OB Lulusan SMA Ini Bisa Cetak Omzet Rp 3 Miliar, Apa Rahasianya?

Mendirikan usaha kecil yang bakal menghasilkan omzet miliaran rupiah bukan isapan jempol belaka. Buktinya, seorang lulusan SMA yang pernah jadi office boy berhasil menciptakan sebuah cemilan ngehits di kalangan milenial dengan modal awal Rp 20 juta aja.

Kamu tahu apa produk yang dimaksud? Ya, Makaroni Ngehe.

Adalah Ali Muharam, seorang pemuda asal Tasikmalaya, yang sukses melakukan itu. Dalam wawancara dengan Kompas, dia mengaku mengantongi omzet hingga Rp 3 miliar!

Kini dia bisa menjual lebih dari 3 ton makaroni lewat 400 karyawan lho. Padahal nih, makaroni itu dulunya dijual di sebuah toko kecil seluas 2×3,5 meter aja.

Tentu kamu bertanya-tanya. Makaroni kan banyak di warung-warung, kenapa yang satu ini bisa hasilkan untung miliaran? Udah gitu, Makaroni Ngehe baru didirikan pada 2013 lalu pula. Gimana caranya usaha baru lima tahun tapi omzetnya udah besar banget?

Penasaran seperti apa cara Ali Muharam mengembangkan merek dagangnya hingga jadi besar?

1. Kata “Ngehe” adalah kisah hidup Ali

usaha kecil
Berawal dari makaroni, kondisi finansialnya pun membaik (Kompas)

Nama “ngehe”, meski terdengar kasar, tapi sebetulnya punya cerita yang dalam. Ali bilang kalau “ngehe” menggambarkan gimana perjuangan yang harus dia hadapi untuk bertahan hidup di ibu kota.

Wajar banget Ali seperti itu. Dia cuma lulusan SMA. Pekerjaan pertama yang dilakoninya adalah jadi OB di salah satu kantor di Bogor. Tentu aja dia mesti kerja keras.

Pada suatu hari, dia ditawari buat buka bisnis makanan di kantin bank Swasta di bilangan Senayan, Jakarta. Usaha itu dimodali oleh temannya. Tapi Ali diminta masak sampai ngurus pelanggan sendirian. Termasuk bersih-bersih pastinya. Pekerjaan itu dia lakoni sepenuh hati.

Tapi sayangnya nih, selepasnya dari kerja di kantin, dia gak punya tabungan. Sisa uangnya cuma Rp 50 ribu.

Udah cukup “ngehe” kah hidup Ali di Jakarta? Gak sampai situ aja. Masih ada yang lebih mengesalkan lagi!

Ceritanya, dia dapat tawaran kerja jadi penjaga toko baju di Kelapa Gading, Jakarta Utara, tapi terpaksa indekos di Jakarta Pusat. Ya kebayang aja sih macetnya kayak gimana, Jakarta Pusat ke Gading otomatis harus lewat Rawamangun yang super macet dulu, kan?

Gak heran kalau dalam sehari aja saat itu Ali harus keluar biaya transportasi sampai Rp 20 ribu. Ya kalau gaji besar sih gak apa, ini dia cuma dapat Rp 900 ribu aja. Rp 400 ribu cuma buat transportasi doang.

Konon kabarnya, dia pernah sampai gak makan karena kehabisan uang. Ya bayangin aja, Rp 500 ribu buat hidup di Jakarta gimana caranya.

2. Pinjam duit buat bikin usaha kecil tapi gak tahu cara balikin utangnya

Di sinilah cikal bakal terciptanya Makaroni Ngehe. Usaha kecil itu mulai digarap oleh Ali yang mendapat bantuan dana dari rekan dekatnya sebesar Rp 20 juta.

“Modal awal (Makaroni Ngehe) saya pinjam ke teman Rp 20 juta, itu pun saya gak tahu gimana nanti balikin pinjamannya,” kata Ali, seperti dikutip Kompas.

Ngeri juga sih kalau dengar apa kata Ali ini. Dia sendiri gak yakin usahanya bisa sukses. Tapi kok berani ya?

Pada awalnya, dia pengin membuka usaha makanan ala grobak. Mungkin kayak franchise atau waralaba makanan dan minuman. Tapi berhubung dia dapat pinjaman Rp 20 juta yang notabennya gak kecil-kecil amat, dia pun menyewa tempat usaha di Kebon Jeruk.

3. Kerja sendiri dan tidur di dapur

usaha kecil
Cemilan kayak gini, udah pasti digemari bocah (Tribunnews)

Multitasking tentunya udah menjadi keahliannya Ali. Dia pernah jadi OB, juga pernah mengurus warung di kantin sendirian. Ketika lagi merintis usaha, ya dia pun lebih milih menjalaninya sendiri. Ngapain juga pakai karyawan, malah nambah biaya operasional bukan?

Ali yang menata tokonya sendiri, memilih warna, mengatur pencahayaan, memasak, dan melayani pelanggan. Pokoknya, semua dia lakukan sendiri. Bahkan saking totalnya, dia lebih milih tidur di dapur. Ya daripada harus ngekos lagi.

Emang gak nyaman pastinya, Ali harus membersihkan lumuran minyak dengan kain pel terlebih dulu sebelum tidur. Lalu dia gunakan kertas roti serta tumpukan selimut  buat alas.

Berkat penghematan dan strategi efisiensi itulah dia bisa meraup omzet Rp 30 ribu perhari. Jadi dalam 30 hari, dia bisa dapat uang Rp 900 ribu deh sama kayak pas dia kerja di Kelapa Gading. Cuma bedanya dia gak lagi keluar uang transportasi aja, dan penghasilannya jadi utuh.

Gak kerasa, delapan bulan udah usahanya jalan dan utangnya pun berhasil dibayar dengan cicilan hingga lunas. Omzetnya pun dari Rp 30 ribu naik jadi Rp 100 ribu. Gak lama kemudian, Ali mencatatkan omzet Rp 500 ribu sehari.

4. Omzet naik, Ali buka cabang

Everyone is a mirror with hidden crack inside.

A post shared by ali muharam (@alvow) on

Ketika omzet naik, Ali benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia gak berfoya-foya, malah memanfaatkan momentum itu buat buka cabang baru.

Ketika cabang itu udah mencapai 30, maka dia baru merasakan laba kotor yang nilainya mencapai Rp 3 miliar.

Setiap outlet Makaroni Ngehe didesain dengan kreatif. Ali memilih warna merah yang mencolok. Dan warna itu dipakai buat warna kanopi di outletnya.

Warna merah emang identik sama rasa pedas. Tapi jangan salah lho, KFC juga memilih rasa merah karena mereka berniat bikin calon konsumennya jadi lapar. Emang benar sih, warna merah yang digunakan oleh resto-resto makanan siap saji konon kabarnya bisa meningkatkan nafsu makan bagi yang melihatnya.

Jurnal dari Management Decision yang terbit pada tahun 2006 lalu menyebutkan bahwa, 62 hingga hingga 90 persen keputusan pembelian pelanggan itu berdasarkan warna sebuah logo. So, bisa jadi Makaroni Ngehe ini bisa dikatakan berhasil dari segi pemilihan logo dan warna.

5. Makaroni yang berbeda dengan yang ada di pasaran

Tanpa ada perbedaan atau keunikan dari sisi produk, mustahil Makaroni Ngehe bisa bersaing dengan usaha kecil lainnya. Terutama ya itu, makaroni-makaroni di warung.

Makaroni Ngehe emang beda. Mereka menyajikan berbagai pilihan rasa, termasuk di antaranya level kepedasan. Udah gitu mereka juga jual otak-otak, bihun, mie kering, usus, dan mie lidi.

Selain varian rasa, harga Makaroni Ngehe juga bersaing dengan kompetitornya. Harganya mulai dari Rp 7 ribuan aja. Gak mahal kan? Pengin yang puluhan ribu juga ada dan kemasannya pasti lebih besar.

6. Dari promosi mulut ke mulut hingga lewat aplikasi

Satu metode yang efektif buat mendongkrak nama Makaroni Ngehe adalah promosi mulut ke mulut. Ali gak memungkiri, butuh perjuangan ekstra buat bikin usaha kecil miliknya jadi terkenal.

Makaroninya pun jadi perbincangan di kalangan masyarakat karena hal itu.

Pada 2015, di saat jasa Go-Food muncul, Ali pun langsung gerak cepat buat menjadikan dirinya sebagai salah satu merchant. Lewat ini, Ali bisa meraih pelanggan yang lebih banyak lagi. Mereknya pun bisa dapat promosi gratis dari Go-Jek.

Tentu aja makin banyak yang bakal melihat logo usahamu di aplikasi itu ketika lagi order makanan. Apalagi Go-Jek udah diinstal jutaan orang.

Demikian cerita singkat Ali Muharam dan usaha kecil miliknya yang kini beromzet Rp 3 miliaran. Gak mustahil kan buat membangun kerajaan bisnis hanya dalam waktu singkat, meski tentu aja ada faktor keberuntungan di sana? Makaroni Ngehe ini buktinya.