Pengusaha Pribumi Zaman Belanda Ada yang Jago Bisnis Lho, Ini Orangnya!

Di antara kamu mungkin ada yang bertanya, ada gak sih pengusaha pribumi zaman penjajahan?

Jawaban adalah, ada.

Malah pebisnis pribumi yang akan kita bahas ini terkenal jago banget bikin strategi marketing. Namanya adalah Mas Nitisemito. Dia pelopor usaha rokok kretek di Indonesia. Bahkan, didapuk sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia sebelum kemerdekaan.

Kisah Awal Mas Nitisemito Terjun ke Bisnis Kretek

pengusaha pribumi
Nitisemito (indonesiadalamkenangan)

Nama Mas Nitisemito mungkin gak begitu terkenal di zaman modern ini. Namun, kisahnya layak kamu ketahui untuk bahan inspirasi. Soalnya, perjalanan bisnis Mas Nitisemito banyak memberikan pelajaran berharga lho.

Nitisemito ini gak langsung jadi pengusaha pribumi yang mengelola bisnis kretek lho. Pria kelahiran Kudus tersebut sempat hidup sulit, hingga memutuskan merantau ke Kota Malang untuk bekerja di sana.

Berbagai pekerjaan kasar pun sempat dilakoni, seperti buruh jahit. Tapi berkat kepiawaian dan kegigihan, Nitisemito berhasil mengembangkan usahanya sebagai pengusaha pakaian.

Namun, usaha pertamanya itu gagal total, karena mengalami kebangkrutan. Hebatnya, hal tersebut tidak membuat Nitisemito galau. Dia terus merintis usaha, seperti minyak kelapa, walaupun kembali mengalami kebangkrutan.  

Kepelikan yang dialami Nitisemito akhirnya sirna setelah bertemu dengan sang istri, Nasilah. Nasilah ternyata memiliki keahlian meracik rokok kretek. Dan bisa dibilang pula, Nasilah adalah salah satu penemu rokok kretek di Indonesia.

Nasilah yang jago meracik kretek, dan Nitisemito yang memiliki otak bisnis akhirnya membuat produk kretek. Produk tersebut ternyata disukai oleh sebagian masyarakat. Sebab mengepulkan asap tentu jauh lebih ringkas daripada kebiasaan menginang yang meninggalkan noda merah pada gigi.

Nitisemito sempat memberi nama Kodok Nguntal Ulo pada produknya. Namun, nama tersebut malah jadi bahan tertawaan. Kemudian, Nitisemito pun mengganti nama produknya menjadi Tjap Bulatan Tiga dengan logo bulatan tiga yang nantinya dipajang di istana kembar hasil kerja kerasnya.

Kelihaian Nitisemito dalam berbisnis bikin produk ini semakin dikenal luas. Bahkan, dia bisa membangun pabrik sendiri dan mempekerjakan ribuan buruh pribumi biar gak kerja ke orang Belanda.

Tahun 1914 menjadi momentum besar buat Tjap Bulatan Tiga karena setelah sepuluh tahunan beroperasi akhirnya mempunyai pabrik sendiri. Pabrik tersebut berdiri pada lahan seluas enam hektare di daerah Desa Jati. Total ada 15 ribu buruh yang mampu memproduksi 10 juta batang rokok kretek setiap hari.

Mantap!

Nah, strategi marketing yang diterapkan oleh Nitisemito-lah yang menjadi salah satu kunci sukses bisnis tersebut. Padahal, zaman tersebut belum mengenal teknologi media sosial namun Nitisemito udah berpikir jauh ke depan soal strategi promosi produk-produknya.

Belajar Strategi Bisnis dari Pengusaha Pribumi Zaman Belanda

pengusaha pribumi terkaya
Logo Tjap Bulatan Tiga (binus)

Ada beberapa hal menarik yang bisa kamu tiru dari strategi bisnis pengusaha pribumi yang meninggal di tahun 1953 tersebut. Berikut tiga poin penting dari Tjap Bulatan Tiga yang bisa kamu terapin buat bisnis kamu:

1. Punya logo buat bisnis kamu

Yap! Inilah yang pertama kali dilakukan oleh Nitisemito saat menemukan nama Tjap Bulatan Tiga. Logo brand-nya tersebut tentu jadi tanda pengenal buat masyarakat bisa membedakan produknya dengan kompetitor.

Kamu pun mesti demikian. Pengusaha pribumi di zaman Belanda aja langsung kepikiran buat bikin logo lho, masa kamu gak?

2. Strategi promosi ‘halus’

Bisa dibilang Nitisemito punya pemikiran yang lebih maju dari zamannya. Sebab, dia terbilang kreatif buat mempromosikan produk yang dia miliki.

Contoh, dia menggunakan hadiah-hadiah seperti cangkir dan piring yang terlebih dahulu dicetak dengan gambar logo produknya. Nah, hadiah tersebut menjadi daya tarik masyarakat buat beli rokok kretek Nitisemito.

Kemudian, brand yang terpampang di cangkir dan piring tersebut pun tentu bikin orang jadi ngeh sama produk Nitisemito. Kalau zaman sekarang, strategi tersebut disebut brand awareness.

3. Mendelegasikan pekerjaan

Gak ngoyo buat menjalankan perusahaannya sendirian, Nitisemito sadar dia harus mendelegasikan sebagian pekerjaannya pada orang lain. Oleh karena itu, Nitisemito merekrut orang-orang yang dipercaya buat beberapa tugas.

Tentu aja, orang tersebut haruslah jujur, cakap, serta punya dedikasi tinggi.

Kamu pun bisa tiru ini. Jika ingin bangun usaha yang diinginkan bakal besar maka kamu harus rela berbagi tugas sama orang lain. Gak bisa deh bangun perusahaan besar kalau kamu cuma kerja sendiri.

Produk Tjap Bulatan Tiga kini emang udah gak ada lagi. Namun, perjalanan usaha tersebut mulai dari kecil sampai besar menjadi inspirasi buat usaha kretek lainnya.

Nama Mas Nitisemito sendiri pun bisa jadi inspirasi buat kamu yang mau mulai berbisnis. Di zaman belum merdeka aja, dia bisa mempekerjakan banyak orang pribumi, masa zaman modern yang udah modern kita gak bisa buka lapangan pekerjaan?