Negara Ini Sengaja Melemahkan Nilai Tukar Mata Uangnya, Alasannya…

Berita melemahnya rupiah lagi ramai belakangan ini. Seperti yang terakhir dikabarkan, nilai tukar mata uang ini melemah hingga menyentuh angka tertinggi terakhir Rp 15 ribu per satu dolar.

Ada yang bilang kondisi rupiah saat ini mirip-mirip kondisi krisis moneter tahun 1998. Padahal, pelemahan rupiah saat ini jauh beda dengan tahun 1998.

Bandingkan aja selisihnya. Pada 1998, rupiah melonjak dari Rp 2.362 menjadi Rp 16 ribu per satu dolar. Itu berarti ada selisih kenaikan hingga Rp 13 ribuan. Sementara, saat ini rupiah naik dari Rp 13.485 menjadi Rp 14 ribuan, di mana selisihnya cuma Rp 1.387.

Kalau lihat lonjakan inflasinya, saat krisis moneter 1998, lonjakan inflasi mencapai 77,60 persen dari 11,10 persen. Sementara inflasi saat ini masih terbilang stabil. Seperti yang disampaikan Bank Indonesia (BI), inflasi terakhir tercatat 3,20 persen.

Namun, rupanya ada lho negara yang secara sengaja melemahkan nilai tukar mata uangnya. Kabarnya, Cina menjadi negara yang sengaja melakukan pelemahan nilai tukar mata uang (devaluasi).

Gara-gara tindakan Cina tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dibikin gusar. Sampai-sampai, ia melontarkan tuduhan Cina memanipulasi mata uang. Belakangan tuduhan tersebut diklarifikasinya.

Emangnya apa sih untungnya melemahkan nilai tukar mata uang? Bukannya melemahnya mata uang justru merugikan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, yuk cari tahu dalam ulasan berikut:

1. Volume ekspor meningkat

Kamu tahu kan kalau perubahan nilai tukar mata uang itu berpengaruh terhadap ekspor dan impor? Seperti yang terjadi saat ini. Karena rupiah melemah, barang-barang impor menjadi mahal. Sementara barang-barang yang diekspor jadi murah di negara tujuan.

Ternyata, ini yang dilihat negara yang melemahkan mata uangnya. Buat negara tersebut, lemahnya mata uang dilihat sebagai peluang buat meningkatkan volume ekspor. Tingginya volume ekspor menyumbang banyak pemasukan berupa devisa negara.

2. Mengurangi defisit neraca perdagangan

Tentu aja dengan meningkatnya ekspor dan berkurangnya impor, neraca perdagangan bakal merasakan dampaknya. Defisit neraca perdagangan berkurang dan hal ini merupakan pertanda positif.

Peningkatan ekspor yang berlangsung terus-menerus gak cuma menekan defisit neraca perdagangan hingga ke angka nol. Nantinya peningkatan ekspor juga mendorong pertumbuhan positif buat ekonomi.

Ini negara-negara yang sengaja devaluasi uangnya

Selain Cina, ada juga lho beberapa negara yang emang sengaja bikin nilai tukar mata uangnya melemah alias didevaluasi. Siapa aja mereka? Nih beberapa negara yang devaluasi mata uangnya.

  1. Vietnam

Salah satu negara Asia Tenggara ini pernah devaluasi mata uangnya tahun 2015. Vietnam menurunkan nilai tukar mata uang Dong sebesar 1 persen.

Bukan tanpa alasan Vietnam melakukan devaluasi ini. Negara ini sengaja melakukannya supaya volume ekspor tetap terjaga. Malahan Vietnam berharap volume ekspornya jadi meningkat. Pasalnya, selama ini pertumbuhan ekonomi Vietnam ditopang ekspor.

  1. Uzbekistan

Negara yang dulunya bagian dari Uni Soviet ini mendevaluasi mata uangnya tahun 2017. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya reformasi yang dilakukan pemerintah terpilih di sana.

President Shavkat Mirziyoyev yang menjabat sejak 2016 mengambil langkah ini buat menjadikan perekonomian Uzbekistan terbuka terhadap dunia luar. Dengan begitu, aliran investasi banyak yang masuk dan mendorong laju perekonomian.

Ternyata gak melulu jelek ya menurunnya nilai tukar mata uang. Buktinya aja sekalipun Cina menurunkan mata uangnya, ekonominya tetap berjalan baik. Bahkan, gak sampai jatuh akibat krisis kayak di Venezuela.

Mudah-mudahan Pemerintah juga bisa manfaatkan peluang dari turunnya nilai mata uang dengan tingkatkan ekspor. Semoga!