KTA Syariah dan Konvensional, Mana yang Lebih Baik?

Bingung ketika akan mencari pinjaman itu wajar saja. Apalagi menentukan mau pilih KTA syariah atau konvensional. Ada perbedaan di antara keduanya, meski fungsinya kurang-lebih sama.

Kebingungan ini mesti segera diobati. Tujuannya apa lagi kalau bukan mendapatkan pilihan terbaik. Kalau terus-terusan bingung, bisa-bisa beli kucing dalam karung alias asal pilih tanpa tahu seluk-beluk kredit.

KTA merupakan kependekan dari kredit tanpa agunan. Dari namanya sudah tersirat apa itu KTA. Yup, betul, kredit ini gak mewajibkan agunan atau jaminan.

Produk ini bertolak belakang dengan layanan pinjaman lainnya, yakni kredit multiguna alias pinjaman dengan jaminan.

Memang betul, saat ini belum ada bank yang secara gamblang menyebut produk KTA syariah dalam deretan layanannya. Namun beberapa bank mengadaptasi skema KTA dalam produk syariahnya. Di antaranya Bank Syariah Mandiri dan Bank Victoria Syariah.

KTA Syariah dan Konvensional
Ayo mau pilih yang mana? (KTA/perbedaan)

Dasar hukum KTA syariah memang belum tersedia, namun, menurut Prof. Dr. M. Amin Suma dari Dewan Syariah Nasional, produk ini bisa disediakan bank non-syariah asal amanah.

Kini kembali ke soal apa perbedaan KTA syariah dan konvensional. Agar lebih jelas, kita akan bedah perbedaan itu poin demi poin.

KTA Syariah

Seperti umumnya produk dari lembaga keuangan syariah, khususnya bank, KTA syariah menggunakan akad khusus. Karakter produk syariah antara lain:

– Tanpa Bunga

Akad kredit layanan syariah berbeda dengan bank konvensional. Tak ada bunga floating, annual, dan lain-lain.

Bunga tak dipakai karena dipandang sebagai riba alias gak dibolehkan menurut hukum agama Islam. Perjanjian kredit yang dipakai antara lain murabahah (jual-beli), musyarakah mutanaqisah (bagi hasil), dan ijarah wa iqtina (sewa-menyewa dengan perubahan kepemilikan).

Meski gak ada bunga, bukan berarti bank syariah gak mendapat keuntungan dari layanan mereka. Dalam akad tersebut ada perjanjian seberapa besar keuntungan yang bisa didapat bank.

Intinya adalah kedua pihak harus sama-sama setuju atas perjanjian kredit yang diteken. Ini termasuk tenor dan risiko yang menyertai, misalnya nasabah meninggal ketika masih ada cicilan.

– Pasti halal

Karena menggunakan konsep syariah, otomatis produk yang ditawarkan bisa dipastikan kehalalannya. Bagi muslim, masalah halal dan haram amat penting.

Salah satu tujuan keberadaan bank syariah adalah menjembatani warga muslim yang ingin lebih mendapat kepastian tentang kehalalan produk perbankan yang mereka butuhkan.

– Ada pengawas khusus

Dalam bisnis perbankan syariah, ada Dewan Syariah Nasional yang bertugas sebagai pengawas khusus masalah kesyariahan. Dewan Syariah Nasional berada di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia.

Bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, Dewan Syariah Nasional mengawasi sekaligus merumuskan aturan soal perbankan syariah. Kalau ada yang menyalahi aturan, bisa langsung ditindaklanjuti oleh lembaga ini.

KTA Konvensional

– Ada bunga

Layaknya bank biasa, terdapat bunga dalam produk KTA konvensional. Bunga yang berlaku dalam KTA biasanya flat alias tetap.

Sebab, periode cicilan umumnya pendek. Berbeda dengan kredit multiguna atau kredit pemilikan rumah (KPR), yang bisa sampai puluhan tahun.

– Diawasi OJK dan BI

Pengawas perbankan konvensional adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Segala macam aturan bank mesti tunduk pada tata tertib yang dibuat OJK dan BI.

KTA Syariah dan Konvensional
Pastinya harus yang diawasi oleh OJK ya (OJK/Detak)

Soal bunga, misalnya, ada batas yang ditetapkan agar nasabah gak dirugikan. Begitu juga dengan soal aturan menagih kredit seret. Bank dilarang menggunakan kekerasan dalam masalah ini.

– Lembaga selain bank

KTA konvensional gak hanya disediakan oleh bank. Ada juga badan usaha swasta yang menawarkan KTA seperti ini.

Tapi, sebelum mengaksesnya, baca syarat dan ketentuannya dengan cermat. Bila bunga mencekik, tinggalkan saja meski dijanjikan proses pencairan yang mudah. Cari lembaga yang kredibel, bukan asal buka usaha dengan modal dengkul.

Itulah perbedaan KTA syariah dan konvensional. Di luar poin-poin itu, KTA syariah dan konvensional sama saja.

Syarat yang ditetapkan, misalnya, harus ada dokumen identitas pribadi seperti KTP dan slip gaji. Yang pasti, gak diperlukan agunan alias jaminan dalam KTA.

Bisa disimpulkan bahwa KTA syariah lebih pas buat nasabah yang lebih menitikberatkan soal agama dalam perbankan, terutama kehalalan produk. KTA syariah pasti halal.

Selain itu, bank syariah umumnya mengalokasikan 2,5 persen dari keuntungan untuk zakat. Itu berarti nasabah ikut membantu amalan agama dalam soal zakat.

Adapun KTA konvensional cocok buat yang memilih layanan umum perbankan. Layanan bank konvensional pun lebih mudah diakses karena lebih gampang ditemukan ketimbang bank syariah.

Meski begitu, ada catatan bahwa bank syariah gak hanya melayani nasabah muslim. Nasabah non-muslim pun bisa mengakses layanan mereka selama mematuhi segala syarat yang berlaku.

Mau pilih KTA syariah atau konvensional, yang penting kamu sudah membandingkan secara cermat mana di antara keduanya yang paling baik. Jangan lupa juga sesuaikan dengan kemampuanmu dalam membayar cicilan ya!

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Butuh Dana, Coba Kredit Multiguna dengan Bunga Rendah Ini]

[Baca: Kamu Yakin Cicilan KPR Syariah Lebih Murah? Baca Ini Dulu Deh]

[Baca: Butuh Modal Usaha, Pilih KTA atau Kredit Multiguna?]

[Baca: Yuk, Kenalan dengan Investasi Reksa Dana Syariah, Siapa tahu Jodoh]

[Baca: Nabung di Bank Syariah Bukan Sekadar Ibadah Praktikkan Hadist Nabi]