Kisah Pilu di Balik Suksesnya Si Ratu Polkadot Yayoi Kusama

Kalau udah pernah ke Museum Macan, nama Yayoi Kusama pasti gak asing lagi buatmu. Karya seninya bahkan mungkin udah tampil di feeds Instagrammu.

Museum Macan bakal buka sampai September 2018. Semua yang ada di sana ya karya Yayoi ini. Jumlahnya mencapai 130.

Semua punya motif yang sama: pola polkadot dengan perpaduah warna yang unik. Karyanya mudah dinikmati bahkan buat orang yang sebetulnya gak paham apa-apa soal seni rupa.

Di balik karya-karya unik Yayoi, ada kisah pilu sekaligus inspiratif. Gak banyak yang tahu mengenai cerita ini.

 

Masa kecil penuh kekerasan dan kejadian traumatis

Yayoi Kusama
Instalasi ruang The Spirit of the Pumpkins Descended into the Heavens (whatsnewjakarta)

Yayoi Kusama emang lahir dari keluarga berada. Tapi itu gak lantas bikin hidupnya bahagia.  Ia tinggal di Matsumoto, Nagano, bersama orangtuanya. Ibunya sering memberi hukuman fisik, sementara bapaknya diketahui sering berselingkuh.

Gak jarang sang ibu meminta Yayoi memata-matai bapaknya yang sedang berselingkuh hingga ia menjadi trauma terhadap apa pun yang berkaitan dengan seksualitas.

 

Berhalusinasi dari kecil

Yayoi Kusama
(Image: trendtoronto)

Kejadian-kejadian traumatis ini bikin Yayoi kecil (10 tahun) gampang banget mengalami halusinasi. Ia diduga menderita gangguan mental bernama Rijinsho.

Halusinasinya adalah, ia sering melihat pola polkadot atau bintik-bintik, cahaya, aura, hingga merasa benda-benda mati menjadi hidup dan berbicara padanya. Ia bahkan melihat kain seakan-akan membungkus dirinya.

Keriuhan dalam kepalanya inilah yang sering ia tuangkan menjadi karya seni.

Kecintaannya terhadap seni emang telah ada sejak ia kecil, tapi sayangnya ditentang habis-habisan oleh sang ibu. Buat menghindari kekerasan fisik dari ibunya, ia pun mendaftar menjadi siswi kelas seni di Kyoto dan rutin melukis di asramanya.

Sang ibu mengetahui hal tersebut dan makin kesal. Yayoi remaja merasa amat tertekan hingga mengalami gangguan saraf dan memerlukan perawatan psikiater.

Mungkin itulah kenapa karya pertama Yayoi Kusama berupa lukisan yang dipenuhi bintik-bintik dan perempuan Jepang berkimono. Banyak yang menduga, perempuan tersebut adalah representasi sang ibu yang ditutupi dan dihancurkan kumpulan bintik-bintik.

 

Pindah dan berkarya di New York

Yayoi Kusama
Karya Yayoi Kusama tahun 1960, White No.28 (news.artnet)

Pada usia 27 tahun, ia memutuskan pindah ke Amerika Serikat karena merasa masyarakat Jepang pada masa itu terlalu sinis terhadap perempuan. Lingkungan yang terlalu konservatif di Tokyo juga bikin dia gak bebas berekspresi.

Di Amerika, ia gak pernah berhenti berkarya. Ia sempat mengadakan pameran lukisan di Zoe Dusanne, Seattle. Pada 1963, ia mulai bikin instalasi cermin gak terhingga berisi bola neon atau yang dikenal sebagai Infinity Mirror. Selanjutnya, ia bereksperimen dengan instalasi ruangan yang mengkombinasikan cermin, cahaya, dan musik.

Tahun-tahun berikutnya adalah masa produktif Yayoi. Namun, bersamaan dengan itu ia jadi sering dirawat di rumah sakit. Faktornya? Kelelahan. Beberapa karyanya ia jual biar kondisi keuangannya tetap stabil.

Pulang ke Jepang dan menetap di rumah sakit jiwa

Yayoi Kusama
Yayoi melukis di ruang studionya (1995-2015.undo)

Pada 1973, Yayoi akhirnya kembali ke Jepang karena kesehatannya memburuk. Walau gitu ia tetap produktif menulis novel, cerita pendek, dan puisi. Sayangnya, menjadi pedagang seni gak bikinnya sejahtera. Ia bangkrut beberapa tahun kemudian.

Empat tahun kemudian ia terdiagnosa menderita Obsessive Compulsive Disorder dan Basedow’s Disease. Ia akhirnya menetap secara permanen di rumah sakit jiwa di Tokyo buat menjalani perawatan medis.

Di sana ia malah membangun studio buat melukis dan menghasilkan karya seni lainnya. 

Awal kesuksesannya hingga sekarang

Yayoi Kusama
Yayoi Kusama bersama karyanya, Pumpkin painting (webelieveinbeauty)

Namanya sempat dilupakan beberapa tahun saat menetap di rumah sakit. Namun, pada 1993, ia kembali jadi bahan perbincangan setelah memamerkan karyanya di Venice Biennale. Ia bikin patung labu kuning raksasa yang penuh dengan pola bintik hitam. Labu ini dianggap sebagai alter ego alias potret diri Yayoi.

Pada tahun-tahun berikutnya, karyanya berhasil dipamerkan di berbagai negara. Salah satunya adalah Narcissus Garden yang telah dipamerkan hampir di seluruh dunia.

Jiwa seni Yayoi dituangkan dalam berbagai media, mulai dari lukisan, film, tulisan, hingga fashion. Ia pernah bikin karya seni pada lipgloss edisi terbatas merek Lancome, mendesain interior outlet brand Louis Vuitton, dan bekerja sama dengan Marc Jacobs.

Kreativitas dan semangatnya gak pernah putus walau banyak hambatan yang ia terima.

Kisah Yayoi Kusama menjadi bukti nyata kalau berkesenian ternyata juga bisa bikin kita banyak uang.

Karya-karya Yayoi bernilai dan dihargai tinggi banget. Pada tahun 2014 aja, salah satu  lukisannya yang bernama White No.28 dihargai hingga $ 7,1 juta atau sekitar Rp 85 miliar (dengan kurs rupiah pada tahun 2014, sekitar Rp 12 ribu).

Kisah Yayoi Kusama juga jadi contoh nyata bahwa melalui penyaluran yang positif, bukan gak mungkin yang kamu anggap sebagai masalah malah jadi ladang rezeki.