Kisah Virgil Abloh, Lulusan Teknik Sipil yang Besarkan Brand Fashion Off-White

Kamu mungkin udah sering lihat orang yang pakai item busana berlabel Off-White di tempat-tempat hangout. Tapi, bisa jadi masih banyak dari kamu yang belum tahu soal asal-usul brand bikinan Virgil Abloh itu.

Ya, Off-White adalah brand karya desainer fashion asal Amerika Serikat yang juga berprofesi sebagai disc jockey (DJ) sekaligus produser musik itu. Meskipun baru berdiri pada tahun 2012 atau sekitar 6 tahun lalu, brand yang berkantor pusat di Milan, Italia ini udah mampu ‘berbicara’ di bisnis fashion kelas menengah ke atas dunia.

Item fashion keluaran Off-White sendiri terbilang unik. Selain kerap menggunakan gaya desain huruf kapital dan garis-garis yang sederhana, rancangan Virgil Abloh kadang juga menawarkan tema dekonstruktif dan asimetris.

Virgil Abloh mengusung konsep “streetwear mewah” dalam mem-branding karya-karyanya. Jadi ya jangan heran kalau barang-barang Off-White, meskipun tergolong streetwear, harganya bisa belasan bahkan puluhan juta.

Penasaran gak siapa sih Abloh dan kenapa dia bisa membuat brand-nya meroket cuma dalam waktu yang terbilang singkat? Simak selengkapnya dalam ulasan enam karakter pebisnis yang dimiliki seorang Virgil Abloh berikut yuk!

1. Belajar dari orangtua

Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)
Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)

Dikutip dari Vogue, Virgil Abloh lahir pada 30 September 1980 di pinggiran Kota Chicago, Amerika Serikat. Kalau begitu, berarti usianya sekarang baru 38 tahun lho! Udah sukses aja ya.

Nah, orangtua Abloh ini adalah imigran dari Ghana. Sang ibu adalah seorang penjahit pakaian. Dari sang ibulah Abloh mengerti sedikit banyak soal merancang dan menjahit pakaian.

Gak cuma itu, konon sang ibu jugalah yang mengajari Abloh apa kiat-kiat yang harus dilakukan untuk menjalankan usaha jahitan. Sekarang, kamu udah tahu kan kenapa lelaki ini jago banget dalam urusan rancang-merancang busana.

2. Gak menyia-nyiakan ilmu

Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)
Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)

Jadi bos sebuah perusahaan fashion ternama seperti Off-White mungkin gak pernah kebayang sama Virgil Abloh. Ya wajar aja, soalnya dia aja kuliah di jurusan teknik sipil, sesuatu yang amat berlawanan dengan profesinya sekarang.

Sebenarnya Abloh ini hanya mengikuti keinginan sang ayah yang kepengin banget anaknya jadi insinyur teknik sipil. Sebagai anak yang baik, Abloh ya ikut aja arahan itu dengan kuliah di University of Wisconsin-Madison dan lulus pada tahun 2002. Gak cuma itu, ia ngelanjutin kuliah dan meraih gelar Master of Architecture di Illinois Institute of Technology tahun 2006.

Meskipun latar belakangnya ilmu bangunan, Abloh ini pada dasarnya punya darah seni yang kental. Jadi, bekal edukasi formal ini bikin dia jadi makin kreatif dalam mengembangkan passionnya di bidang fashion.

Selain itu, founder Off-White ini percaya bahwa gak ada ilmu yang sia-sia. Banyak hal di teknik sipil yang ia pelajari dan ternyata berguna dalam mengembangkan bisnisnya. Misalnya aja soal kerja multitasking.

“Semua yang kamu pelajari tidak pernah sia-sia,” kata Abloh seperti dikutip dari Badgerherald.

3. Lebih percaya pada passion

Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)
Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)

Punya gelar tinggi dan bisa aja mulai meniti karier di bidang arsitektur, Virgil Abloh memilih ngikutin passionnya. Awalnya ia kerja magang di kantor brand fashion high-class Fendi pada tahun 2009. Nah di situ, ia ketemu sama Kanye West, rapper yang jadi suami Kim Kardashian.

Dari pertemuan itu, keduanya mulai akrab. West menjadikan Abloh sebagai creative director di agensi kreatifnya, DONDA. Di situ, dia terlibat dalam pembuatan album musik Watch the Throne milik Kanye West dan Jay Z tahun 2011.

4. Gak pernah lelah mengasah kreatifitas

Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)
Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)

Mulai punya bekal yang cukup, Abloh lalu mendirikan perusahaan pertamanya yang diberi nama Pyrex Vision pada tahun 2012. Pyrex Vision ini adalah semacam butik kecil yang menjual streetwear fashion.

Sadar bahwa ia belum punya nama, Virgil Abloh gak mau terlalu gegabah meluncurkan brand sendiri untuk karyanya. Abloh memilih membeli barang-barang stok lama karya rumah desain Ralph Lauren dengan harga relatif murah, yakni US$ 40 atau sekitar Rp 583 ribu dengan kurs nilai tukar sekarang.

Lantas, ia merombak barang-barang tersebut menjadi sebuah karya baru. Setelah itu, ia menjualnya kembali dengan harga US$550, berkali-kali lipat lebih mahal dari harga semula.

Produknya laris, namun Abloh menutup gerainya setahun kemudian. Alasannya, sejak awal Pyrex Vision ini hanyalah eksperimen seni saja, dan Abloh gak pernah berniat menjadikannya sebuah perusahaan komersial.

Apa yang dilakukan Abloh ini adalah cara dia belajar untuk mengasah kreatifitas sekaligus mengetahui konsep apa yang harus ia usung untuk bisa stand-out di industri fashion.

5. Mendirikan bisnis sesungguhnya dengan penuh percaya diri

Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)
Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh. (Instagram/@virgilabloh)

Akhirnya, pada tahun 2013, Abloh meluncurkan Off-White, brand yang menawarkan konsep “streetwear kelas atas”. Off-White sendiri dimaknai sebagai “area abu-abu antara hitam dan putih”.

Kalau diperhatikan, memang karya-karya Virgil Abloh ini berbau “abu-abu”, keluar dari gaya fashion mainstream. Tapi, justru konsep itu yang jadi kekuatan tersendiri buat Off-White.

Gak tanggung-tanggung juga, Abloh mendirikan kantor pusat Off-White di Milan, Italia, kota yang jadi salah satu pusat mode dunia. Tapi, Abloh tetap tinggal bersama istrinya Shannon Sundberg dan dua anaknya Lowe dan Grey di Lincoln Park, Chicago, Amerika dan rela bolak-balik AS-Italia demi bekerja.

6. Virgil Abloh menjalin kerja sama dengan banyak brand ternama

Karya Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh bekerja sama dengan Nike. (Instagram/@virgilabloh)
Karya Founder dan CEO Off-White, Virgil Abloh bekerja sama dengan Nike. (Instagram/@virgilabloh)

Abloh gak lantas merasa puas diri. Walaupun udah punya brand sendiri, Abloh merasa masih perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.

Salah satunya adalah ketika dia didapuk produsen apparel sepatu Nike untuk merancang koleksi sepatu The Ten. Di sini, ia kembali membuktikan kemampuan dekonstruksi dan rekonstruksinya. Ya, Abloh merombak sejumlah sepatu best-seller Nike.

Selain itu, ia juga bermitra dengan raksasa retail furnitur asal Swedia, IKEA. Koleksi furnitur rancangan lantas diberi nama Markerad dan akan dirilis pada tahun 2019 mendatang.

Yang terbaru, pada 25 Maret 2018, Abloh ditunjuk sebagai artistic director Louis Vuitton. Ia dipercaya untuk merancang koleksi busana siap pakai untuk perusahaan mode Perancis kelas atas itu.

Ya, sebagai desainer yang tergolong masih hijau, Abloh gak mau tinggi hati dan tetap belajar dari rumah mode yang udah jauh lebih lama jadi pemain di dunia fashion itu.

Itulah enam karakter pebisnis yang dimiliki oleh Virgil Abloh, pria sukses di balik brand Off White. Dari kisah Abloh ini, kita tahu bahwa kemauan belajar dan ketekunan akan mengantar kita pada kesuksesan.