Mental Gratisan Kok Dipelihara, Gimana Mau Maju?

Dora posting tas anyaman buatannya di Instagram. Tak ketinggalan dia sisipkan keterangannya. ”Kereeen kan. Yuk dimari dipesen tasnya, ini hand made lhoo…”.

Eh, postingannya dapat balasan dari temannya yang bikin hati Dora rada-rada senewen. “Mau dong, masak sama temen sendiri bayar sih.” Terus ada lagi yang lain ikutan komentar, ”tega banget sama temen kalo dibanderolin harga ☺”

Entah apakah maksudnya becandain, serius, basa-basi atau makna lain yang susah ditafsirkan secara gamblang.

Yang jelas bikin Dora bete. Mental gratisan kok dipelihara. Apa mereka enggak tahu ya bikin tas anyaman itu butuh modal sekaligus skill khusus. Belum lagi waktu yang enggak sedikit.

”Gue bikin itu tas capeknya setengah mati. Mulai dari pola sampai mengayamnya ampe bela-belain enggak tidur!”

Mental Gratisan Kok Dipelihara 1
Sudah tugas temen dong buat saling mendukung. (mental gratisan/tulisbaca)

Nasib sebelas dua belas juga dialami tetangga Dora. Dia lebih ngenes lagi sampai berniat tak lagi lanjutkan usaha toko servis barang elektronik. “Ah, gue kan kawan dekat elo. Masak enggak bisa gratis.” Parahnya, yang pakai prinsip itu jumlahnya bejibun. 

***

Kisah itu sih fiktif belaka, tapi di alam nyata sering banget terjadi. Embel-embel temen biasanya jadi jurus paling sakti buat dapat gratisan. Entah jasa, barang, atau hal lain yang tak berwujud. Yang jadi isu di sini adalah sengaja pelihara mental gratisan.

Ketemu temen lama langsung ditodong minta traktiran. Bersua sama temen yang buka kedai kopi buru-buru minta voucher biar bisa minum kopi gratis.

Apakah enggak sadar pelihara mental beginian dengan sendirinya menghancurkan apresiasi atas pencapaian orang lain? Kemudian, apakah enggak sadar bakal membawa karma bagi diri sendiri di hari esok?

Percaya deh, mentalitas serba minta gratisan itu enggak bakal bikin hidup lebih barokah. Jelas enggak barokah dong karena selalu nuntut gratisan. Begitu disuruh bayar pasti langsung negatif reaksinya.

Mental Gratisan Kok Dipelihara 2
Kalau dikasih barang sih lain ceritanya, tapi jangan kebablasan juga. (giving/ziliun)

Buntutnya, punya mental gratisan bisa merusak alam bawah sadar. Karena dorongan alam bawah sadar itu mempengaruhi tindakan ‘menghancurkan’ rasa penghargaan kepada karya atau usaha orang lain. Padahal, semua itu dibuat dengan susah payah plus pengorbanan.

Coba ditelaah dulu perjuangan panjang yang telah dilewati seorang kawan dalam merintis bisnis. Berapa banyak modal yang dihabiskan, waktu yang dibuang, tenaga yang dikerahkan. Pasti semua ini enggak dipikirkan karena adanya mental gratisan.

Hargailah usahanya. Jika memang lagi bokek, lebih baik tahan diri tak meminta.

Di saat bersamaan, mulailah latih alam bawah sadar dengan pandangan yang baru. Pasang mantra baru berbunyi,”Saya hidup berkelimpahan dan saya sanggup bayar!” Pola pikir ini tak sekadar mengusir mental gratisan tapi juga bantu kelangsungan bisnis mereka.

Bagaimana kalau diberi? Ya itu beda kasus. Ketika dia memberi sesuatu pasti ada motif di belakangnya. Macam-macam motifnya.

Yang pasti, itu tandanya dia menganggap kita begitu istimewa sampai mendapat ‘jatah’. Bisa pula tujuannya ingin berbagi. Kalau kasusnya ini, terimalah pemberiannya karena itu bikin mereka hepi.
Yang terkait artikel ini:

Punya Banyak Utang tapi Gaya, Apakah Kamu Salah Satunya?

Punya Teman Hobi Utang, Hadapi dengan Cara-cara Ini

Takut Memulai Bisnis? Mungkin Ini Alasan kenapa Kamu Gak Segera Memulai Bisnis