Nih 3 Cara Mengajari Anak Usia 6 -10 Tahun Soal Nilai Uang

Saat buah hati menginjak usia sekolah, biasanya ada kekhawatiran yang meruap mendampingi kebanggaan. Apalagi buat para mommies.

 

Salah satunya, khawatir anak manja dan kerap meminta ini-itu. Anak yang sudah berumur 6-10 tahun pastinya beda dengan anak usia di bawahnya.

 

Mereka sudah bisa minta dibelikan sesuatu, apalagi pas ulang tahun. Kalau cowok, beli mainan meski di lemari sudah seabrek mobil-mobilan. Kalau cewek, mau boneka besar walau kamarnya sudah penuh dengan Teddy Bear dan kawan-kawan.

 

Sebagai orang tua, pastinya gak tega mau nolak permintaan itu. Yaaa…meski lagi dalam pengiritan untuk membayar cicilan mobil atau rumah.

 

Tapi sesungguhnya moms and dads di rumah bisa bersiasat untuk menghadapi masalah seperti ini. Caranya, anak bisa diajari nilai-nilai uang.

 

Dengan mengerti akan nilai uang, mereka pun mampu menghargai hasil keringat orang tua tersebut. Jadi, mereka akan berpikir ketika akan merengek meminta dibelikan sesuatu.

 

“Ah, sudah punya banyak mainan. Mending minta mentahnya buat ditabung aja,” mungkin begitu anak kita akan berpikir saat hendak minta mainan hadiah ulang tahun. Duit mentahnya akan lebih berguna jika ditabung.

 

cara mengajari anak

Ayo adik-adik sekolah yang bener ya, rajin menabung biar kaya hehehe

 

 

[Baca: Cara Mendidik Anak Mengatur Keuangan Gak Susah Kok, Bisa Dimulai dari Buku Lho]

 

 

Tapi bagaimana, ya cara mengajari anak usia 3-6 tahun soal nilai uang? Moms and dads, mungkin bisa mencoba 3 cara ini:

 

1. Pengin atau butuh?

Anak perlu diajari perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Buat anak usia 6-10 tahun, kita mesti berbicara langsung kepada mereka.

 

Cari waktu yang baik, misalnya saat makan bersama. Kalau anak diajak bicara saat asyik bermain, bisa masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

 

Beritahukan kepada mereka soal kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan, dan papan. Ketiga kebutuhan ini mesti dipenuhi dulu, baru beralih ke kebutuhan sekunder.

 

Berikan contoh konkret. Umpamanya anak pengin beli mainan baru, sementara buku sekolah belum terbeli.

 

Ceritakan konsekuensinya jika lebih mengutamakan mainan, yaitu anak jadi gak bisa sekolah karena gak punya buku. Kalau gak sekolah, jadi kehilangan teman.

 

cara mengajari anak

Mama aku mau mainan lagi, mainan aku kok seidkit sih! 

 

 

Beritahukan juga bahwa masih ada mainan lain di rumah. Nanti, jika kebutuhan sekolah sudah dipenuhi, baru deh bisa memenuhi keinginan beli mainan.

 

2. Hitung-hitung

Saat berusia 6-10 tahun, anak tentu diberi uang jajan. Jadi, mereka bisa membeli sendiri jajanan ketika gak ada orang tua menemani.

 

Tapi kita gak bisa sembarangan memberikan duit itu. Sebaiknya kita menerapkan hitung-hitungan tiap hari terhadap uang jajan.

 

Misalnya uang jajan sebesar Rp 5.000. Ketika sudah di rumah, tanyakan berapa uang yang tersisa. Beri tahu bahwa uang sisa itu tetap jadi miliknya dan suatu saat akan bertambah banyak.

 

Dengan begitu, uang bisa dibelikan barang yang lebih dari sekadar jajanan. Buatlah mereka termotivasi untuk rajin menyisihkan uang jajan tiap hari, misalnya dengan memasang target.

 

Di dekat celengan, tempelkan kertas berisi info berapa uang yang disisihkan per hari. Terus, tambahkan gambar barang yang hendak dibeli dengan uang tabungan itu plus harganya.

 

cara-mengajari-anak-3

Ayo mom, jangan malas ajarin anak untuk rajin nabung, jangan malah sibuk shopping ya hehehe

 

 

3. Bandingkan

Saat di supermarket, ajak anak ikut memperhatikan produk yang akan dibeli. Beri tahu bahwa barang yang mahal gak selalu lebih berkualitas ketimbang yang murah.

 

Misalnya saat mau beli sereal. Ambil dua boks sereal yang komposisinya kurang-lebih sama tapi harganya beda jauh.

 

Yang harganya lebih tinggi biasanya kemasannya lebih menarik dan ada “bonus”, misalnya mainan plastik. Terangkan ke anak bahwa sereal yang murah sebaiknya yang dipilih.

 

Alasannya, yang lebih mahal hanya menang di kemasan. Lagian mainan plastik itu gak lebih bagus daripada mainan di rumah.

 

Toh, yang dimakan serelanya, bukan kemasan atau mainan. Jadi, buat apa bayar lebih mahal untuk mendapat barang yang sama.

 

[Baca: Pengin Rutinitas Belanja Bulanan Gak Bikin Kantong Kebobolan? Simak 6 Trik Belanja Bulanan Ini]

 

 

Sebagai orang tua, wajar ada kekhawatiran terhadap anak. Yang harus kita lakukan hanyalah bagaimana menghadapi kekhawatiran itu.

 

cara mengajari anak

Udah dong mah, jangan dimarahin terus tuh, nanti galau tingkat kecamatan loh dia!

 

 

Soal nilai uang, kita bisa praktikkan cara-cara di atas. Namun cara ini hanya bisa bermanfaat jika orang tuanya sudah mempraktikannya sendiri, ya. Kan ya lucu kalau mau mengajari anak soal nilai uang, sementara dirinya sendiri acuh tak acuh terhadap pengaturan keuangan.

 

[Baca: 5 Cara Memaksimalkan Keuangan Buat yang Niat Mewujudkan Rencana Masa Depannya]

 

 

 

Image Credit:

  • http://www.maitreyavoice.com/assets/uploads/2013/04/anak-SD-654×270.jpg
  • http://cdn-2.tstatic.net/bali/foto/bank/images/mom-tribunbali-mainan-anak-08022015.jpg
  • http://i2.wp.com/info.gerobokanim.com/wp-content/uploads/2015/07/menabung.jpg?resize=780%2C390
  • http://3.bp.blogspot.com/-ezZf8dh_ryM/UvWb4dAN9WI/AAAAAAAAGLw/TwHjT9Nd9M4/s1600/206212_orangtua-sedang-memarahi-anak_663_382.jpg