan itu (amit-amit, jangan sampai, yak). Usia orang itu misteri, kawan…

 

4. Buntut ada?

liburan
Ga kebayang berapa dana yang musti dikeluarin kalau buntutnya banyak kayak kesebelasan bola.

 

 

Faktor tanggungan bisa menghambat keinginan bepergian keliling Indonesia atau dunia. Tanggunan ini berupa keluarga, terutama “buntut” alias anak.

 

Kalau mengajak keluarga ikut travelling, tentu ada biaya tambahan yang dikeluarkan. Nah, perhitungkan dulu soal biaya ini pakai rumus OJK di atas.

 

Selain itu, pastikan pula keluarga setuju ada pos travelling yang nominalnya bertambah. Jangan sampai mementingkan diri sendiri dengan memenuhi ego pribadi tanpa meminta pendapat orang terdekat.

 

5. Lihat kondisi kerja

Cuti adalah hak pekerja. Tapi sebelum memutuskan mengambil cuti buat memenuhi hasrat travelling, lihat dulu kondisi kerja saat itu.

 

Mungkin sedang ada program atau proyek yang mendesak dan menjanjikan bonus besar. Kalau lagi ada program seperti itu, jangan tinggalkan pekerjaan.

 

Ini bukan hanya soal kesempatan mendapat bonus, tapi juga kesetiakawanan di dunia kerja. Masak iya, kita meninggalkan kolega mengerjakan proyek mendesak itu sementara kita berleha-leha di pantai?

 

Tunggu sampai kondisi kerja kembali normal untuk mengajukan cuti travelling. Lagi pula, jika proyek sudah selesai dan bonus sudah cair, passion untuk travelling bisa tersalurkan dengan pikiran tenang dan tanpa perlu menguras tabungan.

 

6. Apa lagi ada promo?

promo
Kalau sebelumnya rajin berburu pacar, sekarang saatnya rajin berburu promo

 

 

Kalau sedang ada promo dari biro perjalanan atau maskapai penerbangan, sambar saja. Tapi tentu pastikan dulu kondisi kerja seperti disebut di atas sedang tidak ada.

 

Jika sudah memastikan situasi kerja mendukung untuk cuti, cari-carilah promo travelling semacam itu. Promo itu misalnya bisa didapat lewat program kartu kredit.

 

Dengan adanya promo, pengeluaran untuk menjalankan passion itu dari gaji bisa dihemat.  Jadi tak perlu lagi pusing menjawab pertanyaan pilih gaji atau passion.

 

Tapi kalau memang pos pengeluaran bulan itu sudah padat, gak perlu dipaksakan. Masih ada bulan lain.

 

7.Apakah kita sudah lelah?

Orang yang bekerja tak sesuai dengan passion-nya cenderung tidak betah. Apalagi jika gajinya pas-pasan. Kalau kamu termasuk yang merasakannya, cuti untuk refreshing sangat direkomendasikan.

 

Kalau perlu, ambil cuti panjang untuk berkeliling dari satu tempat ke tempat lain agar pikiran lebih segar dan batin terpuaskan. Siapa tahu, saat memenuhi passion itu kita mendapat kesempatan untuk memulai pekerjaan baru di tempat baru yang lebih pas dengan keinginan kita.

 

Atau malah saat travelling mendapat ide untuk menjadi wiraswasta di bidang yang disukai. Misalnya membuka biro perjalanan, mungkin? [Baca: Jangan Jadikan Modal untuk Buka Usaha Sebagai Alasan Menyerah]

 

ilustrasi traveling
Refreshing bisa bikin otak kembali segar dan mengusir galau

 

 

Soal gaji dan passion bisa berjalan beriringan kalau kita mampu memahami kondisi kita sendiri. Hal yang paling penting tentu saja saja kondisi keuangan. Jadikan tujuh poin di atas sebagai patokan saat akan menjawab pertanyaan: pilih gaji atau passion untuk travelling?

 

 

 

Image credit:

  • http://cdn-2.tstatic.net/tribunnews/foto/images/preview/20131224_155556_warga-menghitung-uang-rupiah.jpg
  • https://performancemarks.files.wordpress.com/2013/05/celebrate-men-in-suits-jumping-on-beach.jpg
  • https://aws-dist.brta.in/2014-04/5199d1d27d53011c55eaa5d39299ee8f.jpg
  • http://www.spellerinternational.com.au/wp-content/uploads/2015/04/travel-blog.png
  • http://www.nusatrip.com/blog/uploads/2015/05/bii_banner_promo_625_250-620×248.jpg