Pentingnya Pengetahuan Pajak Saat Merintis Bisnis

Kira-kira apa ya reaksi seseorang setelah tahu ada pemuda berusia 23 tahun sudah punya ruko sendiri dengan 19 karyawan? Berasa ketampar dan itu arahnya ke muka sendiri. Seolah-olah spontan bilang, terus gue kemana saja selama ini!

 

Kesannya didramatisasi banget ya. Tapi faktanya, bagi yang ngebet punya usaha sendiri, kisah sukses pemuda itu memang bikin rasa iri yang tak berkesudahan. Iri karena sampai saat ini masih belum mampu merealisasikan cita-cita punya fix income alias pendapatan tetap dari bisnis tanpa harus kerja sama orang atau jadi karyawan.

 

Kalau sudah begini, jadi ingat sindiran satir dari sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Dalam karyanya Menjadi Tua di Jakarta, dia menulis, Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

 

Sindiran satir ini bisa menjadi motivasi memikirkan rencana merintis bisnis sendiri. Tak usah muluk-muluk dengan modal besar atau rencana-rencana detail. Justru lebih bijak jika langsung action! Mungkin bisa mencontoh semangatnya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Presiden terpilih ini selalu mengulang-ulang kata, kerjakan…kerjakan…kerjakan!

 

Memang, merintis bisnis itu tak semudah yang dibayangkan. Tiap-tiap orang punya proses yang unik ketika mengawali bisnisnya. Ada cerita yang menjajal bisnis rumahan modal kecil. Dia kelimpungan cari modal sana-sini dan harus terbiasa menerima penolakan bank saat mengajukan kucuran kredit.

 

Alasan bank sangat klise. Petugasnya berdalih kredit usaha bisa dikucurkan jika sudah ada bentuk usahanya. Bagaimana mau bisa ada usaha kalau tak ada modal! Akhirnya solusi yang ditempuh dengan menjual motor butut demi membuka binis kuliner soto khas Sokaraja.

 

Pelan tapi pasti, bisnis soto Sokarajanya mulai menampakan hasil. Statusnya bukan lagi bisnis rumahan modal kecil karena dia sudah bisa punya rumah makan sendiri. Tapi tantangan tak berhenti di situ saja. Berikutnya adalah urusan pajak! Siap-siap saja menerima surat dari Dinas Pendapatan Daerah soal Pajak Rumah Makan (Ref1). Surat itu biasanya akan dilampirkan argumentasi kewajiban bayar pajak dengan uraian pasal-pasal yang bikin kesal dan berasa mau menang sendiri.

 

Wajar jika pebisnis modal cekak ini rada kesal dengan kedatangan surat tersebut. Ketika dulu, mereka tak mau bantu saat kesusahan cari modal. Begitu sudah menampakan hasil, lantas dibenturkan dengan pasal-pasal yang mengikat siapapun yang punya usaha rumah makan. Pokoknya, negara minta duit alias pajak.

 

Hal ini bisa jadi gambaran bahwa membangun bisnis tak melulu berkutat pada urusan permodalan, lokasi usaha, cash flow, keuntungan, dan lain sebagainya. Tapi penguasaan akan urusan pajak juga penting.