Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Bergantung Pada Kita Juga

“San, ada lowongan ni. Gaji Rp 20 juta per bulan, kerjanya gampang,” kata Indro kepada Sanwani. “Kerja apaan tuh?” jawab Sanwani bersemangat karena memang sedang cari kerja.

Table Of Content [ Close ]

 

“Nggosokin gigi macan,” kata Indro lagi sambil ketawa ngakak. Sanwani langsung merengut. “Gile lu, Ndro.”

Pernah gak denger lelucon itu? Pesan moral apa yang dapat diambil dari guyonan itu?

 

Meski ditawari pekerjaan dengan gaji berlimpah, orang akan berpikir seratus kali untuk menerimanya kalau keselamatan jiwanya terancam saat bekerja.

 

macan
Tuh bersihin deh gigi macan. Gajinya buat beli “rumah” 1 x 2 meter.

 

Di dunia kerja, keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan sangatlah penting. Kalau menyimak demo buruh yang rutin dilakukan tiap tahun, salah satu tuntutan mereka adalah soal keselamatan dan kesehatan kerja.

 

Soalnya memang harus diakui bahwa di Indonesia keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan masih dianggap remeh. Masih banyak perusahaan yang yang cuek bebek terhadap keselamatan kerja pegawainya.

 

Terkait dengan itu, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mencanangkan bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3) pada 2015. Pencanangan bulan K3 ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pemerintah, pengusaha, dan pegawai dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja.

 

Pemerintah sebagai lembaga berwenang berkewajiban mengawasi kondisi keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan. Tapi, parahnya, saat seharusnya memeriksa langsung kondisi itu, gak sedikit pejabat pemerintah malah cuma masuk ruangan direksi perusahaan.

 

pejabat nerima amplop
Kalau dimintai suap ama pejabat pemerintah, kasi aja amplop, tapi di dalemnya kasi kertas dengan tulisan “Anda belum beruntung, coba lagi”. Hehehe

 

Lalu keluar-keluar, malah angpau yang sudah ada di tangan mereka. Gak peduli apakah pegawai perusahaan itu sudah ikut BPJS Ketenagakerjaan (dulu Jamsostek) atau belum. Mereka menyatakan perusahaan itu sudah menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja.

 

Nah, lewat program K3 itu, Menteri Hanif berharap tak ada lagi praktek semacam itu. Dan kalau ada yang nemuin praktek kayak gitu, diharapkan untuk melapor ke pihak berwenang, misalnya lewat layanan LAPOR.

 

Pengusaha dan pegawai juga diminta berkontribusi dalam pelaksanaan program tersebut. Selama ini kaum pekerja identik menjadi korban perusahaan yang mengabaikan keselamatan kerja.

 

Padahal masih ada saja pekerja yang ogah peduli terhadap keselamatannya sendiri. Contohnya ogah pakai helm saat kerja di proyek.

 

Berikut ini contoh hal yang bisa dilakukan oleh pengusaha dan pekerja dalam rangka pelaksanaan bulan K3:

 

Pengusaha

BPJS untuk pegawai
Kalau belum dikasi BPJS ama bos, tuntut aja. Kita sebagai pekerja berhak dapet BPJS. Tapi bayar juga iurannya yak

 

1.) Mendaftarkan pekerja ke BPJS Ketenegakerjaan. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Jaminan Kesehatan Nasional. Jadi kalau perusahaan melanggar, bisa dipidana.

 

2.) Menyediakan peralatan pelindung diri bagi pekerja. Pengusaha juga bisa dituntut kalau abai dalam hal ini, karena sudah diatur di Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri.

 

Alat pelindung diri ini contohnya:

  • Helm dan sepatu keselamatan buat pekerja proyek
  • Kacamata las buat pengelas
  • Masker dan kaus tangan buat pekerja pabrik kimia
  • Jas hujan buat pekerja lapangan yang harus bertugas walau hujan

 

3.) Mengontrol mesin produksi. Meski tak ada aturan khusus yang mewajibkan pengontrolan mesin produksi, pengusaha wajib melakukannya. Sebab, ini berhubungan erat dengan pekerja yang mengoperasikannya. Kalau gak pernah dikontrol, bisa-bisa operatornya mengalami kecelakaan saat bekerja karena mesin rusak.

 

Pekerja

orang di proyek bangunan, ga pakai helm safety
Kalau nyawanya dobel, boleh deh kerja di proyek gak pakai helm

 

1.) Membayar iuran BPJS sesuai dengan ketentuan. Setelah mendapat jaminan dari BPJS, kita wajib membayar iuran menurut aturan, yaitu 2 persen dari gaji bulanan.Biasanya gaji itu dipotong secara otomatis per bulan. Tapi selama ini banyak pekerja yang menganggapnya sebagai beban, sehingga sering protes.

 

Apalagi kalau ada asuransi swasta juga di perusahannya. Kalau ada asuransi swasta lebih bagus. Kalau gak disediakan, bisa cari sendiri yang sesuai dengan kebutuhan.   [Baca: Pentingnya Asuransi Bagi Masa Depan Keuangan Anda]

 

2.) Mengenakan alat pelindung diri yang sudah disediakan. Jadi kalau sudah ada helm, jangan ngotot ogah memakainya dengan alasan apa pun. Apalagi kalau alasannya takut tatanan rambut rusak.

 

3.) Ikut merawat mesin produksi. Pekerja sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan mesin harus ikut merawatnya. Contohnya kalau ada sedikit problem langsung dilaporkan ke atasan agar diperiksa dan diperbaiki.

 

 

Pencanangan bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja oleh Menteri Hanif sangat patut diapresiasi. Tapi apresiasi saja gak cukup. Kita harus terlibat di dalamnya.

 

 

 

Image credit :

  • https://ngenesgilak.files.wordpress.com/2011/12/20111212_082746_com-201012-000257-d.jpg
  • http://sinarharapan.co/foto_berita/49korupsi-ilustrasi2.jpg
  • http://berita.suaramerdeka.com/konten/uploads/2014/10/3jbpjs1-K3.jpg
  • http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2013/08/30/220004_proyek-pembangunan-rusunawa-khusus-pekerja_663_382.jpg