Memasuki Era Reiwa, Ini 3 Tantangan Ekonomi Jepang Bersama Kaisar Naruhito

Era Reiwa merupakan simbol baru bagi negara Jepang yang memiliki Kaisar ke-126 dalam sejarahnya yakni Naruhito menggantikan sang ayah Akihito. Momen yang membahagiakan tersebut menjadi kesempatan buat Negara Matahari Terbit ini memperbaiki seluruh aspek pemerintahan, termasuk di bidang ekonomi.

Setiap masa kekaisaran Jepang pasti memiliki nama atau biasa disebut dengan “Gengo” sebagai simbolnya. Pada masa Kaisar Akihito, kerajaan tersebut memakai istilah “Heisei” sebagai sebutannya selama 30 tahun lebih sejak 8 Januari 1989.

Nama “Reiwa” sendiri diambil dari sebuah antologi puisi Jepang yang berusia sekitar 1.200 tahun lalu. Melalui Perdana Menteri Shinzo Abe yang berpidato di depan awak media, pemerintah menjelaskan makna era itu adalah “perintah” atau “memerintah dan harmoni”.

Semangat pembaruan tersebut membawa harapan bagi seluruh kalangan masyarakat yang ada di sana agar setiap sisi kehidupan menjadi lebih baik. Mulai dari pariwisata, sosial budaya sampai perekonomian.

Khusus dari sisi ekonomi inilah 3 tantangan yang akan dihadapi Jepang memasuki Era Reiwa, apa aja ya kira-kira? Yuk, kita simak di bawah ini: 

Baca juga: Kurang Laris, 3 Mobil Jepang Ini Dihentikan Produksinya di 2018

Memaksimalkan tarif pajak sektor konsumtif menjadi 10 persen

Reiwa
Memaksimalkan tarif pajak sektor konsumtif menjadi 10 persen, (Ilustrasi/Shutterstock).

Jepang masih berada dalam daftar negara dengan ekonomi terkuat ke-3 di dunia dengan angka Produk Domestik Bruto mencapai US$ 4,9 triliun atau setara dengan Rp 69 kuadriliun. Namun, sifat konsumtif warganya yang cenderung naik beberapa waktu, belakangan bakal mengganggu iklim ekonomi yang sehat kedepannya.

Seperti yang diketahui salah satu rahasia Negeri Sakura punya ekonomi yang kuat adalah dengan menerapkan biaya rendah terhadap industri yang mau di ekspor dan mengenakan biaya setinggi-tingginya terhadap produk yang dijual di dalam negeri.

Dikutip dari Japan Times, tujuannya tersebut buat menekan sikap konsumtif masyarakat dan mengubahnya ke sektor produktif. Dalam 5 bulan kedepan atau tepatnya 1 Oktober 2019, pemerintah bakal menaikkan nilai pajak barang konsumtif dari 8 persen menjadi 10 persen.  

Kebijakan ini bakal menjadi ujian pertama pada era Reiwa dari sektor ekonomi.

Baca juga: Mengenal Naruhito, Kaisar Baru Jepang Pendobrak Tradisi

Mengatur kebijakan buat para pensiunan

Reiwa
Era kekaisaran Jepang yang baru ini bakal mengedepankan soal lansia, (Ilustrasi/Shutterstock).

Tantangan kedua yang bakal dihadapi kekaisaran Reiwa adalah mengatur pengeluaran negara buat membiayai berbagai fasilitas para pensiunan seperti kesehatan, pesangon dan keamanan sosial.

Berbeda dengan Indonesia, jumlah para lansia yang ada di Jepang jauh lebih banyak dari orang dewasa ataupun anak mudanya. Sehingga salah satu pengeluaran terbesar negara buat membiayai hal semacam itu.

Jika di Era Reiwa bisa mengatasi permasalahan ini, paling gak pemerintah bisa mengurangi defisit fiskal sebanyak 2 persen dari PDB setiap 4-5 tahun kedepan.

Baca juga: Gak sampai Rp 100 Ribu, Puas Banget deh Makan di 5 Restoran Jepang Ini

Mendorong pengusaha buat mendirikan startup

Reiwa
Era kepemimpinan Kaisar Jepang baru juga bakal meningkatkan pertumbuhan Startup, (Ilustrasi/Shutterstock).

Startup emang udah menjadi sebuah wabah yang menyerang seluruh dunia. Jepang di Era Reiwa pun gak mau ketinggalan buat menciptakan sebuah perusahaan rintisan sendiri.

Bukan cuma buat mengatasi masalah sosial yang ada di tengah masyarakat tetapi juga meningkatkan perekonomiannya. Bila dibandingkan dengan negara seperti Jerman, jumlah pengusaha yang ada di Jepang hanya mencapai sepertiganya.

Pekerjaan rumah yang lumayan berat bagi Perdana Menteri Shinzo Abe beserta jajarannya.

Nah, itu dia ketiga tantangan yang bakal dihadapi oleh Jepang di Era Reiwa yang baru bersama Kaisar Naruhito. Bagaimana nih menurut kamu perekonomian Jepang kedepannya? Semoga Indonesia bisa cepat-cepat menyusul kayak Jepang yang masuk 3 besar ekenomi terkuat dunia ya! (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).