Nyebar Berita Hoax Bikin Miskin, Ini Sebabnya

Pada zaman sekarang ini, dagangan yang lebih laris dari kacang goreng mungkin cuma satu: berita hoax. Kabar bohong alias hoax dengan mudahnya nyebar dari satu hape ke hape lain.

Fenomena ini terjadi secara global, gak cuma di Indonesia. Bahkan, menurut artikel di The Guardian, pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 2016 cukup dipengaruhi oleh fenomena ini.

Di Indonesia sendiri, hoax atau fake news mulai terlihat menyebar pada 2014, saat momen pemilu juga. Makin ke sini, fenomena ini makin nyebar dan bikin pusing kepala.

Orang bisa sedemikian gampangnya nyebarin sesuatu yang belum tentu benar. Padahal gak sedikit penyebar hoax yang sudah kena batunya.

Ada yang sudah divonis satu tahun penjara lho. Kelihatannya sepele, cuma setahun. Tapi coba saja hidup di balik bui selama 365 hari.

Belum lagi dampak sesudahnya. Jangan kira begitu bebas langsung bisa menjalankan hidup seperti biasa. Pasti ada yang berbeda.

Bahkan salah satu dampaknya bisa berupa kemiskinan. Ya, nyebar berita hoax bisa bikin miskin.

Ketika pemerintah lagi getol-getolnya menghapus kemiskinan, masak warganya sendiri yang nyemplung ke jurang. Terlebih bila nyebar hoax dalam sindikat, atau tiada hari tanpa nyebarin kabar bohong itu.

Kalau belum jelas, berikut ini penjelasan bagaimana nyebar hoax bisa bikin miskin.

1. Sering online, harus bayar pulsa

berita hoax
Mungkin kamu bisa lebih hemat kalau sekalian buka counter (executivepaytren.wordpress.com)

Hobi nyebar hoax butuh biaya buat pulsa atau data Internet. Makin sering online, makin gede ongkos buat aktivitas gak berfaedah ini.

Misalnya kamu biasa habis Rp 50 ribu buat langganan data Internet tiap bulan. Ketika kamu terjerumus ke dalam asyiknya nyebar hoax, biaya itu bisa melonjak dua kali lipat.

Yang Rp 50 ribu buat kebutuhan rutin biasa, sisanya buat distribusi hoax. Hoax kerap kali dibalut dengan video. Saat memutar dan menggunggah video itu, jelas kebutuhan data lebih besar.

Sekarang tinggal dikalikan saja. Berapa kali kamu nyebar hoax dalam sehari? Mending duitnya ditabung buat beli rumah yang harganya makin melambung.

2. Kalau ketangkep, harus keluar duit buat pengacara dan lain-lain

berita hoax
Jasa pengacara tu gak murah, apalagi si dia (tribunnews)

Baik dalam sindikat maupun individu, kalau nyebar hoax ancamannya adalah urusan dengan polisi. Saat tertangkap, bukan main ongkos yang mesti dikeluarin.

Buat nyogok polisi, misalnya. Eh, gak ding. Gak bisa nyogok polisi. Udah ada aturan mainnya. Nyogok polisi saat kena razia kendaraan saja ancaman hukumannya 10 tahun penjara.

Pengeluaran di sini antara lain buat bayar pengacara. Memang sih, negara nyediain pengacara kalau kita gak sanggup sewa sendiri. Tapi tentunya lebih ada jaminan kalau pakai jasa pengacara sendiri.

Selain itu, ada biaya bolak-balik menjalani pemeriksaan. Belum lagi waktu yang tersita selama proses hukum itu. Gak bisa dibayangkan pemborosan yang dilakukan saat mesti terlibat urusan hukum.

[Baca: 5 Langkah Dapat Uang dari Internet tanpa Nyebar Hoax]

3. Kalau dipenjara, gak ada penghasilan

berita hoax
Paling penghasilan dari pelatihan kerja di penjara, kalau ada (kuambil.com)

Ini nih yang apes absolut. Saat terbukti nyebar berita hoax, selamat datang di penjara. Artinya, selamat tinggal penghasilan.

Yang statusnya wiraswasta, ada risiko kehilangan pelanggan. Yang lebih parah, usaha tutup lantaran gak ada yang bisa mengelola.

Adapun yang berprofesi sebagai pekerja, ada kemungkinan besar dipecat dari pekerjaan. Atau malah udah pasti dipecat karena gak bisa kerja lagi lantaran hidup di bui.

Bila punya keluarga, urusan bakal lebih pelik. Gak cuma kehidupan keuangan pribadi, melainkan finansial keluarga yang acak-adut kalau pencari nafkah utama masuk penjara.

Gak ada asuransi penjara sih. Adanya asuransi jiwa, yang bisa memberi manfaat berupa dana dalam jumlah tertentu kepada keluarga yang ditinggal pencari nafkah sehingga kehilangan penghasilan utama.

4. Saat keluar dari penjara, susah cari penghasilan

berita hoax
Mereka bukan ninja, melainkan pelaku hoax yang terancam masuk penjara dan jatuh miskin (twitter)

Memang, narapidana itu dibina selama diterungku. Penjara yang dipakai pun dinamai lembaga pemasyarakatan.

Harapannya, setelah “lulus” dari pembinaan, narapidana bisa kembali terjun ke tengah masyarakat secara normal. Termasuk mendapat pekerjaan guna memperoleh penghasilan buat hidup.

Namun ada kemungkinan besar setelah keluar dari penjara susah cari penghasilan lantaran statusnya itu. Di satu sisi, hal ini disayangkan karena mereka yang keluar dari penjara juga perlu penghasilan.

Namun di sisi lain perusahaan atau instansi lain banyak yang ogah ambil risiko mempekerjakan mantan napi. Alasannya, menghindari suasana kerja yang gaduh karena adanya mantan napi dan waspada terhadap mantan napi tersebut.

Dengan demikian, penyebar berita hoax yang masuk penjara bisa jadi mesti terima nasib susah cari penghasilan dan terancam terjun ke jurang kemiskinan. Gak peduli betapa bagus keterampilan yang kamu punyai.

[Baca: Pelihara 9 Mental Ini Kalau Mau Sukses Sebelum Usia Kepala 3]

Empat poin di atas hanyalah contoh. Nyebar hoax tentu saja hanyalah satu dari sekian faktor penyebab kemiskinan.

Namun kita sejatinya bisa mencegah jadi salah satu korban yang jatuh miskin gara-gara hoax. Siapa sih yang mau jadi orang miskin?

Makanya, berhati-hatilah sebelum sebar informasi yang terlihat heboh. Belum tentu hal itu benar.

Coba ikut grup anti-hoax di media sosial Facebook, seperti Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. Kita pun bisa memantau hoax yang lagi hot baru-baru ini serta melaporkan informasi yang dicurigai hoax ke situs TurnBackHoax.id.

Ingat, berita hoax itu bikin pusing kepala. Kalau pusing karena hoax yang berseliweran sih solusinya gampang. Matikan hape atau blok orang yang suka sebar hoax.

Kalau pusing karena ketangkep polisi lantaran hobi nyebar hoax, bisa lebih parah akibatnya. Pusing lantaran harus berurusan dengan hukum, plus pusing akibat dompet yang kian terkikis dan isinya terancam habis.

[Baca: 7 Orang Kaya yang Sukses Punya Bisnis tapi Akhirnya Jatuh Miskin]