Legenda All England Indonesia Berjaya di Dunia Usaha, Siapa Aja?

Turnamen bulutangkis kelas dunia, All England, bakal berlangsung mulai dari 4-9 Maret 2014. Birmingham tetap menjadi kota penyelenggara, tepatnya di National Indoor Arena. Venue itu telah menggelar All England sejak 1994.

All England sendiri telah berlangsung sejak 1899. Venue pertama adalah Markas Besar Petembak Skotlandia di London (HQ of the London Scottish Rifles) di Buckingham Gate, London. Indonesia berpartisipasi sejak 1950-an.

Bendera Merah Putih pertama berkibar di arena All England pada 1959. Dua pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Tan Joe Hok dan Ferry Sonneville, bertemu di partai puncak. Tan Joe Hok berdiri sebagai pemenang dengan keunggulan skor 15-8, 10-15, 15-3.

Sejak itu, nama Indonesia mulai diperhitungkan di pentas badminton dunia. KreditAja.com ingin merangkum dua nama tenar yang begitu membahana di arena All England. Gaungnya pun masih gencar bergema hingga sekarang. Keduanya juga sukses dalam dunia wirausaha, setelah mereka gantung raket.

Rudy Hartono

Pebulutangkis kelahiran Surabaya, 18 Agustus 1949 itu mencatatkan prestasi fenomenal dengan meraih delapan gelar kampiun All England, dengan tujuh di antaranya diraih secara beruntun dari 1968–1974. Rudy terakhir kali menjuarai All England pada 1976, dengan mengalahkan rekan senegara dan sang junior dia, Lim Swie King.

Kehebatan Rudy Hartono demikian membahana. Kawan dan lawan segan kepadanya. Bahkan, pebulutangkis andal dari India, Prakash Padukone, terang-terangan menyanjung Rudy Hartono sebagai atlet badminton terbesar yang pernah ada. Padukone pun tak malu mendaulat Rudy sebagai idolanya.

Pada 2007, majalah kondang, Time, menahbiskan Rudy Hartono sebagai Asian Hero. Rudy jadi orang kedua yang bergelar Asian Hero, setelah proklamator Indonesia, Muhammad Hatta alias Bung Hatta.

Kini, Rudy Hartono masih berkiprah di Pengurus Besar (PB) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), sebagai salah satu anggota Dewan Kehormatan.

Selepas gantung raket, Rudy menjadi salah satu ikon pemasaran untuk sebuah produk pelumas dari Amerika Serikat. Rudy Hartono mendapat kepercayaan menjabat sebagai presiden komisaris.

Rudy menerima ajakan seorang teman untuk berbisnis oli. Rudy menggandeng dan rekan sesama pebulutangkis kondang, Ade Chandra. Dengan strategi bisnis yang tepat plus sukses melampaui segala hambatan dari para rival bisnis, Rudy berhasil membawa oli pabrikannya meraih penghargaan bergengsi tujuh kali berturut-turut. Mirip dengan kiprah Rudy Hartono sewaktu merangkum tujuh trofi kampiun All England secara beruntun. Luar biasa.

Anak ketiga dari sembilan bersaudara itu juga berekspansi ke bisnis sapi perah di Sukabumi, plus mengembangkan berbagai produk olahraga bermerek Mikasa, Ascot, dan Yonex.

Rudy Hartono kini tak lagi mengayun raket, seusai menjalani operasi jantung di Australia pada 1988. Namun, nama Rudy Hartono tak akan lekang dimakan zaman, terus membahana di seantero dunia, terutama kalau sudah bicara tentang arena All England.

Susi Susanti

Srikandi bulutangkis Indonesia yang masih membahana. Belum ada tunggal putri Indonesia yang mampu menyamai kedigdayaannya di arena badminton, termasuk All England.

Terlahir dengan nama lengkap Lucia Francisca Susi Susanti, wanita dari Tasikmalaya, Jawa Barat itu telah menjadi kampiun tunggal putri All England empat kali, yakni pada 1990, 1991, 1993, dan 1994.

Pada era itu, Susi harus bersaing mengatasi kepungan tiga andalan China, Li Lingwei, Huang Hua, dan Tang Jiuhong. Belum lagi serbuan pebulutangkis Korsel, Bang Soo-hyun, yang sempat melaju ke final 1992 dan 1993, namun akhirnya harus puas menjadi runner-up.

Pada masa itu, nama Susi Susanti begitu disegani. Lima gelar Juara Dunia dia rebut dalam rentang 1990 hingga 1994. Nama Susi mulai temaram ketika China meluncurkan bintang baru bernama Ye Zhaoying pada paruh akhir 1990-an.

Kini, pada usianya yang ke-43, Susi Susanti masih bertugas mengharumkan nama Indonesia, dengan berperan di balik layar. Dia menjadi staf khusus/ahli untuk PB PBSI di bidang Pembinaan dan Prestasi.

Di dunia wirausaha, Susi Susanti tercatat mengembangkan bisnis penjualan busana dari China, Hongkong, dan Korsel plus beberapa di antaranya adalah merek lokal. Dia memiliki satu kios untuk usaha itu di ITC Cempaka Emas, Jakarta Timur.

Bisnis Susi lainnya tidak jauh-jauh dari dunia bulutangkis. Bersama sang suami, Alan Budikusuma, pasangan itu mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pasangan itu sengaja mengambil nama Olympic karena keduanya dijuluki Pengantin Olimpiade. Benar, Susi dan Alan adalah peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992.

Nama Susi dan Alan ternyata membawa inspirasi lain, yakni mereka membuat raket dengan merek Astec, yang merupakan kepanjangan dari Alan-Susi Technology. Raket itu mereka rilis pada pertengahan 2002.

Sepuluh tahun berselang, raket Astec sudah merambah ke lima negara, Malaysia, Filipina, Brunei, Prancis, dan Vietnam. Bahkan, selain raket, pasangan itu juga memproduksi produk perlengkapan olahraga yang bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta. Susi juga aktif menggelar berbagai turnamen bulutangkis di Tanah Air, pas dengan jabatannya di PBSI di bidang Pembinaan dan Prestasi.

Susi Susanti juga melebarkan bisnis pijat refleksi khusus olahraga. Pada 2012, dia telah memiliki tujuh gerai yang tersebar di Jakarta. Bisnis Fontana Sport Massage & Reflexology, demikian nama tempat pijat olahraga yang dia dirikan bersama rekan atlet bulutangkis seangkatannya, Elizabeth Latif.

Berkat usaha keras berwirausaha dan juga prestasi emas pada masa kejayaannya sebagai pebulutangkis, Susi Susanti dan Alan Budikusuma kini hidup tenang bersama ketiga anaknya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Begitulah kisah inspiratif dari dua atlet badminton legendaris Indonesia. KreditAja.com berharap bisa menjadi inspirasi Anda untuk memulai wirausaha dengan modal sendiri dan
mampu berdiri di atas kaki sendiri.