Menghadapi Wawancara Kerja, Apa yang Mesti Dikatakan Soal Kerjaan Sebelumnya?

Keputusan resign alias mengundurkan diri dari pekerjaan memang gak gampang diambil. Ada banyak faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan ini.

Namun ada kalanya emosi tak terkontrol melampaui pikiran jernih. Mungkin karena merasa gak betah lantaran kondisi kerja yang gak sesuai dengan harapan.

Atau merasa passion gak tersalurkan. Akibatnya, keputusan resign diambil tergesa-gesa, sehingga meninggalkan kesan tak menyenangkan bagi atasan dan rekan kerja.

Masalah ini pun gak berhenti pada soal kesan tersebut. Ketika diundang wawancara di tempat kerja yang baru, pertanyaan seputar kerjaan lama pasti mengemuka.

Kira-kira apa yang mesti kita katakan mengenai kerjaan lama saat wawancara? Berikut ini mungkin bis menjadi panduan:

1. Tetap profesional

menghadapi wawancara kerja
Ayo mbak, jangan ragu dan takut, jawab saja hehehe (Wawancara Kerja / Nbcnews)

Jika kamu resign karena masalah pribadi, tak perlu mengemukakan masalah tersebut dalam wawancara. Pemberi kerja gak akan pernah mau berurusan dengan masalah pribadi di tempat kerja.

Sebaliknya, berfokuslah pada keprofesionalan kita. Ceritakan bagaimana kita bermanfaat bagi kerjaan lama dan cara kita menunjukkan kontribusi bagi calon tempat kerja yang baru.

2. Hormati atasan

Seberapa buruknya seorang mantan atasan, bukan ide bagus untuk menjelek-jelekkan dia sat wawancara. Apalagi jika memakai kata-kata kasar, misalnya “Bos saya dulu malas, kerjaannya hanya marah-marah nyuruh kerja.”

Membicarakan kejelekan mantan bos hanya akan menunjukkan sisi negatif kita. Bagaimanapun, manusia tak lepas dari kesalahan, termasuk bos. Kecuali bos gak memenuhi hak kita sebagai pekerja.

Sebisa mungkin kita menunjukkan rasa hormat kepada orang yang secara tidak langsung ikut membantu perkembangan kita itu. Cara amannya adalah menunjukkan hal positif dan negatif secara berimbang, contohnya “Bos saya selalu memotivasi saya untuk giat bekerja, meski saat saya sedang sangat fokus bekerja.”

3. Kontrol emosi

Resign secara gak baik-baik selalu meninggalkan emosi. Perasaan ini bisa saja keluar tak terkendali ketika ditanyai soal kerjaan lama dalam wawancara kerja.

menghadapi wawancara kerja
Sabar mbaksis, jangan dibanting ya komputer kantor tuh hehehe (Emosi / Blogspot)

“Salahnya gak menghargai kerjaan gue, ya gue resign aja.” Itu salah satu contoh pikiran yang disertai amarah. Jangan sampai pikiran ini terungkap, karena bisa membuat kita terkesan gak profesional dan pendendam.

4. Berpikir positif

Ketika pewawancara berupaya memancing cerita-cerita negatif soal kerjaan lama, jangan sampai meninggalkan jalur. Bolehlah menyinggung sedikit tentang betapa gak menyenangkannya pekerjaan lama.

Misalnya bilang bahwa upaya kita untuk menunjukkan gagasan seperti dibatasi karena tugas selalu datang dari bos, tanpa ada permintaan masukan dari bawahan. Namun itu mesti diikuti dengan jawaban yang positif, misalnya kita tetap berusaha menyelesaikan tugas dengan baik.

Pikiran positif ini akan memperlihatkan bahwa kita tetap bisa berpikir jernih walau resign dengan cara tidak mengesankan. Dan, yang lebih penting, kita sanggup membuktikan bahwa sikap kita terhadap kerjaan lama tetap baik meski punya pengalaman buruk.

menghadapi wawancara kerja
Positive thinking bisa bawa karir lebih baik loh! (Karyawan Kantor / Liputan6)

Wawancara kerja adalah tahap yang sangat menentukan dalam proses rekrutmen. Meski dalam soal tertulis kita benar semua, jika wawancara kerja berantakan, kubur dalam-dalam impian bekerja di tempat itu.

Bahkan bisa saja tes kurang bagus tapi dari wawancara terbukti kita punya potensi dan kepribadian yang bagus. Karena itu, siapkan diri untuk wawancara kerja sebaik-baiknya.

Terutama jika ditanya-tanya soal pekerjaan lama yang kita tinggalkan dengan cara kurang berkesan. Sebisa mungkin berikan jawaban yang diplomatis tanpa meninggalkan keprofesionalan.

Mungkin bisa kita jawab, “Di kerjaan lama potensi saya tidak bisa tergarap maksimal. Di sini, saya yakin bisa mengembangkan potensi ke titik maksimal.” Jawaban yang berkelas sekaligus menarik perhatian.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Benarkah Bekerja Mengikuti Passion Hanya Omong Kosong Belaka?]

[Baca: Jangan Mau Dinomorduakan, Ini Hak-hak Karyawan Perempuan yang Wajib Kamu Ketahui]

[Baca: 7 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Biar Nyaman dan Makin Produktif di Tempat Kerja]