Nggak Perlu Takut Investasi Saat Krisis! Reguk Keuntungan Saat Ekonomi Pulih

Artikel ini dipersembahkan oleh mitra produk investasi kami Bareksa.com

Bareksa Logo

 

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Pepatah itu cocok buat nggambarin kondisi ekonomi saat ini. Sepanjang 2015 emang tergolong berat buat pertumbuhan ekonomi.

 

Tapi ditengah lesunya ekonomi, bukan berarti kamu juga ikutan lesu dan enggan berinvestasi. Justru dengan berinvestasi sekarang kamu bisa menangguk keuntungan pas ekonomi udah pulih.

 

[Baca: Buat Para Pemula, Baca 5 Panduan Berinvestasi Ini Ya!]

 

Jangan Takut Investasi Pas Ekonomi Lesu

Investasi saat krisis bisa jadi sebuah peluang di masa mendatang. Karena pada masa pemulihan ekonomi nggak cuma pasar keuangan yang melonjak, tetapi hampir semua sektor bakal mengalami kenaikan.

 

Sedikit contoh, saat krisis global 2008 yang dipicu oleh krisis keuangan Amerika, sektor properti serta merta ditinggalkan. Baru pada 2009 saat ekonomi udah agak kuat, sektor properti baru digarap lagi.

 

investasi saat krisis

Perekonomian yang lesu bisa menular kemana-mana: pengangguran meningkat, pasar keuangan kacau, nilai rupiah anjlok. Tapi jangan sampai hal ini menghalangi kita buat berinvestasi

 

 

Pasalnya, saat itu suku bunga sangat rendah karena dipangkas oleh otoritas moneter untuk memulihkan perekonomian. Hal itulah yang bikin bisnis properti booming lagi karena daya beli masyarakat meningkat.

 

Contoh lagi, pada 2013 Indonesia dihajar krisis lagi karena defisit neraca perdagangan dan juga pelemahan nilai tukar rupiah. Tapi setelah fase krisis tersebut, harga barang justru mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

 

Nah, pada saat fase perlambatan ekonomi iniliah kita bisa berinvestasi agar keuntungan bisa didapat pas daya beli masyarakat udah menguat. Coba bayangin berapa return yang bisa kamu dapat.

 

 Tabel pergerakan Indeks Reksa Dana Saham pada Tahun 2008-2009

 

 

Misalnya pada 14 Oktober kamu membeli saham pas lagi anjlok di harga Rp 1.500. Setahun kemudian pas ekonomi pulih, saham tersebut menguat. Kalo berdasarkan tabel diatas, return yang bisa kamu dapet sekitar 77,4 persen.

 

Bukan nggak mungkin return yang kamu dapet bisa 100 persen kalo pembelian saham berada di titik terlemahnya,

 

Tapi ya balik lagi ke prinsip ekonomi, kita nggak bakal tahu kapan titik terlemah suatu saham. Tapi hal itu bisa disiasati dengan strategi average down atau pembelian bertahap saat pasar sedang mengalami penurunan. 

 

[Baca: Belajar Average Down, Strategi Efektif Saat Kondisi Pasar Reksa Dana Saham Anjlok]

 

Coba kamu bayangin jika duit hasil jerih payah kamu bertahun-tahun ditabung di bank atau didepositokan. Yang ada malah nilai uang tersebut bakal abis tergilas laju inflasi yang tanpa ampun.

 

Walaupun deposito memberi imbal hasil berupa bunga, tapi ya tetap aja nilai uang kamu nggak sebanding dengan tingkat inflasi. Belum lagi kalo kena pajak.

 

investasi saat krisis

Bermain saham udah bukan monopoli kaum kerah putih. Siapa aja bisa mulai berinvestasi reksa dana

 

 

“Tapi tetep aja investasi saat krisis berisiko. Males ah! Ntar duit malah angus!” teriak si Joko.

 

Eits, jangan pesimis dulu. Kalo kamu belum punya keberanian buat mengambil risiko dari penurunan nilai investasi pada reksa dana saham, kamu masih bisa memilih reksa dana pasar uang.

 

Reksa dana ini mayoritas asetnya dialokasikan ke deposito, tapi return yang dihasilkan dari reksa dana ini lebih tinggi dibanding bunga deposito. Ajaib yak!

 

[Baca: 5 Jenis Perdagangan Saham yang Musti Diketahui Para Pemula]

 

 

 

Image credit: 

  • http://cdn.metrotvnews.com/dynamic/content/2015/09/02/164948/il3SRb9CFZ.jpg?w=668
  • http://media.bareksa.com/resources/image/2015/09/11427/id_14419593751.png
  • http://mediaindonesia.com/assets/upload/news/inside/2015-03-16_::00-9354_1_saham2.jpg