Media Sosial Vs Realitas Sosial: Bangun, Sebelum Terlanjur Bangkrut

Pagi-pagi lihat hape, ada notifikasi Line. Berharap sapaan selamat pagi dari gebetan, eh, ternyata orang kirim pesan promo demi dapetin koin buat main game.

Pernah gak ngalamin seperti itu? Atau, jangan-jangan kamu yang suka kirim-kirim pesan-pesan promo itu, hayo ngaku.

Aktif di dunia maya, khususnya media sosial, itu gak ada salahnya. Tapi aktivitas itu mestinya dibatasi. Masak, demi mendapatkan koin buat main game sampai rela “ganggu” teman-temannya lewat pesan-pesan yang gak diinginkan itu?

Bangun, dong. Di luar sana ada koin asli yang lebih berguna. Apalagi jika usia masih muda, 20-an.  Bahkan polisi cepek, eh gopek, di pertigaan aja dari pagi udah stand by hanya untuk mengumpulkan koin demi koin.

Terlebih kalau aktivitasnya sehari-hari gak lepas dari kebiasaan share-share berita heboh di Facebook. Silakan membagikan info yang heboh, tapi mesti dicek dulu kebenarannya. Jangan-jangan hoax semata.

Terus di kolom komentar sibuk perang argumen soal berita itu. Akhirnya, dari total waktu 24 jam sehari, hampir separuhnya tersedot buat nongkrongin Facebook. Gak produktif, Bro. Boros malah.

sebelum terlanjur bangkrut
Nongkrongin Facebook 24 jam tanpa hasil ngapaian sih, cuma bikin capek mata (Facebook / Blogsspot)

Mending buat kerja, kerja, kerja. Bisa dapat duit, duit, duit.

Meski begitu, bukan berarti orang yang seharian kerjanya di depan layar hape atau laptop liatin beranda media sosial itu pasti boros. Buat yang pintar ambil peluang, media sosial bisa disambungkan dengan realitas sosial.

Maksudnya, aktivitas di media sosial bisa mendatangkan keuntungan finansial untuk hidup di dunia nyata. Tentunya bukan dengan menjadi penipu online, ya.

Di bawah ini adalah dua hal di media sosial yang berguna di realitas sosial dalam hal finansial.

1. Membangun followers

Angka followers atau fans di media sosial itu penting, lho. Lihat itu selebritas media sosial yang tiap hari kerjaannya upload foto. Dia dibayar untuk tiap fotonya, khususnya yang pakai mention nama-nama merek tertentu.

Mereka mendapat endorse alias sokongan dari sponsor karena banyak followers. Harapannya, followers itu tertarik membeli produk yang dipromosikan si seleb lewat media sosial.

sebelum terlanjur bangkrut
Kumpulin followers lalu manfaatin buat dapetin duit dong (Followers / Loop)

Emang berapa sih bayarannya? Gak main-main, bisa sampai jutaan!

Namun, untuk mencapai level seleb medsos atau buzzer, diperlukan strategi yang matang. Kalau lihat contoh yang sudah ada, rumusnya adalah menampilkan hal-hal yang disukai kebanyakan orang.

Misalnya posting foto-foto pemandangan yang keren, video pendek lucu, atau tips simpel seperti cara dandan. Yang pakai cara lebih keren juga ada, contohnya rutin update status berisi analisis politik atau skandal-skandal tersembunyi. Tapi cara ini memerlukan pengetahuan pastinya, gak asal posting status.

2. Cari peluang

Media sosial gak cuma Facebook, Twitter, dan Instagram. Ada juga medsos yang lebih dekat ke sisi profesional ketimbang senang-senang doang. Salah satunya, LinkedIn.

Di medsos yang satu ini, kita bisa bikin atau gabung komunitas yang berhubungan dengan profesi. Bahkan yang belum kerja juga bisa join untuk mempromosikan kemampuan yang berhubungan dengan profesi.

Beranda di situs ini pun lebih banyak soal karier, misalnya motivasi dan tentu saja lowongan kerja. Selain LinkedIn, ada media sosial yang lebih spesifik menjurus ke karier tertentu. Contohnya Kreavi, situs anak negeri yang isinya pekerja/penghobi seni.

Meski begitu, peluang karier di medsos seperti Facebook dan kawan-kawan juga ada. Masalahnya, distraksinya juga banyak kalau main di medsos mainstream kayak gitu.

Tinggal kitanya saja yang memilah-milah mana yang penting dan gak. Misalnya, akun yang sering bikin status bernada provokasi, mending gak diikuti. Ketimbang capek, mood berantakan, kebawa emosi.

sebelum terlanjur bangkrut
Jadilah pengguna Media Sosial yang bijak dan bertanggung jawab (Pengguna Medsos / teknonisme.)

Mending follow atau temenan dengan akun-akun positif, yang sering membagikan berita positif dan bermanfaat. Terutama yang berkaitan dengan karier.

Kebiasaan bermain media sosial bukan hal buruk. Namun mesti harus diingat bahwa di luar sana ada dunia nyata yang mesti dijalani. Mungkin kita menghabiskan berjam-jam buat ngumpulin koin atau main poker dan dapat banyak, tapi habis itu apa?

Memangnya koin itu bisa buat beli beras, motor, rumah? Ya, bisa sih koin-koin dunia maya itu dijual. Tapi berapa sih nilainya jika dibandingkan dengan kerja secara nyata.

Itu juga kalau ada langsung beli. Kalau gak, siap-siap nahan cacing dangdutan di perut gara-gara gak dikasih nutrisi. Itu jangka pendeknya.

Jangka panjangnya, jangan protes kalau banyak peluang di luar sana yang terlewat. Tahu-tahu udah usia 30-an aja, udah telat, banyak utang lagi. Makanya, ayok bangun, jangan sampai terlena oleh media sosial. Mumpung belum telat.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Bukti Kekuatan Uang Receh, Jangan Sampai Disia-siakan]

[Baca: Kamu Punya Bisnis Online? Waspada Ya Dengan Penipuan Pembeli Online, Ini Contohnya]

[Baca: 7 Nasihat Karir Buat Usia Kepala 2 Biar Gak Menyesal di Kemudian Hari]