Kerja Merantau Mendingan Ngontrak atau Ngekost ya?

Artikel DuitPintar.com ini pernah ditayangkan oleh partner content kami, Malesbanget.com 

 

Senangnya bisa diterima kerja. Hepi? Pastinya iya. Eh ternyata penempatannya di daerah yang di luar domisili sekarang. Alasannya, kantor cabang di daerah lagi membutuhkan sumber daya manusia. Alhasil, keputusan kantor itu bikin kita jadi orang perantauan dong.

 

Mungkin enggak masalah kalau kantor cabang di daerah itu ada fasilitas wisma untuk karyawannya. Lha gimana kalau enggak ada? Adanya cuma fasilitas tunjangan sewa rumah. Kalau begini, enaknya pilih ngontrak atau ngekost ya?

 

Itu pasti pertanyaan yang kali pertama terlintas di kepala. Mengambil keputusan ngekos atau kontrak rumah ternyata bukan perkara gampang. Ada deretan pertimbangan. Mulai dari segi harga apakah tunjangan kantor cukup, lokasi, dan tetek bengek lainnya.

 

Biar enggak lama-lama nyut-nyutan di kepala, lebih baik jabarkan saja plus minus ngekos dan ngontrak.

 

Beda Ngekos sama Ngontrak

Meski sama-sama nyewa, tapi ada perbedaan yang jelas antara ngekos dan ngontrak. Ngekos itu identik sama sewa kamar yang sudah komplet fasilitas penunjangnya. Seperti tempat tidur, lemari, meja, kadang plus pendingin ruangan dan kamar mandi di dalam.

 

[Baca: Buka Usaha Kos-kosan Ternyata Wajib Kantongi Izin dari Pemda]

 

 

Beda sama kontrakan yang biasanya berwujud rumah petakan di mana si pengontrak mesti menyiapkan sendiri perabotannya. Praktis, bakalan tambah lagi pengeluaran untuk membuat kontrakan menjadi layak dihuni. Entah itu kasur, lemari, sampai peralatan dapur.

 

Perbedaan berikutnya adalah soal aturan main. Jika ngekos, maka semua penghuni wajib tunduk pada aturan kos-kosan yang dibuat sama pemilik. Misalnya saja jam kunjungan tamu. Kadang pemilik membatasi jam kunjungan tamu maksimal pukul 10.00 malam.

 

ngontrak atau ngekost

 Ngekost biasanya lebih murah nih, tapi usahain dapet ibu atau bapak kost yang asik ya bro!

 

 

Terus aturan jam kunci pintu. Ini bisa bikin repot kalau keseringan lembur di kantor. Bisa-bisa enggak dibukain pintu sama penjaga kosnya. Sekali dua kali mungkin ga masalah. Si penjaga kos masih bersedia bukain setelah digedor-gedor. Lha, kalau keseringan?

 

Lain halnya kalau ngontrak di mana kebebasan ada di tangan kita. Mau pulang kapan saja tak masalah. Wong kunci pintu kita yang pegang.

 

Begitu pun soal kebebasan ‘mengisi’ perabotan. Kalau ngekos mungkin minta izin dulu. Apalagi kalau berhubungan sama listrik, katakanlah komputer, mini compo, kompor listrik, dan sebagainya. Sedangkan ngontrak mah suka-suka kita saja.

 

Pengeluaran Ngekos vs Ngontrak

Masih ada lagi bedanya? Masih dong. Yang utama beda di segi harga yang pastinya sangat sensitif. Harga ngekos dan ngontrak tentu beda. Biasanya, harga sewa kontrakan akan jauh lebih mahal daripada sewa kos-kosan.

 

Rata-rata harga kos di kisaran Rp 500 ribu untuk fasilitas standar. Harga bisa bervariasi lagi kalau ditambah fasilitas kulkas atau pendingin ruangan. Kemudian sewanya dibayar bisa bulanan, tiga bulanan atau maksimal enam bulanan.

 

Sedangkan kontrakan dalam bentuk rumah rata-rata sewanya tahunan. Mulai dari Rp 2 juta sampai tak terhingga. Harga sangat tergantung dari lokasi, kondisi, luas, dan aksesnya.

 

Itu baru dari segi harga sewanya. Berikutnya adalah soal kemungkinan kerusakan. Kerusakan yang terjadi sama kos-kosan itu tanggung jawab pemilik. Misalnya atap bocor, engsel pintu rusak, pendingin ruangan mati, dan lain sebagainya. Tinggal komplen ke pemilik saja.

 

Sementara kalau ngontrak, semua kerusakan kita yang tanggung. Pemilik kontrakan menyerahkan semuanya ke kita. Saluran air mampet, genteng pecah, kusen dimakan rayap. Biar kontrakan itu nyaman lagi, mau enggak mau keluarin duit yang enggak sedikit untuk memperbaiki.

 

Cuma benefit lainnya dari ngontrak adalah bisa masak sendiri. Ini bisa menekan pengeluaran bulanan ketimbang jajan di luar. Memang sih awal-awal mesti ada pengeluaran tambahan untuk beli perlengkapan masak.

 

[Baca: Masak Sendiri atau Beli? Mana yang Paling Irit]

 

 

Ketika ngekos, lazimnya penghuni dilarang keras memasak sendiri. Alasannya, rentan kebakaran dan tak ada ruangan khusus memasak.

 

Tapi gak mustahil juga kos-kosannya nyediain dapur buat penghuninya yang mau masak. Cuman  ya tetap saja, masaknya paling gak lebih dari indomie atau bikin sop.

 

ngontrak atau ngekost

Masak sendiri sih hemat, tapi jangan diberantakin kayak kapal pecah juga kelesss

 

 

Lalu suka yang mana? Ngekos atau ngontrak? Tiap-tiap pilihan ada konsekuensi enak dan enggak enaknya. Sebenarnya sih ketika menentukan mau tinggal di kos atau kontrakan, besaran tunjangan dari kantor tak semata-mata jadi acuan.

 

Tinggal cek skala prioritasnya saja. Misalnya kalau masih sendiri dan tak bawa keluarga, bisa pilih kos-kosan. Begitu pun sebaliknya.

 

 

Atau sementara waktu bisa pilih ngekos dulu sebagai proses adaptasi sambil lihat kebijakan kantor soal mutasi. Bila ternyata cukup lama, bisa saja kemudian mencari kontrakan yang lebih menawarkan sisi privasi ketimbang ngekos.

 

[Baca: Ketimbang Lama-lama Ngontrak Mending Ambil KPR Bersubsidi]

 

 

 

Image Credit:

  • http://2.bp.blogspot.com/-9wi2Q7h87MQ/Va2fL4MtdcI/AAAAAAAABBs/RpW437W7oGA/s1600/kost3.jpg
  • http://gambar-rumah.com/attachments/solo/980632d1391678755-rumah-untuk-bisnis-kontrakan-dapur.jpg