Mau Wujudkan Mimpi Punya Anak, Siapkan Dulu Hal-Hal Ini

Belum menikah, sering ditanya kapan kawin. Begitu sudah jadi pengantin, giliran dikepoin rencana punya anak kapan. Fenomena ini rasanya sudah lazim di Indonesia.

Hidup yang lurus lempeng ya begitu. Sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak. Tiap tahapnya serasa gampang dilewati, padahal gak demikian.

Apalagi kalau bicara soal punya anak. Wajar jika orang ingin segera punya anak setelah menikah. Namun mimpi punya anak bukanlah mimpi sembarangan. Inilah yang sering luput dilihat orang kebanyakan.

Bikin anak sih gampang. Tanggung jawabnya itu yang susah. Punya anak berarti punya tanggungan baru. Duit sudah pasti bakal perlu lebih banyak untuk kebutuhan sang buah hati.

Makanya, sebelum mewujudkan mimpi punya anak, siapkan dulu hal-hal berikut ini:

1. Pekerjaan tetap

mimpi punya anak
Cari kerja susah ya masbro, mbaksis, sampai ngantre gitu kayak mau beli beras. (Deretan Orang Mengantre / tribunnews)

Punya pekerjaan itu bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau pekerjaan itu bersifat tetap. Dengan status kerja tetap, masa depan lebih terjamin.

Pegawai kontrak membawa risiko gak diperpanjang kontraknya. Pegawai honorer dan outsourcing lebih gede lagi risikonya.

Jadi, kalau saat ini belum jadi pekerja tetap, waktunya untuk bekerja lebih keras agar pasti segera diangkat. Adapun bila kamu adalah pekerja freelance, pastikan sudah punya beberapa klien yang jadi pelanggan.

Nah, jika kamu berstatus wiraswasta, sebaiknya bisnis yang dijalankan sudah lancar. Paling gak, udah gak terjadi defisit dalam arus keluar-masuk keuangan.

2. Penghasilan mencukupi

Pekerjaan tetap saja belum cukup untuk memastikan bebas masalah saat punya anak. Satu hal lain yang dibutuhkan adalah penghasilan yang mencukupi.

Untuk mengetahui cukup-tidaknya penghasilan, harus dihitung pemasukan dan pengeluaran tiap bulan. Setelah punya pasangan, sebaiknya gabungkan cash flow keduanya.

mimpi punya anak
Wah duitnya banyak, bisa buat beli rumah nih, iya rumah keong hehehe! Gak (Uang Recehan / selipan)

Paling tidak ada sisa penghasilan 10 persen yang ditabung. Tabungan ini gak termasuk buat dana pendidikan anak kelak, ya. Dana pendidikan harus ada pos tersendiri yang gak boleh diganggu gugat.

Bila setelah dihitung ternyata dana belum mencukupi, berarti perlu strategi baru. Misalnya cari pekerjaan sampingan. Bisa juga nyambi jualan kue, pulsa, atau apa pun yang menghasilkan demi mencukupi kebutuhan keluarga.

3. Dana darurat

Ini nyambung dengan poin sebelumnya. Sisa penghasilan 10 persen sebaiknya dialokasikan ke dana darurat. Dana ini dikumpulkan hingga maksimal untuk digunakan dalam kondisi darurat.

Misalnya ada musibah kecelakaan yang butuh penanganan segera. Dana ini bisa diambil buat bayar dulu sebagai talangan. Atau yang lebih parah, kepala keluarga kena PHK sehingga penghasilan terganggu.

Dana ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan setidaknya enam hingga 12 bulan ke depan sembari mencari mata pencarian baru. Jadi, tinggal dihitung saja berapa dana yang dibutuhkan dari pengeluaran tiap bulan.

Misalnya tiap bulan pengeluaran Rp 4 juta, berarti minimal ada dana darurat Rp 4 juta x 6 bulan = Rp 24 juta. Tapi lebih aman kalau dana tersebut dibikin maksimal, yaitu Rp 4 juta x 12 bulan = Rp 48 juta.

4. Dana pendidikan

Biaya pendidikan anak juga mutlak mesti dipikirkan. Ada dua alternatif yang bisa diambil, yakni tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan.

Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan, tinggal dicari mana yang paling cocok dengan kebutuhan. Bila ingin mendapat kepastian nominal dana pendidikan, pilih tabungan pendidikan.

Sebetulnya ada alternatif lain untuk dana pendidikan, yakni investasi. Misalnya lewat deposito, emas, hingga reksa dana. Ini gak termasuk asuransi, ya, meski banyak yang bilang asuransi pendidikan itu termasuk investasi karena memakai skema unit link.

mimpi punya anak
Yasalam, anak-anak zaman sekarang bikin tepok jidat ya bro! Pusing nih hehehe (Anak Sekolah / blogspot)

Lebih baik memisahkan investasi dengan program asuransi. Betul asuransi adalah bentuk investasi juga, tapi lebih condong ke investasi kesehatan.

5. Investasi masa depan

Masih berkaitan dengan poin no. 4, investasi untuk masa depan pun harus disiapkan. Ini investasi yang lebih luas, buat seluruh keluarga.

Tapi dalam praktiknya bisa juga investasi ini digabungkan dengan persiapan dana pendidikan anak. Yang penting kita memisahkan imbal hasil sesuai dengan peruntukannya.

Misalnya berinvestasi reksa dana doang. Nah, hasilnya nanti dibagi. Umpamanya mendapat imbal hasil Rp 2 juta dalam sebulan, Rp 1 juta buat biaya pendidikan anak dan Rp 1 juta sisanya buat investasi keluarga.

Semua orang sah-sah saja bermimpi punya anak segera setelah menikah. Namun jangan sampai mengganggap kalau fungsi orangtua adalah sebagai pabrik anak saja.

Pabrik mah kerja berdasarkan sistem. Kalau manusia kan gak. Ada tanggung jawab yang datang bersama sang buah hati yang dianugerahkan. Yuk, siapkan anak jadi generasi masa depan yang cerah dengan sokongan finansial yang kokoh.

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Cara Cerdas Investasi Emas untuk Pendidikan Anak]

[Baca: Gak Cuma di Tabungan, Dana Darurat Juga Bisa Disimpan di…]

[Baca: Duh, Pilih Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan Ya? Bandingin Yuk]

[Baca: Kira-kira Apa Jenis Investasi yang Cocok untuk Keluarga Baru?]