Memahami Asuransi Lebih Dalam Agar Hidup Lebih Tenang dan Keuangan Lebih Aman

Mungkin banyak orang yang familiar dengan asuransi. Peran utama asuransi adalah memindahkan risiko ke pihak lain. Yup, itu konsep dasarnya. Lalu risiko apa saja yang ditanggung? Soal ini pastinya panjang penjelasannya. Pasalnya, tiap-tiap orang punya risiko yang berbeda-beda.

Oke, sebelum lebih jauh, lebih baik bahas dulu pengertian asuransi. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), asuransi adalah perjanjian antara penanggung dan tertanggung yang mewajibkan tertanggung membayar sejumlah premi untuk memberikan penggantian atas risiko kerugian, kerusakan, kematian, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin terjadi atas peristiwa yang tak terduga.

Dari pengertian itu jelas kalau asuransi lebih dititikberatkan usaha mentransfer risiko ke perusahaan asuransi. Sebagai imbalan atas jasanya itu, maka kita memberikan kompensasi kepada perusahaan asuransi yang disebut premi asuransi.

memahami asuransi
Kalau resiko yang kamu alami itu bisa ditanggung pihak lain, tandanya kamu terbebas dari beban finansial dong (transfer resiko/Innovation)

Contoh kasus, seorang yang berstatus lajang di usia 20-32 tahun dan punya pendapatan Rp 4 juta per bulan. Di rentang usia itu, pasti lagi produktif dan berupaya mengumpulkan kekayaan. Tapi ada risikonya di mana bisa saja terjadi kematian atau cacat sehingga sulit bekerja yang pada ujungnya tak dapat penghasilan.

Belum lagi risiko lainnya atas kekayaan yang sekian lama dikumpulkan. Misalnya risiko rumah mengalami kebakaran, kendaraan rusak gara-gara jadi korban kecelakaan, terkena musibah bencana alam, dan lain sebagainya.

Itu yang berstatus lajang, beda lagi dengan yang sudah berkeluarga. Masing-masing punya kebutuhan dan besaran risiko yang berbeda. Tapi satu hal yang pasti, semua orang sebaiknya mengelola risiko dengan cara memiliki berbagai proteksi sesuai kebutuhan.

Lalu, asuransi apa saja yang musti diambil? Nah, secara umum berikut ini jenis-jenis asuransi di Indonesia yang bisa dijadikan pertimbangan untuk mengelola risiko.

1.  Asuransi kesehatan

‘Orang miskin dilarang sakit.’ Idiom ini memang sesuai kenyataan. Ongkos berobat memang mahal. So, ada baiknya punya asuransi kesehatan agar risiko finansial ketika jatuh sakit tak ditanggung sendiri. Setidaknya urusan biaya rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit sudah ditanggung asuransi.

Bagi yang berstatus karyawan, biasanya asuransi kesehatan ini sudah menjadi fasilitas kantor sehingga tak perlu lagi punya. Hanya jika area cover-nya dinilai tak mencukupi atau manfaatnya masih terbatas, tak ada salahnya untuk punya asuransi kesehatan secara mandiri.

2. Asuransi penyakit kritis

Uang tak bakal bisa membeli kesehatan. Sebaliknya, ketika terjadi ganggung serius terhadap kesehatan pastinya bakal menguras isi kantong. Nah, gangguan kesehatan yang berakibat pada terganggungnya masalah finansial ini bisa diserahkan ke asuransi.

memahami asuransi
Sakit kritis itu bisa menguras duit lho. Kalau memang bisa ditanggung asuransi tentu lebih baik (operasi/ rumah pena)

Jenis proteksi asuransi penyakit kritis ini adalah menawarkan manfaat berupa uang pertanggungan sebagai pengganti jika tertanggung tak bisa bekerja akibat terdiagnosa penyakit kritis. Sebut saja  sakit jantung, stroke, kanker stadium 4, dan lain sebagainya. Biar bisa tahu apakah berisiko mengalami penyakit kritis, buruan cek kesehatan.

3. Asuransi kecelakaan

Jenis asuransi ini melindungi diri dari risiko kecelakaan di mana uang pertanggungannya bisa memberi manfaat jika tak lagi bisa bekerja. Bagi yang risiko pekerjaannya tinggi di mana probalilitas terjadinya kecelakaan terbuka lebar, disarankan punya asuransi kecelakaan diri.

Mereka yang rutin mengandalkan motor sebagai sarana transportasi menuju tempat kerja juga sebaiknya dilindungi asuransi ini. Siapa yang bisa menjamin selama di jalan selalu selamat sampai tujuan.

4. Asuransi properti

Jika kebetulan tinggal di rumah sendiri, dianjurkan mengasuransikannya. Tak ada yang menjamin rumah yang ditinggali bebas risiko, misalnya kebakaran. Musibah ini tak ada yang bisa ditebak karena kebakaran bisa terjadi akibat kompor mledug, korsleting listrik, atau malah api bersumber dari rumah tetangga.

Asuransi ini bisa melindungi dari risiko finansial atau kerugian yang banyak atas aset (rumah) yang ditinggali. Biarkan asuransi yang mengatasi kerugian dari berbagai musibah yang mungkin menimpa rumah. Oh ya, asuransi properti ini juga memproteksi ruko dan kantor.

5. Asuransi jiwa

Jenis asuransi ini sebaiknya dimiliki jika punya tanggungan.Tapi bukan berarti yang lajang tidak butuh, karena bisa saja tanggungannya adalah orangtua, kakak, atau adik.

memahami asuransi
Bukan berarti yang belum berumah tangga gak butuh asuransi jiwa. Tanggungan itu bisa jadi orangtua, atau sanak saudara lain (Asuransi jiwa/NetDNA)

Prinsip utama dari asuransi jiwa adalah memberi pertanggungan kepada ahli waris untuk menjamin kelangsungan hidup mereka setelah si pencari nafkah tiada. Tapi jika kebetulan tak punya tanggungan, asuransi jiwa ini bisa dicoret dari daftar jenis asuransi yang perlu dipertimbangkan.

6. Asuransi kendaraan

Ini jenis asuransi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Tak heran asuransi ini laku keras karena banyak kendaraan dibeli dengan cara kredit yang pada akhirnya wajib diasuransikan.

7. Asuransi pendidikan

Asuransi ini menjadi pertimbangan orangtua agar anaknya mendapat kepastian akan biaya pendidikan kelak. Produk ini bisa dimiliki bahkan jauh sebelum anak lahir. Lagi pula, mengambil asuransi pendidikan merupakan bentuk konkret dari strategi perencanaan keuangan keluarga.

8. Asuransi hari tua/pensiun

Biar tak muram di hari tua, ada baiknya sejak dini punya produk asuransi hari tua atau pensiun. Langkah ini menjadi bijak agar masa tua hidup tetap terjamin meski tak lagi punya penghasilan. Meski begitu, asuransi ini sebaiknya dimiliki saat sudah berpenghasilan atau bekerja. Preminya sendiri bakal lebih kecil jika produk ini dimiliki sejak dini.

 9. Asuransi perjalanan

Asuransi perjalanan biasanya familiar bagi mereka yang sering travelling. Sesuai namanya, produk ini memproteksi mereka yang berpergian jauh. Manfaatnya bisa proteksi kerugian akibat kehilangan bagasi, tiket pesawat, sakit di tempat tujuan, sampai kecelakaan.

10. Asuransi investasi

Ini produk yang sebenarnya perpaduan antara jaminan proteksi atas kerugian finansial dan investasi. Premi yang dibayarkan itu dialokasikan di dua tempat, yakni sebagai asuransi dan sisanya ke investasi dalam bentuk unit link. Produk ini mesti dipelajari dengan seksama karena terkait dengan dinamika pasar modal.

Hanya yang perlu digarasibawahi, asuransi itu hanya mengurangi kerugian finansial atas risiko. Artinya, ikut asuransi bukan semata-mata menghilangkan risiko. Maka itu, sebagai konsumen, penting untuk memilah-milah risiko mana yang perlu diasuransikan dan mana yang tidak perlu.

Profil risiko tiap orang beda yang dengan sendirinya kebutuhan orang akan asuransi pasti tak sama. Bisa saja kita tak ikut asuransi karena punya perhitungan sendiri untuk mengantisipasi risiko yang mungkin dihadapi. Atau bahasa gampangnya, bersedia menanggung risiko sendiri. Begitu pun sebaliknya, ada pula yang memilih asuransi sebagai cara memproteksi dari berbagai risiko.

Jangan sampai terlalu semangat membeli produk asuransi yang pada gilirannya malah membebani pengeluaran dan mubazir karena manfaatnya tak maksimal.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Sebelum Menjatuhkan Pilihan, Simak Dulu Hal-hal Penting Memilih Agen Asuransi Kesehatan Ini]

[Baca: Jangan Takut Sama Asuransi, Perluas Wawasan Kamu Tentang Asuransi Kesehatan Terbaik di Portal Ini]

[Baca: Apa saja ya Pertimbangan Pilih Asuransi Kesehatan untuk Lansia?]