Menilik Kisah Wendy Yap, Besarkan Sari Roti Hingga Jadi Raksasa di Indonesia

“Sari Roti… Roti, Sari Roti.” Jingle dari brand roti yang sering ada di Alfamart dan Indomaret ini memang keren. Karena cuma dua kata, gak ada embel-embel lain, dan langsung to the point menyebut nama brandnya.

So, gak heran kalau roti yang satu ini memang laris di pasaran. Selain itu, rasanya juga enak dan bervariasi. Seandainya lapar di pagi hari tinggal beli saja.

Belakangan ini, Sari Roti memang lagi jadi buah bibir lantaran mereka dijatuhi ancaman hukuman denda Rp 2,8 miliar!

Denda tersebut dijatuhkan dalam sidang Putusan Perkara Laporan Keterlambatan Pemberitahuan Dugaan Pelanggaran Pemberitahuan Pengambilalihan Saham PT Prima Top Boga oleh PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. Nah PT Nippon ini ternyata adalah perusahaan pemegang merek Sari Roti yang tenar ini.

Jadi kabarnya, PT Nippon telah mengakuisisi 100 persen saham PT Prima Top Boga senilai Rp 31,4 miliar. Oleh karena itu, PT Nippon dituding melakukan praktek monopoli.

Terlepas dari kasus tersebut, hari ini kita bakal membahas soal sejarah singkat roti yang sangat tenar ini. Pengin tahu bagaimana soal cerita berdiri dan larisnya roti ini di Indonesia? Berikut ulasannya.

Baca juga: Sering Merasa Gagal Fokus Saat Bekerja, Hentikan 5 Kebiasaan Buruk Ini di Kantor

1. Dipimpin oleh anak salah satu bos di Salim Group

Perusahaan roti raksasa ini dipimpin oleh putri seorang petinggi Salim Group yaitu Wendy Sui Cheng Yap (Instagram).

Siapa sangka, perusahaan roti raksasa ini dipimpin oleh putri seorang petinggi Salim Group yaitu Wendy Sui Cheng Yap. Ayah Wendy, Piet Yap, mendirikan Bogasari Flour Mills, sebuah perusahaan produsen tepung terigu terbesar di Indonesia yang berada di bawah naungan perusahaan konglomerasi yang didirikan Sudono Salim.

Sebelum terjun ke dunia bisnis, Wendy adalah seorang mahasiswa di Universitas Melbourne jurusan Commerce. Dan sejak tahun 2014, dia menjabat sebagai CEO Nippon Indosari Corpindo.

PT Nippon itu sendiri didirikan tahun 1995 lewat penanaman modal asing. Di tahun 2003, PT Nippon Indosari Corporation berubah nama jadi PT Nippon Indosari Corpindo.

2. Ketika terjun ke bisnis, Wendy belum siap

Sari Roti (Instagram).

Usai baru lulus kuliah, Wendy memang gak punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Boro-boro bisa dugem sama teman, dia sudah ditunjuk oleh sang ayah untuk meneruskan usaha.

Walaupun Wendy berasal dari keluarga keturunan Tionghoa tradisional, ayahnya tetap memberikan wewenang bisnis kepada Wendy meskipun dia adalah anak perempuan. Dia yakin putrinya memang bisa memimpin perusahaan yang dimilikinya.

Asal kamu tahu, sebelum di PT Nippon, Wendy pernah memegang usaha properti ayahnya yang ada di Amerika Serikat. Wendy merupakan anak sulung dari empat bersaudara, tiga perempuan dan satu laki-laki. Akan tetapi, anak lelaki di keluarga Yap sudah meninggal dunia.

Sebelum menekuni usaha roti, ternyata Wendy juga sempat mengelola bisnis di bidang makanan yaitu Wendy’s Hamburger. Makanya, ketika terjun ke bisnis roti, Wendy punya perhitungan dan strategi yang cukup matang.

Baca juga: Kamu Sering Kehabisan Uang, Hentikan 5 Kebiasaan Buruk Ini Sebelum Menyesal!

3. Membuat roti dengan kualitas yang sama dengan roti Jepang

Membuat roti dengan kualitas yang sama dengan roti Jepang (Instagram).

Sebelum Sari Roti didirikan, Piet Yap mengajak Wendy berbincang mengenai rencana mereka membangun sebuah toko roti.

Wendy sempat menolak gagasan sang ayah yang ingin membuka toko ritel yang menjual roti tersebut. Dia justru ingin menjual roti yang dikemas dengan rapi, dan memiliki standar serta kualitas yang serupa dengan roti-roti di Jepang.

“Kita ingin membuat roti yang harganya terjangkau, dan selalu tersedia setiap saat,” ujar Wendy dalam wawancaranya di South China Morning Post.

4. Penjualan naik karena generasi muda

Penjualan naik karena generasi muda (Instagram).

Produksi pertama Sari Roti berlangsung pada tahun 1997. Meski pada saat itu Indonesia tengah dihadang oleh krisis finansial yang cukup serius, perusahaan ini tetap berjalan pada semestinya.

Saat itu pasokan makanan di supermarket memang lagi gak konsisten. Orang-orang cenderung membeli makanan dalam jumlah banyak dan menyimpannya di rumah. Untungnya, Sari Roti punya kemasan yang cukup bagus, so roti itu bisa bertahan lima hari.

Dan walaupun masyarakat Indonesia memang makan nasi, tapi tetap saja roti itu digemari lantaran lebih praktis dan rasanya variatif.

Selain itu, Wendy dalam wawancara di Leaders Mags pernah bilang kalau 60 persen populasi warga Indonesia masih di bawah 35 tahun alias anak muda. Mereka gak khawatir soal surplus kalori dan sebagainya.

Fakta-fakta inilah yang akhirnya membuat penjualan Sari Roti melonjak.

Baca juga: Pengin Sukses di Usia Muda? Begini Cara Efektif Meniti Karier yang Patut Kamu Coba

5. Distribusi luas dan canggih

Distribusi luas dan canggih (Instagram).

Produk berkualitas tentu gak bakal berarti tanpa distribusi yang baik. Soal distribusi, Sari Roti mah jangan ditanya. Di mana-mana ada!

Wendy pernah menjelaskan bahwasannya ada dua sistem distribusi yang diberlakukan oleh perusahaan ini. Pertama adalah modern channel yaitu ke minimarket dan supermarket, dan yang kedua adalah toko-toko kecil.

Semakin dengan bertambahnya jumlah minimarket dan toko-toko tersebut, otomatis produk Sari Roti makin tersebar. Dan makin kuat juga brand awareness produk tersebut, maka gak sedikit agen yang justru menawarkan diri untuk menjual roti ini.

Seperti itulah perjalanan Wendy membesarkan brand Sari Roti. Gak heran kalau dia sempat masuk Forbes dan mendapat gelar Pebisnis Perempuan Paling Berpengaruh di Asia selama tiga kali berturut-turut.

Sari Roti yang melantai di bursa saham pada tahun 2010 ini juga menyabet banyak penghargaan kepuasan konsumen. Selain itu, mereka juga sanggup memproduksi 4,2 juta roti di 10 pabriknya yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Keren kan? (Editor: Winda Destiana Putri).