Kinerja 10 Reksadana Mandiri Hingga Mei 2018

Reksadana Mandiri emang kerap jadi pilihan investor lantaran returns-nya yang cukup menjanjikan. Selain itu, investasinya bisa dimulai dengan dana Rp 50 ribu aja.

Tapi apakah benar, semua reksadana berlabel Mandiri ini kinerjanya bagus?

Pada kesempatan kali ini, MoneySmart mencoba merangkum update beragam jenis reksadana berlabel Mandiri. Reksadana tersebut berasal dari berbagai jenis, ada yang pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham, hingga syariah.

Pokoknya, seluruh produk reksadana yang dikelola oleh PT Mandiri Manajemen Investasi ini punya returns yang beragam. Ada yang prospeknya sedang bagus, ada juga yang lagi turun.

Penasaran dengan reksadana-reksadana yang dimaksud? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Reksadana Mandiri Investa Pasar Uang (MIPU)

reksadana mandiri
Walau bisa dimulai dengan bujet kecil, bukan berarti pasti untung (Kontan)

MIPU merupakan satu-satunya produk reksadana Bank Mandiri jenis pasar uang yang ditawarkan di situs Mandiri Investasi. Reksadana yang diluncurkan pada 24 Desember 2004 ini total dana kelolaannya mencapai Rp 10 triliun.

Komposisi portofolio reksadana ini adalah 57,41 persen pasar uang, dan 42,59 persen obligasi. Rincian portofolio mereka adalah sebagai berikut:

– Bukopin (deposito)
– Citibank (deposito)
– FIF (obligasi)
– Indosat (obligasi)
– Sulut (deposito)  

Minimal pembelian reksadana MIPU ini tergolong murah lho. Harga NAB per UPnya pada 7 Mei 2018 adalah Rp 1.356,68.

Dan menurut informasi di situs Bareksa pada 7 Mei 2018, reksadana ini telah menduduki peringkat 65 di urutan reksa dana pasar uang karena kinerjanya cukup baik.

Bila kamu tertarik membeli reksadana ini, maka kamu bisa membelinya di Bareksa atau situs Mandiri Investasi.

[Baca: Ini Dia 10 Reksadana Saham Terbaik Kuartal I 2018, Yuk Dipilih!]

2. Reksadana Mandiri Investa Dana Utama (MIDU)

MIDU merupakan varian reksadana pendapatan tetap yang dikelola oleh PT Mandiri Manajemen Investasi. Reksadana MIDU diluncurkan pada 17 September 2007 silam, dengan total dana kelolaan mencapai Rp 139 miliar.

Komposisi portofolio produk reksadana Bank Mandiri ini adalah 15,73 persen di instrumen pasar uang, dan 84,27 persen di obligasi. Rinciannya adalah sebagai berikut:

– Bank Bukopin (Deposito)
– Chandra Asri Petrochemical (Obligasi)
– Pemerintah (Obligasi)
– Sumber Alfaria Trijaya/Alfamart (Obligasi)
– Waskita Karya (Obligasi)

Terhitung pada tanggal 7 Mei 2018, harga NAB per UP reksadana Mandiri ini dibanderol di Rp 2.300,23.

Berdasarkan informasi dari Bareksa, returns yang dihasilkan oleh MIDU per tahun malah cuma 0,35 persen. Namun buat returns per harinya, dikabarkan bisa mencapai 0,08 persen.

Di situs Mandiri Investasi, kinerja MIDU emang sempat meningkat pada 19 April 2018. Tetapi terlihat adanya penurunan kinerja yang cukup signifikan pada 26 April.

3. Reksadana Mandiri Investa Dana Obligasi Seri II (MIDO II)

Varian reksadana pendapatan tetap dari PT Mandiri Manajemen Investasi adalah MIDO II. Reksadana ini diluncurkan pada 8 Desember 2004,dengan dana kelolaannya mencapai Rp 547 miliar. Harga NAB per UP MIDO II di 7 Mei 2018, dihargai Rp 1.175,19.

Komposisi porfolio MIDO II adalah 9,04 persen di instrumen pasar uang, dan sisanya di obligasi. Detailnya adalah sebagai berikut:

– FR0053 (obligasi)
– FR0056 (obligasi)
– FR0059 (obligasi)
– FR0070 (obligasi)
– FR0075 (obligasi)

Meski terlihat murah, namun kinerja reksadana Mandiri yang satu ini sedang kurang baik alias menurun. Portal investasi Bareksa mencatat, pada 7 Mei 2018 returns reksadana ini selama setahun adalah -1,82 persen.

Apakah ini merupakan sinyal bahwa berinvestasi di reksadana ini gak baik? Belum tentu. Pada 11 April lalu kinerja MIDO II cukup baik kok.

Jika kamu membelinya sekarang, maka kamu cukup beruntung karena harga NAB per UPnya lagi turun. Bisa jadi harganya naik signifikan nanti.

4. Reksadana Mandiri Investa Dynamic Balanced Strategy (MIDBS)

Setelah pendapatan tetap, sekarang mari kita tengok rapor reksadana Mandiri campuran. Pertama adalah MIDBS yang diluncurkan pada 20 November 2013, dan memiliki dana kelola sebesar Rp 921 miliar.

Komposisi portofolio produk reksadana Bank Mandiri adalah 41,72 persen di pasar uang, 2,23 persen di obligasi, dan 56,05 persen di saham. Berikut detailnya:

– Bank BTPN (Deposito)
– Bank BCA (Saham)
– Bank Jabar (Deposito)
– Bank Muamalat (Deposito)
– Bank BTN (Deposito)

Alokasi saham lainnya:

Consumer goods 14,43 persen
– Infrastruktur 6,51 persen
– Industri 3,92 persen
– lainnya 11,37 persen

Harga NAB per UP MIDBS per 7 Mei 2018 adalah Rp 1.180,31. Sayangnya, performanya lagi kurang baik. Bareksa melaporkan bahwa returns per tahunnya melebihi – 8 persen.

[Baca: Mau Investasi Reksadana Campuran? Ini 10 Produk Terbaik di 2017]

5. Reksadana Mandiri Investa Aktif

reksadana mandiri
Siapapun bisa investasi reksadana kok (Kontan)

Reksadana Mandiri Investa Aktif juga merupakan produk reksadana campuran yang dikelola PT Mandiri manajemen Investasi. Reksadana yang diluncurkan pada Maret 2005 silam ini dana kelolaannya mencapai Rp 35 triliun.

Sementara itu komposisi portofolionya 5,45 persen di pasar uang, saham 49,52 persen, dan obligasi 45,03 persen. Berikut detail dari komposisi portofolio reksadana ini:

– Bank BCA (Saham)
– BRI (Saham)
– HM Sampoerna (Saham)
– Pemerintah (Obligasi)
– Unilever Indonesia (Saham)

Buat harga NAB per UPnya mencapai Rp 3.671,26. Namun sayang banget, kinerjanya sedang gak bagus. Bareksa melaporkan bahwa returns per hari reksadana ini adalah – 0,56 persen, sedangkan buat per tahunnya adalah – 8,41 persen.

6. Reksadana Mandiri Ekuitas Dinamis (MIED)

Sejatinya, PT Mandiri Manajemen Investasi punya delapan reksadana saham, tapi mari kita cek reputasi dua reksadana saham mereka. Pertama adalah yang returns-nya paling tinggi di antara yang lain dan yang terakhir adalah yang terendah.

MIED merupakan reksadana Mandiri jenis saham. Reksadana ini diluncurkan pada Mei 2011 dan memiliki dana kelolaan sebesar Rp 373 miliar. Komposisi portofolionya 5,22 persen di pasar uang, dan sisanya di saham. Detailnya adalah sebagai berikut:

– Bank Tabungan Negara (Saham)
– Bukit Asam (Saham)
– Kresna Graha Investama (Saham)
– M Cash Integrasi (Saham)
– Surya Citra Media (Saham)

Alokasi saham lainnya:

– Properti (17,75 persen)
Trading (16,57 persen)
Mining (16,10 persen)
– Lainnya (40,70 persen)

Meski tercatat sebagai reksadana sahamnya Mandiri yang teraman, tapi kinerjanya juga sedang gak baik. Per tanggal 7 Mei 2017, Bareksa mencatat bahwa returns reksadana yang harga NAB per UPnya Rp 929,68 ini – 0,35 per tahun. Dan dalam sehari – 1,11 persen.

Wah rugi dong ya kalau gitu? Walaupun rugi, kamu tentunya bisa beli dengan harga murah bukan? Ketika harganya naik tinggal jual lagi.

7. Reksadana Mandiri Investa Cerdas Bangsa (MICB)

MICB merupakan salah satu produk reksadana saham Mandiri yang kinerjanya paling buruk per 7 Mei 2018. Bareksa mencatat bahwa returns reksadana ini pertahun anjlok hingga – 13,06 persen.

MICB yang diluncurkan pada Juli 2008 memiliki dana kelolaan sebesar Rp 987 miliar. Komposisi portofolionya adalah 3,07 persen di pasar uang, dan sisanya di saham. Berikut detail alokasi sahamnya.

Banking (31,81 persen)
Consumer goods (27,99 persen)
– Infrastruktur (12,57 persen)
– Industri (6,61 persen)
– Lain-lain (18,44 persen)

Harga NAB per UP reksadana ini pada 7 Mei 2018 adalah Rp 2.420,21. Tertarik beli? Mumpung nilainya lagi anjlok tentu harganya di bawah rata-rata lho. Pada 19 Februari 2018, harganya masih Rp 2.900an. Bisa aja jadi nanti bakal naik drastis karena ini adalah reksadana saham.

[Baca: Investasi Saham Vs Reksadana Saham, Ini Perbedaannya!]

8. Reksadana Mandiri Investa Atraktif Syariah (MITRAS)

Kalau yang tadi adalah reksadana saham konvensional, nah sekarang adalah reksadana Mandiri syariah. Kinerja MITRAS juga belum bisa dikatakan baik pada Mei 2018 ini. Menurut laporan dari Bareksa, tercatat bahwa per 7 Mei 2018, returns per tahun reksadana ini – 7,72 persen.

Komposisi MITRAS adalah 6,93 persen pasar uang, dan sisanya di saham. Apa aja sahamnya? Berikut detailnya.

– Astra International (saham)
– Chandra Asri Petrochemical (saham)
– Telekomunikasi Indonesia (saham)
– Unilever Indonesia (saham)
– United Tractors (saham)

Alokasi lima sektor saham terbesar:

Consumer goods (20,59 persen)
– Infrastruktur (18,60 persen)
Trading (12,73 persen)
Mining (11,37 persen)
– lainnya (32,28 persen)

9. Reksadana Mandiri Investa Dana Syariah (Midsya)

Midsya adalah jenis pendapatan tetap, tapi yang ini tentu digolongkan ke reksadana Mandiri syariah. Komposisi portofolio investasinya 7,23 persen di pasar uang sisanya di sukuk. Berikut detailnya.

– Adira Dinamika Multifinance (Sukuk)
– Indosat (Sukuk)
– Negara Ritel (Sukuk)
– Tiga Pilar Sejahtera Food (Sukuk)
– XL Axiata (Sukuk)

Harga NAB per UP reksadana Mandiri ini per 7 Mei 2018 adalah Rp 3.360,74. Walaupun Bareksa mencatat bahwa keuntungan pertahunnya – 0,24 persen, tapi reksadana ini sedang mengalami peningkatan kinerja lho. Return per harinya lagi naik dan mencapai 0,07 persen per Mei 2018.

Kinerja terbaik reksadana ini ada pada 11 April 2018, di mana harga NAB per UPnya masih bertengger di Rp 3.378,92.

10. Reksadana Mandiri Investa Syariah Berimbang (MISB)

reksadana mandiri
Apa jenis reksadana yang mau kamu beli? Pertimbangkan risikonya ya (Kontan)

Ini juga produk reksadana syariah Mandiri, namun jenisnya adalah campuran. Reksadana ini diluncurkan pada November 2004, dan memiliki dana kelolaan sebesar Rp 32 miliar.

Bareksa mencatat, per 7 Mei 2018 return per tahunnya masih – 0,88 persen. Tapi mulai ada kenaikan kinerja nih sebesar 0,02 persen. Harga NAB per UPnya juga ada di Rp 3.036,13.

Komposisi portfolionya, 23,57 persen di pasar uang, 14,58 persen di saham, dan 61,85 di obligasi. Berikut rinciannya:

– Adira Dinamika Multifinance (Sukuk)
– Bank Bukopin Syariah (Deposito)
– Bank Muamalat (Deposito)
– Negara Ritel (Sukuk)
– XL Axiata (Sukuk)

Demikianlah rapor reksadana Mandiri pada Mei 2018. Terlihat kalau yang paling stabil adalah reksadana pasar uang, tapi return-nya gak besar. Bahkan masih lebih kecil ketimbang deposito ketimbang reksadana pasar uangnya Mandiri.