May Day! Buruh Tuntut Dihapuskan Upah Murah dan Naikkan Tarif Ojol

Hari Buruh atau yang disebut May Day dirayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, setiap tanggal 1 Mei. Pada saat ini, berbondong-bondong ratusan, ribuan, hingga puluhan ribu buruh turun ke jalanan.

Di Indonesia, sejumlah buruh yang terdiri dari berbagai serikat pekerja turun ke jalan-jalan di beragam kota. Salah satu pusat yang menjadi lokasi aksi adalah, Jakarta.

Bukan sekadar merayakan, tapi juga menyuarakan aspirasi mereka. Yang mereka suarakan adalah, tentang kesejahteraan mereka.

Bukan rahasia lagi, kesejahteraan buruh selama ini sangat memprihatinkan. Banyak dari mereka yang bekerja sangat keras dari pagi hingga larut malam, tapi gajinya pas-pasan.

Belum lagi, jaminan sosial yang sangat terbatas, seperti asuransi kesehatan hingga asuransi jiwa.

Padahal, harga-harga kebutuhan pokok sangat tak menentu, kadang turun tapi lebih sering naiknya.

Jadi, wajar saja kalau mereka turun ke jalanan dan menyuarakan harapan di depan pemerintah saat Hari Buruh.

Sejarah singkat Hari Buruh

Hari buruh
Sejarah singkat hari buruh (Pixabay)

Hari Buruh lahir di Amerika Serikat pada tahun 1880-an. Pada masa itu, para buruh biasa bekerja dengan jam kerja yang tidak manusiawi.

Mereka dipaksa bekerja mulai dari 10 jam hingga 16 jam per hari. Gak heran kalau banyak buruh yang mendadak jatuh sakit dan meninggal saat bekerja.

Para buruh pun mulai membentuk serikat pekerja, sebagai bentuk sikap penolakan terhadap praktik penyiksaan terselubung ini.

Jelas, mereka berpendapat bahwa jam kerja tersebut sangat tidak sehat untuk kehidupan pribadi maupun fisik. Hingga akhirnya aksi sesungguhnya terjadi tahun 1886.

Dikutip dari laman Industrial Workers of The World, saat itu tepatnya 1 Mei, sebanyak 300 ribu buruh dari 13 ribu perusahaan yang tergabung dalam berbagai serikat pekerja turun ke jalan-jalan di Amerika Serikat.

Baca juga: Dulu Buruh Pabrik, 5 Orang Ini Sekarang Sukses Jadi Seleb

Itulah aksi May Day pertama yang diselenggarakan. Mereka menuntut untuk kenaikan upah layak dan jam kerja menjadi 8 jam per hari.

Sementara di Chicago, aksi berlangsung selama berhari-hari hingga puncaknya pada 4 Mei. 4 Mei 1886, ratusan buruh masih bertahan di jalanan Alun-Alun Haymarket Chicago, polisi pun diterjunkan untuk membubarkan massa secara paksa.

Tapi, ketika kericuhan terjadi, sebuah bom meledak dari barisan polisi. Polisi justru langsung membalas bom tersebut dengan rentetan peluru tajam hingga mengakibatkan 200 orang luka-luka.

Sebanyak delapan orang yang tergabung dalam massa buruh dituduh sebagai dalang pengeboman dan dihukum mati.

Untuk menghormati perjuangan para buruh oleh karenanya 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional.

Hari Buruh di Indonesia

Hari buruh
Hari buruh di Indonesia(Instagram/@FSPMI_KSPI 2)

Kalau gak ada aksi Hari Buruh, mungkin kamu sekarang gak bakal kerja delapan jam, yang ada disuruh kerja terus seharian sampai 16 jam.

Itulah mengapa pengaruh gerakan buruh di Amerika Serikat tersebut turut memberikan dampak positif bagi kesejahteraan pekerja di belahan dunia manapun termasuk di Indonesia.

Dikutip dari Historia, May Day telah diperingati di Indonesia sejak masa Hindia Belanda pada tahun 1918. Tapi, setelah masa kemerdekaan, pertama kali May Day digelar pada tahun 1946.

Baca juga: Dulunya Buruh Pasir, Danu Sofwan Kini Jualan Cendol dengan Omzet Rp 1,5 Miliar

Perayaan besar-besaran baru terjadi pada tahun 1948 di Yogyakarta, namun bukan diisi dengan aksi menyuarakan tuntutan, melainkan aksi suka cita karena tuntutan mereka telah dipenuhi.

Sebelumnya, pada bulan April 1948, pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Ketenagakerjaan. Sebanyak 300 ribuan buruh, petani dan pemuda tumpah ruah di Alun-Alun Yogyakarta dengan suasana meriah.

Dalam Undang-Undang tersebut berbagai keistimewaan dan kesejahteraan untuk para buruh sangat dikedepankan, seperti:

  • Larangan mempekerjakan anak
  • Larangan buruh perempuan bekerja di dan tempat lain yang membahayakan
  • Pemberian waktu bagi ibu menyusui
  • Cuti haid
  • Hingga cuti hamil

Tapi, pada pemerintahan Orde Baru, May Day seolah ditiadakan. Pemerintahan Soeharto kala itu menganggap bahwa gerakan buruh sangat identik dengan ideologi komunisme. Bahkan, beberapa aktivis buruh seperti Marsinah ditangkap dan dibunuh.

Beruntung, setelah Soeharto lengser, hingga saat ini para buruh bisa kembali lagi menyuarakan aspirasinya. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Apa saja tuntutan para buruh?

Hari buruh
Apa saja tuntutan buruh di Hari Buruh (Pixabay)

Hari ini, ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja turun ke jalanan di kota-kota di Indonesia. Menyuarakan beberapa tuntutan yang sebenarnya sudah mereka suarakan sebelum-sebelumnya.

Mungkin, tuntutan di tahun ini masih sama dengan Hari Buruh 2018 atau tahun-tahun sebelumnya.

Yang pasti akan banyak poin-poin yang akan mereka sampaikan, dan tentunya bukan hanya untuk pemerintahan saat ini, tapi juga pemerintahan selanjutnya. Seperti dikutip dari Kompas setidaknya ada tujuh isu yang ingin disampaikan:

1. Revisi PP Nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan

Peraturan Pemerintah ini dikeluarkan oleh Presiden Jokowi. Para serikat buruh menilai PP tersebut telah membatasi ruang berunding mereka terhadap pengusaha tentang upah.

Hingga akhirnya justru berdampak langsung pada sulitnya peningkatkan kesejahteraannya buruh.

Dalam PP ini, upah minimum dihitung berdasarkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Nah para buruh meminta agar penghitungan didasari pada komponen kebutuhan hidup layak (KHP) buruh.

2. Hapus outsourcing

Tuntutan ini sudah sering dilontarkan di setiap Hari Buruh, intinya para buruh meminta agar sistem outsourcing dihapuskan.

Pasalnya, sistem tersebut dinilai sangat tidak menguntungkan bagi para pekerja. Mereka menjadi tidak mendapatkan kepastian kerja serta jaminan sosial.

Maklum saja, pekerja outsource bisa di-PHK kapan saja. Lalu setelah di-PHK, mereka tidak mendapatkan uang pesangon sama sekali. Karena memang tidak ada UU yang mengatur tentang pemberian pesangon dan jaminan sosial lainnya bagi pekerja outsource.

3. Perbaikan sistem BPJS

Para buruh menilai sistem BPJS Kesehatan terutama saat ini perlu diperbaiki. Kondisi keuangan yang mengalami defisit dalam jumlah banyak membuat beberapa pelayanan harus terhenti. Tak jarang banyak buruh yang menjadi korban, ditolak di beberapa rumah sakit.

4. Menurunkan tarif listrik

Sejak tahun 2017, para buruh telah menuntut agar pemerintah menurunkan Tarif Daftar Listrik (TDL). Kenaikan tarif listrik dinilai telah memberatkan beban para buruh, dan tentunya menurunkan daya beli mereka.

5. Kesejahteraan guru dan pengangkatan guru honorer jadi pegawai tetap

Di Indonesia, masih banyak guru berstatus honorer. Mereka adalah seorang tenaga pendidik yang berstatus tidak tetap.

Gaji yang dibayarkan juga sangat memprihatinkan, biasanya sih dibayar per jam atau bahkan sukarela berdasarkan perjanjian resmi dengan lembaga temat mengabdi. Dikutip dari detikcom, setidaknya masih ada 1,5 juta guru honorer tersebar di berbagai kota.

Dilansir dari Kompas, bahkan ada guru honorer di Flores yang dibayar Rp 85 ribu per bulannya.

6. Tarif ojek online yang layak

Di dalam Hari Buruh kali ini, serikat pekerja juga turut menyuarakan keresahan para ojek online. Mereka meminta pemerintah maupun pihak penyedia layanan aplikasi memberikan upah tarif yang layak bagi mereka.

Selain itu, rendahnya jaminan kesehatan dan sosial untuk merek juga menjadi salah satu isu yang penting untuk diperjuangkan

7. Kesempatan buruh untuk melenggang ke Pemilihan Legislatif

Terakhir yang akan disuarakan dalam Hari Buruh adalah kesempatan buruh untuk terlibat langsung mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah. Salah satunya, memberi kesempatan 100 orang dari serikat buruh untuk maju ke Pemilihan Legislatif. (Editor: Chaerunnisa)