Makin Digemari, Popularitas Fintech P2P Lending Bakal Kalahkan Bank

Penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui financial technology (fintech) peer to peer (P2P) telah mencapai Rp 25,9 triliun per Januari 2019. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan, hingga saat ini, telah ada 99 fintech P2P lending yang terdaftar dan diawasi oleh OJK.

Total telah ada 4,3 juta pinjaman dan 207.506 lender atau pemberi pinjaman. Deputi Komisioner OJK Sukarela Batunanggar mengungkapkan, perkembangan transaksi pinjaman melalui fintech terus alami peningkatan signifikan setiap tahunnya.

Hal ini menandakan bahwa keberadaan fintech ditengah masyarakat telah memberikan manfaat terlebih bagi para pelaku usaha UMKM.

“Selama memiliki handphone, jaringan internet juga lalu literasi digital maka literasi pemahaman keuangan bisa menggunakan ini semua. Pada dasarnya semua berubah bisa kok, asalkan literasi keuangan jalan, literasi infrastruktur juga jalan,” ujarnya di Jakarta.

OJK sebagai regulator pun akan terus mendukung sektor bisnis digital ini untuk terus berkembang asalkan tetap dalam koridor yang ada dan sesuai dengan aturan yang ada.

Pihaknya pun terus melakukan sosialisasi dan pengawasan terhadap fintech agar beroperasi secara profesional dan tidak merugikan masyarakat sebagai konsumen.

“Sekarang kami juga terus melakukan sosialiasi perlindungan konsumen, agar misalnya data pribadi tidak hilang dan disalahgunakan gara-gara permainan data. Silahkan membangun kegiatan ekonomi online terpenting data pribadi terjamin,” jelasnya.

Kolaborasi Perbankan dan Fintech

Selain itu, Sukarela mengharapkan industri perbankan bisa bahu membahu atau berkolaborasi untuk memberikan kredit kepada pelaku usaha kecil. Asalkan fintech dapat memenuhi standar yang diberikan perbankan.

“Bagi bank tertentu yang punya jaringan sumber daya manusia yang cukup mungkin tidak sulit tapi bank yang tidak berdaya maka butuh partner yang tepat. Penyelenggara fintech lending harus mampu penuhi standar,” jelasnya.

Sementara itu, Sukarela mengatakan, industri fintech tengah menjadi pesaing yang kuat industri keuangan lain, termasuk perbankan.

Dirinya beranggapan, poularitas perbankan bisa terlampaui oleh fintech lending yang sedang berkembang pesat. Sebab ada beberapa keunggulan fintech yang tidak dimiliki perbankan, dan hal itu menjadi kunci pertumbuhan industri fintech.

“Fintech akan mendominasi jasa keuangan. Kalau perbankan punah, tidak, tapi fintech bisa unggul,” ujarnya.

Dengan itu, inovasi pada sektor industri perbankan harus dilakukan dengan masif, agar tidak terus tertinggal oleh perkembangan fintech.

“Ada tiga model inovasi teknologi untuk mendorong inklusi keuangan yaitu perbankan harus mengubah strategi dan bisnis model serta infrastrukturnya agar tidak ketinggalan dalam meningkatkan inklusi keuangan,” paparnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah