Mumpung Usia Masih Produktif, Boleh Gak Punya Dua Investasi Sekaligus

Suka ngalamin isi saldo buku tabungan selalu ngalahin kelakuan mantan? Itu tuh yang tiap saat ngeliatnya bikin nangis tiada henti.

Begitu ada isi dikit, hawanya mau ngabisin mulu. Kepikiran beli barang itu, nongkrong di sana demi gugurin status jomblo. Ujung-ujungnya, saldo tabungan ludes.

Padahal yang namanya kebutuhan hidup bukannya berkurang malah makin seabrek. Umur makin nambah, udah pasti makin gede juga pengeluarannya. Enggak usah kebawa melow terus-terusan. Tiada guna!

Lebih baik mikir ngatur cash flow keuangan pribadi. Toh, ini demi diri sendiri juga. Apalagi punya penghasilan besar bukan jaminan bisa hidup lebih baik kalau abai sama cash flow. Yang ada malah semua hasil kerja menguap begitu aja.

Nabung? Ya sudah pasti itu solusinya. Nabung jadi solusi buat amankan penghasilan sekaligus buat antisipasi jawab ketidakpastian di hari esok.

Mulai dari sekarang geser mindset kalau nabung itu adalah dana sisa yang enggak habis dibelanjakan. Sebaliknya, sisihkan sejak awal buat ditabung dan sisanya itu buat kebutuhan hidup.

mumpung usia masih produktif
Jangan bingung dan langsung kalap saat terima gaji, langsung simpan sebagian buat investasi dong! (Rupiah / Blogspot)

Mumpung masih produktif nih. Mumpung masih dikaruniai tenaga gali tambang duit. jangan tunda besok-besok. Keasyikan nunda malah lupa kalau rambut udah beruban, keriput menjalar di muka.

Nabung enggak selalu identik taro duit di bank

Dulu nabung identik ke bank. Secara berkala datengin bank buat setor sekian duit. Berjalannya waktu, nabung tuh enggak selalu jatuhkan pilihan ke bank.

Ada pilihan lainnya yaitu nabung dalam bentuk investasi. Sekilas kedengerannya ini seperti cara kelola duit yang cocok buat yang berpengasilan besar. Faktanya enggak gitu kok. Mereka yang penghasilannya kecil pun juga bisa ikutan.

Lagi pula sekarang bukan zamannya jadi nasabah, tapi saatnya jadi investor. Iya dong mengingat udah banyak yang sadar betapa hasil nabung uang enggak sesuai ekspektasi. Meski diimingi bunga, tetap aja nilainya digerogoti inflasi.

Meski kelihatan banyak, tapi nilainya justru turun. Lima tahun lalu beli semangkok bakso cuma Rp 1000. Lha, sekarang bayar segitu yang ada malah dibalas sumpah serapah ama abang-abangnya.

Tapi bukan bermaksud meremehkan nabung di bank. Bukan berarti enggak menguntungkan tapi besarnya keuntungan enggak sebanyak investasi. Terus jangan lupa juga kalau nabung di bank itu kena pajak, potongan biaya administrasi, dan lain-lain.

Di sinilah kenapa investasi lebih menarik dan makin populer. Hanya jangan harap dapat langsung untung. Camkan sejak awal kalau investasi itu diarahkan untuk memberikan hasil jangka panjang.

mumpung usia masih produktif
Semakin cepat mulai investasi semakin bagus loh, tunggu apalagi? (Investasi / Ikawulandari)

Misalnya aja kalo penghasilan pas-pasan, bisa lirik investasi reksa dana. Cukup modal Rp 100 ribu, udah resmi sandang status investor di reksa dana.

Kalau mau ambil risiko lebih, bisa ke saham. Atau yang suka cari aman, pilihannya bisa ke emas. Investasi di emas juga fleksibel, misalnya mulai dari yang beratnya satu gram terus pelan-pelan ke lima, 10, sampai sekilo.

Beda lagi kalau ngebet dapet untung besar, jatuhnya ke properti atau beli tanah. Cuma modalnya gede bisa ratusan juta rupiah. Terus juga enggak likuid alias enggak gampang dicairkan seperti investasi emas atau reksa dana.

Boleh borong dua investasi sekaligus?

Jawabnya, enggak ada yang enggak boleh. Kecuali, duitnya dari sumber yang haram yak!

Silakan aja pakai jurus borong berinvestasi lebih dari satu. Misalnya berinvestasi emas dikawinin sama buka rekening reksa dana atau kombinasi dengan saham.

Apapun kombinasinya, tetap saja semuanya mempunyai persamaan yakni menuntut kesabaran dan konsistensi dalam jangka panjang. Tapi tetap ada pembedanya yang terletak pada tingkat imbal hasil dan risikonya.

mumpung usia masih produktif
Mau hasil maksimal? Harus sabar dan konsisten ya! (Mengantri / Omahkreatif)

Imbal hasil dan risiko berinvestasi di reksa dana lebih besar daripada emas. Begitu pun imbal hasil dan risiko investasi saham langsung lebih gede dari reksa dana.

Apa alasan punya investasi lebih dari satu? Jawaban simpelnya yakni diversifikasi. Yah sesuai rumus umum orang berinvestasi,’jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.’

Dengan kata lain, punya lebih dari satu produk investasi bisa meminimalisir risiko atau membuat risiko investasi dalam jangka panjang bisa lebih terkendali.

Selain itu, ketika menentukan kombinasi investasi yang cocok sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan.

Sekali lagi diingat-ingat kalau investasi itu diarahkan untuk memberi hasil jangka panjang. Terus jangan lupa pula pentingnya konsistensi di sini.

Yang enggak boleh ketinggalan, jangan lagi beralasan tanam duit dalam investasi itu butuh effort banyak. Contohnya nih, menabung saham atau menabung reksa dana pun makin praktis dengan adanya fasilitas autodebet.

 

 

Yang terkait artikel ini:

Kenalan Sama Jenis Investasi yang Cocok untuk Keluarga Baru

Yuk Seru-seruan Cari Investasi yang Pas sama Zodiak Kamu

Beneran Modal Rp 100 Ribu Bisa Ternak Duit di Reksa Dana